GORESAN LUKA

GORESAN LUKA
12. Kematian


__ADS_3

Tubuh Naya semakin lemah dan suka pusing, tak ayal pula perutnya terasa diaduk dari dalam menyebabkan ia mual.


"hueekkkk....hueeekkk....hueekkk"


Maid senantiasa membantu Naya, karena Ezza sedang tak ada dirumah. Jadi mereka diembankan menjaga Naya dengan Extra dan penuh hati hati.


"nona...bagaimana? Apa saya panggilan dokter saja nona" tanya maid itu yang terus memijat tengkuk Naya.


"tidak usah, aku hanya masuk angin saja. Bisa aku minta tolong sama bibi"


"iya nona"


"buatkan aku teh susu hangat, aku ingin buat sendiri tapi keadaan ku masih sangat lemas...jadi tolong ya bi" lirih Naya masih lemas, kakinya sudah seperti jelly.


"tugas kami adalah melayani nona, apapun yang nona ucapkan adalah perintah untuk kami" membungkukan badan didepan Naya.


"baiklah....kalau begitu tinggalkan aku sendiri bi, aku ingin mandi"


"baik nona" ia langsung pergi dengan sopan meninggalkan Naya didalam kamar mandi sendirian.


Tatapan Naya berubah kosong, ia menatap dirinya sendiri dicermin. Tak lama setelah itu ia meraung dengan keras.


"AAAARGGGGGGG......." gadis itu memukul kepalanya sangat kuat ditambah ia menjambak sampai rambutnya rontok.


Jeritanya tak akan terdengar siapapun karena disetiap sudut tempat itu kedap suara.


"aku mohon jangan sampai itu terjadi" Naya menggigit jarinya sampai berdarah.


Naya menatap silet yang ada dilemari kecil, ia langsung mengambil benda tajam itu dengan tatapan aneh.


Menatap lengannya yang putih dan mulus, tanpa ada bekas apapun.


Srett


Srett


Srett


Tiga sayatan Naya ciptakan dilengan kanannya, ekspresi gadis itupun hanya diam seperti menikmati rasa sakitnya.


Darah menguyur begitu deras karena sayatan Naya begitu dalam, lalu ia menatap lagi ketangan sebelah kiri.


Srett


Srett


Srett


Sayatan itu kembali tercipta dilengan kirinya, Naya melangkah menuju Bathtub. Ia mengisinya dengan air hangat.


Setelah terisi, Naya memasuki Bathtub dengan air yang telah berubah menjadi merah darah.


Ia berendam sambil memejamkan matanya, menikmati air hangat yang menenggelamkan tubuhnya.


Jika orang lain merasakan sakit, maka Naya hanya diam menikmati tanpa ekspresi apapun diwajahnya.


Tokk


Tokk


Tokk


Setelah tiga puluh menit lamanya, ketukan pintu telah Naya dengar.


"nona, teh anda telah siap" ucap Maid itu.


"baiklah, aku akan keluar"

__ADS_1


Naya membersihkan noda darah yang ada dikamar mandinya, Tak lupa pula Bathtub itu ia kuras.


Bathrobe tebal ditubuh Naya menutupi luka luka yang baru saja ia buat agar tak diketahui oleh siapa pun.


Ceklek


"silahkan nona" maid itu menunduk hormat, mempersilahkan Naya untuk duduk.


Ia memberikan teh pada Naya, lalu maid lainnya mengeringkan rambut gadis itu.


Memijat kaki bahkan bahu Naya, ada sekitar enam maid yang sedang mengelilingi Naya.


"sudah, kalian boleh pergi" pinta Naya, para maid berhenti dan langsung keluar dari kamar.


Naya mencari pakaian tebal dan serba panjang, ia selalu menggunakan pakaian seperti itu.


Naya tak berdanda atau apapun, ia hanya menggunakan farfum agar nampak segar.


Ia keluar dari kamar, mencari para maid agar mau menemaninya.


"bi..." panggil Naya amat lembut, membuat kepala maid itu tersenyum.


"ada apa nona"


"bisa menemaniku keapotik"


"nona ingin berobat, saya akan panggilan dokter Daffa untuk anda"


"tidak, aku hanya ingin membeli vitamin yang biasa aku konsumsi dan ke mini maret karena ada yang ingin aku cari" jelas Naya.


"baik Nona, saya akan menyiapkan pengawasan untuk anda"


"tidak bisakah kita pergi berdua saja"


"ini perintah tuan muda, kami tak berani melanggarnya"


...***...


Naya gemetar saat memegang benda pipih yang ada ditangannya, matanya memanas saat itu juga.


Setelah itu ia keluar dari toilet dengan pandangan kosong, tanpa ia sadari seseorang membekap mulutnya menggunakan sapu tangan yang sudah dicampur obat bius.


"lo harus ikut gue, karena ada tugas yang harus lo lakuin" gumam seseorang itu, langsung mengangkat tubuh Naya.


Ia memasukkan tubuh gadis itu Kedalam mobil hitam yang telah ia siapkan.


"gimana? Amankan?"


"aman! Mereka bego banget ngawasin cuma diluar, gak ada yang ikut Kedalam" kekeh seseorang itu.


"kita langsung kesana atau gimana?" tanya teman sekomplotannya.


"langsung kesana aja, keburu tu orang ngamuk"


"oke"


Mobil itu langsung melesat entah kemana tujuannya membawa Naya, apa lagi yang akan terjadi pada Naya nantinya.


"semoga aja ni cewe gak merugikan kita"


"gue yakin kita gak bakalan rugi, kualitasnya udah terjamin"


...***...


"bi..."


Kepala pelayan itu menghadap Ezza dengan tertunduk.

__ADS_1


"ya tuan muda"


"Naya mana?"


"nona ada dikamar tuan, tapi-"


"tapi apa bi"  tanya Ezza.


"wajah nona nampak pucat saat pulang dan nona sempat menghilang tadi"


BRAKKK


Ezza membanting segala barang yang ada diruangan "KENAPA KALIAN BISA LEPAS PENGAWASAN HAH!!!" murka Ezza.


Mereka semua bungkam tak ada yang berani membuka suara saat tuan mereka sedang marah.


Ezza langsung berlari menuju kamar gadisnya dengan cepat


Ceklek


Pintu kamar Naya terbuka karena Ezza, namun aneh banyak darah yang menodai kamar gadisnya.


Ia berjalan mengikuti arah darah itu, dengan tangan yang gemetar Ezza memutar hendle pintu kamar mandi.


Dengan cepat ia berlari saat Bathtub berubah menjadi kental oleh darah, wajah Naya pun tampak pucat.


"sa-sayang" lirih Ezza memegang kedua pipi Naya.


Dengan setengah kesadaran Naya berusaha membuka matanya, ia tersenyum lemah.


"E-.. Ezza" panggilnya terbatas bata.


Matanya kembali terpejam, sungguh rasa sakitnya tak kuat membuat ia membuka mata.


"hey buka mata kamu baby"


"uuhhukk"  darah yang banyak dan begitu kental keluar dari mulut Naya.


"baby" teriak Ezza kaget saat darah itu keluar begitu banyak.


"Z-za.. Ma-m-maafin a-akhu.." ucapnya berusaha membuka mata.


"sayang... Kita kerumah sakit ya" Ezza ingin menggendong Naya, namun gadis itu menahannya.


Ia mengeleng lemah "Uhhukkk..." darah itu semakin banyak keluar hingga mengalir membasahi lehernya.


"heyyy...."


"Z-za.. A-akhu ta-takut sen-sendiriannnhh.." tangis Naya amat pilu, suaranya yang lemah begitu menyayat bagi Ezza.


Tanpa terasa Ezza juga ikut menangis melihat Gadis didepannya saat ini.


"kamu gak akan sendiri baby, kita kerumah sakit. Okeyy"


"A-akhuu gakk ku-kuathhh.... Hisk" tangis Naya, darahnya juga tak berhenti keluar dari mulutnya.


Bathtub itu juga semakin kental akan darah, entah dari mana...


"kamu kuat sayang... Kamu gak akan sendiri"


"Ta-takuthhh zhaa.... Ta-tapi ak-huu juga ga-gak kuathh " ia meremas kemeja Ezza dengan mata terpejam.


"kuat sayang, aku mohon" air mata Ezza mengalir begitu deras saat melihat keadaan kekasihnya.


"ja-janganhh na-nangishh ya.." tangga Naya yang penuh darah mengusap air mata Ezza, hatinya juga sakit melihat Ezza seperti saat ini.


Tangannya juga perlahan terjatuh dengan mata juga tertutup rapat, membuat Ezza semakin ketakutan dan langsung memeluk Naya dengan erat.

__ADS_1


" NAYAAAAA "


__ADS_2