
"Bagaimana datanya sudah kau temukan?" tanya Ezza saat berada dikantornya.
Devan langsung menyerahkan sebuah dokumen pada tuannya "identitasnya memang benar tuan, dia bukan Nona Nayaka... Gadis itu hanya memiliki nama yang sama dengan nona" jelasnya.
"tapi aku seperti pernah melihatnya" gumam Ezza.
Ezza mengambil selembar foto Naya yang didapat oleh Devan dan kemudian mengeluarkan ponselnya.
Ia meneliti kedua foto itu dengan cermat, sampai senyum terbit diwajahnya.
"aku sudah bilang.... Tebakan ku tak akan pernah salah" ia tersenyum miring.
"berani bermain denganku hm...." ia menatap foto Naya diponselnya.
"lalu apa yang harus saya lakukan tuan?"
"urusan dia biar aku yang selesaikan, tetap pantau ke empat orang bajingan itu"
"baik tuan" Devan membungkukkan badannya kemudian keluar dari ruangan CEO.
***
Seorang pria paru baya mengelus surai gadis yang bersandar dibahunya.
"gimana tadi sekolahnya?" tanya pria itu berprofesi sebagai dokter ternama yang bernama Daffa.
"baik ayah... Semuanya sangat baik" jawab gadis itu yang tak lain adalah Naya.
"tak ada yang mengganggumu kan?"
"tenang ayah! Aku bisa membereskannya"
Daffa mengangguk lalu mencium kening Naya dengan lembut.
"jadi gadis pemberani jangan lemah, ngerti!"
"siap komandan" Naya memberi pose hormat pada Daffa, membuat pria paru baya itu terkekeh lucu.
Ting tong... Ting tong
"seperti mereka sudah datang" ucap Naya kemudian berdiri, ia menyalami tangan Daffa untuk pamit pergi.
Saat keluar dua gadis menggunakan jaket kulit hitam menggunakan motor besar dan satu gadis lagi menggunakan mobil sport paling mahal.
"hay Queen..." salam Sasa melambaikan tangannya, Naya tersenyum menatap ketiga temannya.
Naya menaiki motor besar berwarna hitam dengan jaket kebanggaan leadernya.
"berangkat" perintah Naya membuat mereka langsung melajukam kendaraannya dengan kencang seperti para pembalap handal.
Tujuan mereka adalah club malam, setelah sampai ditempat mereka bertempat langsung turun.
Sasa membuka bagasi belakang, terdapat beberapa senjata api dan pisau berjejer rapi.
Friska dan Naya memilih senjata yang akan mereka sembunyikan, sedangkan Davina dan Sasa berada dimobil.
"gue bawa pistol sama pisau lipat" ucap Naya menatap pistol yang begitu mengkilat ditangannya.
__ADS_1
"gue bawa pisau sama bom asap" sahut Friska.
Mereka menyembunyikan dengan baik senjata yang akan mereka bawa untuk berjaya jaga.
Tak lupa sepasang alat penghubung mereka gunakan ditelinga, agar bisa saling bertukar informasi.
"Vin.... Lo terus cari informasi semua orang didalam, rusak cctv dan sadap alat komunikasinya" perintah Naya yang langsung diangguki Davina, di bagian tengah mobil telah dimodif sebagai ruangan khusus Davina.
"dan lo Sa...jangan lengah. Terus jaga jaga, karena gue percaya sama pelindung kayak lo"
"percaya sama gue, gue bakalan lindungin kalian semua" jawab Sasa dengan mantap, bukan seperti Sasa disekolah yang petakilan dan banyak tingkahnya.
"kita masuk sekarang"
Naya dan Friska langsung memasuki club malam dengan santai, tak ada yang curiga dengan kedua gadis itu.
Kedua gadis itu berpencar, mereka menatap kesekelilingnya dengan santai.
"ketemu" Naya tersenyum miring saat melihat seorang Pria dengan gadis dikiri dan kanannya sampai ada juga yang duduk dilantai tepat merebahkan kepalanya dipaha pria itu.
"gue juga udah ketemu" Friska berbicara lewat penghubung.
Melihat kedua orang sedang melakukan transaksi ilegal, membuat Friska geleng kepala.
Naya mendekat pada targer dengan membawa minuman ditangannya, dengan sengaja ia pura pura menumpahkan minuman itu kecelana target.
" upss sorry " ucap Naya kaget.
Pria itu ingin marah, namun Naya langsung mengelap dengan sensual membuat Pria itu mengeram tertahan.
"no baby... Tidak apa apa" pria itu langsung menarik tangan Naya untuk berdiri dan menarik pinggang gadis itu agar semakin dekat dengannya.
"Bagaimana kita cari tempat yang sepi, hanya ada suara mu yang akan mengerang"
"tentu" sahut Naya menarik pria itu menuju salah satu ruangan sepi, saat pria ingin menyerangnya dengan cepat Naya memukul tengkuk pria itu hingga pingsan.
"target beres" lapor Naya.
"good Queen...lo emang leader paling keren" sahut Davina dari alat penghubung.
Sedangkan Friska langsung duduk dihadapkan kedua pria yakni Dama dan Liam.
"siapa lo" sentak Liam.
"slow... Gue liat lo lagi transaksi, lo pengedar?" tanya Friska.
"gak usah bacot lo" kini Dama meninggikan suaranya.
"shutttt...." Friska menaruh telunjuk dibibirnya tanda menyuruh mereka bedua diam.
Friska langsung melempar uang sebanyak lima puluh juta dimeja.
"gue mau barang itu" ucap Friska.
"lo serius" tanya Dama menelisik kebohongan Naya.
"gue serius, dua barang itu bakalan gue beli sebesar lima puluh juta"
__ADS_1
Liam dan Dama tercengang mendengar harga yang ditawarkan oleh Friska.
"oke kalau gitu kesepakatan kita deal" Liam menjulurkan tangannya.
"Bagaimana sebagai tanda kesepakan kita bersulang" Friska mengangkat kelasnya.
Liam tersenyum, ia dan juga Dama langsung menegak minuman alkohol itu.
Tak selang beberapa menit, mereka tumbang tak sadarkan diri. Membuat Friska tersenyum remeh.
"target beres"
Friska langsung menghampiri dua orang besar yang berjaga diclub itu.
"permisi tuan, boleh saya minta tolong. Teman saya sedang mabuk berat, tolong antarkan mereka ke mobilnya" pinta Friska membuat kedua orang itu langsung menolongnya.
***
Di gudang yang sepi dan gelap terdapat tiga pria yang diikat pada pada satu tiang.
Sasa langsung menyiram dengan satu ember air dingin kearah mereka.
Byurrr
"bangun lo pada" teriak Naya membuat kesadar ketiga pria itu langsung membuka mata.
"udah bangun Queen tu tiga curut" Davina terkekeh.
"ohhh udah bangun" ucap Naya Santai sambil bermain Baseball.
Ayunan Baseball itu hampir mengenai wajah pria yang Naya buat sekarat yang tak lain adalah Arlan pelaku pemerkosaan bergilir pada gadis gadis yang telah banyak memakan korban.
Arlan menahan nafas dan melotot saat ayunan baseball itu tepat didepan wajahnya.
"GILAAA LOO" teriak Arlan.
"gue gila... Lo kali yang gila. Perasaan gue asik asik main gak gangguin lo" sahut Naya santai.
Friska terus melempar bola kasti dan disambut dengan baik oleh Naya.
"Nice.... Lemparan lo bagus" teriak Naya pada Friska.
Sedangkan Dama dan Liam dihadapkan oleh Davina dan Sasa.
Kedua gadis itu membawa membawa samurai yang panjang dan tajam.
" Queen...gue mau uji samurai yang baru lo beli boleh gak" tanya Sasa dengan senyuman mengerikan, Dama dan Liam menelan salivanya.
"silahkan, jangan lupa samurai gue harus ada noda darah biar aestetic nantinya" sahutnya dengan santai.
Sasa langsung menujukan ujung samurai tepat dileher Dama.
"kayaknya leher lo banyak tanda, boleh gak gue bantu juga kasih tanda lebih menarik"
"jangan berani berani lo nyentuh gue njing" pekik Dama dengan murka.
"jangan tinggiin suara lo, atau ujung samurai ini menembus leher lo"
__ADS_1
Runcingan samurai telah melukai leher Dama hingga mengeluarkan darah.