
Dua hari kemudian pesawat yang di tumpangi Rey mendarat dengan sempurna di Bandara, Masalah yang terjadi di Perusahaan yang berada di Eropa telah Rey selesaikan, Rey dan Zayn melanjutkan perjalanan menuju Rumah Utama, Rey tidak memberi tahu Ayrin jika ia akan pulang hari ini ia ingin membuat kejutan untuk istrinya.
Rey sudah tidak sabar ingin cepat-cepat sampai di Rumah Utama, ia sudah sangat merindukan istrinya dan juga anak-anak nya, Rey meminta Zayn untuk menambah kecepan mobil karena jalanan yang cukup sepi hanya ada satu dua mobil yang lewat karena Rey tiba di Kota B sudah lewat tengah malam, Zayn menuruti keinginan tuannya menambah kecepatan mobil namun tetap hati-hati.
Tiga puluh menit kemudian Rey sampai di Rumah Utama, Rey segera turun dari mobil. "Zayn pulanglah dan istirahat, Besok aku tidak ke Kantor kau tidak perlu menjemputku" Ucap Rey sebelum masuk kedalam rumah.
"Baik Tuan" Jawab Zayn, Setelah Tuannya msuk kedalam rumah Zayn melanjutkan perjalanan membelah kesunyian malam menuju Apartemennya.
Zayn menghidupkan musik untuk menemani perjalanannya yang sunyi, Perkataan Ayahnya satu minggu lalu masih terngiang-ngiang di kepalanya.
flashback
Zayn yang baru saja menyelesaikan rapat dengan para petinggi perusahaan di Eropa mendengar ponselnya berdering, Ayah Zayn menghubungi.
"Hallo Ayah" Sapa Zayn saat telfon tersambung.
"Hallo Zayn bagaimana keadaanmu? Apa kau sudah makan Zayn?" Begitulah Ayah Zayn dia akan selalu menanyakan bagaimana kabar putranya walau ia tau keadaan anaknya pasti baik-baik saja.
"Zayn baik Ayah, Zayn baru meyelesaikan rapat dengan para petinggi perusahaan untuk mencari jalan keluar dari masalah yang disini" Jawab Zayn, Kedekatan antara Zayn dan Ayahnya tidak perlu di ragukan Zayn begitu sopan jika ia berbicara dengan Ayahnya, Karena bagi Zayn Ayahnya adalah satu-satunya orang yang paling berharga dalam hidupnya
"Hmm, jika kau sudah punya waktu pergilah makan dengan Rey, kalian harus bisa membagi waktu untuk memperhatikan tubuh kalian" Ucap Ayah Zayn di sebrang telfon.
"Ya Ayah setelah ini kami akan pergi makan, Bagaimana kabar Ayah apa Ayah sudah minum obat Ayah" Tanya Zayn Kawatir.
"Ayah baik-baik saja, Ayah tidak pernah telat meminum obat Ayah" Jawab Ayah Zayn dengan suara pelan seperti sedang menahan sesuatu yang langsung bisa di tangkap oleh Zayn.
"Ayah ada apa?"
__ADS_1
"Zayn Ayah sudah Tua, Ayah tidak tau berapa lama lagi Ayah bisa menemani kamu, Ayah juga tidak tau berapa lama lagi Ayah bisa menjagamu" Ayah Zayn menarik nafas pelan.
"Ayah jangan berbicara seperti itu" Zayn tau kemana arah pembicaraan Ayahnya.
"Zayn mau sampai kapan kau akan berfikiran jika semua wanita sama seperti ibumu, Tidak semua wanita sama Zayn, Dulu Ayah hanya kurang beruntung saja Zayn, Jika kau seperti ini kau tidak akan memiliki teman hidup Zayn"
Rasa bencinya kepada sang ibu masih melekat pada diri Zayn, Zayn selalu beranggapan jika semua wanita sama seperti ibunya padahal ia sudah melihat jika tidak semua perempuan sama contohnya Mami Puspa dan Ayrin, Namun Zayn tetap berangggapan seperti itu kecuali untuk Mami Puspa Dan Ayrin.
CINTA....Cihhh bagi Zayn Cinta itu tidak ada yang ada hanya kebencian, ya Zayn benci dengan yang namanya Cinta, Ibu adalah Cinta pertama yang membuatnya seperti ini sungguh Zayn membenci yang namanya Cinta.
"CUKUP AYAH... aku tidak ingin membahas ini lagi" Tanpa Zayn sadari Zayn meninggikan suaranya.
"Maaf Ayah Zayn tidak bermaksut seperti itu" Ucap Zayn menyadari kesalahannya.
"Ya Ayah tau itu"
"Ayah, Zayn harus menyerahkan laporan-laporan perusahaan pada Tuan Rey, Zayn tutup telfonnya" Zayn ingin mematikan sambungan telfon tapi kata yang keluar dari mulut Ayahnya membuat Zayn menghentikan niatnya.
Zayn diam memikirkan kata-kata Ayah nya yang menyuruhnya menikah, Menikah....Itu tidak mungkin Ayah.
flashback off
Zayn menarik nafasnya panjang dan mengelurkannya secara kasar kemudian ia kembali fukos pada jalanan.
•
•
__ADS_1
•
•
Di Rumah Utama setelah pelayan membukakan pintu untuknya, Rey langsung menuju lantai atas dimana kamar nya berada yang di dalamnya ada istrinya, Rey membuka pintu pelan-pelan agar tidak menimbulkan suara dan membangunkan istrinya, Rey menutup pintu kembali dengan pelan, Rey berjalan mendekat ke arah istrinya yang tengah tertidur, Rey tersenyum senang akhirnya bisa melihat istrinya kembali.
Rey Tak langsung memeluk istrinya, Rey ingin membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum memeluk istrinya Rey takut jika ia membawa Virus yang akan membahayakan istrinya karena ia baru saja melakukan perjalanan dari Luar Negri. padahal Rey sangat ingin memeluk istrinya tapi demi kebaikan sang istri Rey rela menahan inginnya.
Setelah selesai memberaihkan diri dan berganti pakaian Rey langsung naik ke atas ranjang dan langsung memeluk istrinya yang sangat ia rindukan, Rey menciumi seluruh wajah Ayin, Ayrin yang merasa terganggu dalam tidurnya langsung membuka matanya.
"Sayang kau su...." Rey memotong ucapan Ayrin dengan membungakam bibir Ayrin dengan bibirnya, Rey tak tahan melihat bibir tipis Ayrin yang sangat ia rindukan, Rey tak menyia-nyiakan kesempatan saat istrinya membuka mulutnya.
Rey begitu serius menggeluti sesuatu yang sedang ia kerjakan hingga ia hampir lepas kendali, Beruntung ia masih bisa menahannya.
"Aku merindukanmu" Ucap Rey memeluk Ayrin setelah ia melepaskan ciumannya.
"Aku juga merindukanmu" Ayrin mengelus kepala Rey "Jam berapa sampai?, kenapa tidak memberitahukanku jika kau pulang hari in?i" Tanya Ayrin karena Rey tidak memberitahunya jika ia pulang hari ini.
"Belum lama, Aku ingin memberikanmu kejutan maka itu aku tidak memberitahumu tentang kepulanganku" Jawab Rey masih memeluk Rey.
Twins yang merasakan kehadiran sang Daddy langsung bergerak bersamaan memberi tahu sang Daddy jika bukan hanya Mommy nya saja yang merindukan Daddy nya.
"Sayang kau lupa menyapa Twins, Lihat mereka terus menendang perutku" Ayrin meringis merasakn tendangan Twins yang semakin kuat yang membuat Rey langsung beralih pada perut Ayrin.
"Hey sayang tenanglah jangan menendang seperti itu Mommy kesakitan, Maafkan Daddy karena Daddy tidak langsung menyapa kalian, Daddy sangat merindukan kalian" Rey menciumi perut Ayrin yang di dalamnya ada anak-anak nya.
Setiap ucapan yang di ucapkan Daddy nya seperti perihtah bagi Twins, terbukti Twins langsung berhenti menendang saat Daddy nya meminta mereka berhenti menendang.
__ADS_1
"Anak pintar" Puji Rey mengelus perut Ayrin "Apa kalian merindukan Daddy? jika kalian merindukan Daddy berikan tendangan pelan pada perut Mommy, Ingat hanya pelan" Twins langsung memberikan tendangan pelan pada perut Mommy nya, Rey dan Ayrin tersenyum bahagia melihat Twins tumbuh sehat dan pintar walau masih dalam perut.
Rey meluapkan rasa rindunya pada istri dan anak-anaknya, Rey tak bosan-bosan nya terus mengajak Twins bermain dan bercanda, Rasa lelah dalam menyelesaikan semua masalah perusahaan yang menguras banyak tenaga dan fikirannya dan juga Perjalanan pulang yang memakan waktu dan tenaganya hilang seketika saat melihat istri dan anak-anak nya, Sungguh tiada yang lebih membahagiakan saat lelah mu hilang hanya karena milihat senyum indah di bibir istrimu yang menunggu kepulanganmu.