GORESAN LUKA

GORESAN LUKA
27. Tentang Davina


__ADS_3

Mobil sport hitam dengan model yang super mewah terparkir didepan perusahaan.


Ya Ezza dengan santai mengantar kekasihnya, ia kaget saat mendengar Daffa mengatakan tangan Naya terluka.


"are you okey baby, hm" Ezza mengusap lembut pipi Naya, ia sangat tak ingin berpisah dari gadis Mungil ini.


Jika bisa ia akan mengurung Naya bersamanya seharian penuh ohhh tidak bukan seharian penuh tapi selama lamanya.


"i'm okey.... Kamu gak usah khawatir" sahutnya tak kalah lembut.


"apa tangannya masih sakit" Ezza menatap tangan Naya yang diperban.


"no.... Ini tidak sakit sayang, bahkan kematian sekalipun tak akan ada artinya untukku" beginilah yang tak Ezza suka dari Naya, tatapan kosong dengan suara yang santai jika menyangkut kematian.


"cukup....keluar sekarang" emosi Ezza, entah kenapa ia sangat emosi membahas kematian.


Ia selalu terbayang kejadian Naya dahulu, ia selalu takut kehilangan gadisnya.


Melihat perubahan air muka Ezza, gadis itu tersenyum kecil dan mendekat kearah Ezza.


Ia menyandarkan kepalanya pada dada bidang laki laki terhebat miliknya "maaf..." ucap Naya sambil menggenggam tangan Ezza yang besar melebihi tangannya.


"...."


"maaf sayang" ucap Naya sekali lagi, ia menatap wajah Ezza yang berubah dingin.


"jangan marah" lirihnya sambil menduselkan pada dada bidang Ezza.


"aku tidak marah, aku cuma gak suka kamu ngomong gitu" ungkap Ezza.


"iye deh gak gitu lagi" cemberut Naya, wajah yang mengerucut itu membuat Ezza gemas.


"good girl.... Sekarang kamu masuk, takut ada yang curiga"


"baiklah"


"hati hati, aku selalu mengawasi kamu" ucap Ezza kemudian mengecup kening Naya.


Naya turun dari mobil dan masuk keperusahaan itu, didepan lobi ia disambut oleh Raivan.


"selamat pagi Nay" sapa Raivan melambaikan tangannya.


"selamat pagi pak"


"mari ikut saya menuju ruangannya"


Naya mengikuti Raivan menuju ruangan yang selama ini amat terjaga ketat keamanannya.


Dalam ruangan tampak hanya terdapat 20 orangan saja, mereka melakukan pekerjaannya masing masing.


"baiklah... Ini meja mu" tunjuk Raivan.


"kamu membawa Gold Cardnya kan?" tanya Raivan, Naya mengeluarkan kartunya.


"kamu sambungkan USB pada Gold Card itu, dan kamu akan tau apa saja yang harus kamu lakukan. Pencapaian perhari harus sebanyak 1000" jelas Raivan kemudian meninggalkan Naya.


"lo udah dengarkan apa yang dia bicarakan" ucap Naya pelan pada Davina.


"gue tau Queen, sekarang lo tinggal masukin USB nya"


Naya menancapkan USB itu, sedangkan Davina telah berhasil masuk pada jaringan itu.


Saat melogin pada jaringan itu muncul sesuatu yang mengejutkan bagi Davina, Naya pun melakukan hal sama ia login agar masuk Keakun perusahaan.


Matanya melotot tak percaya, Jantungnya juga mulai perpacu...pikirannya sekarang adalah Davina.

__ADS_1


Bagaimana tidak kaget jika isi pekerjaannya adalah mengunggah situs ilegal yang memuat video video asusilah.


Dimana juga terdapat korban yang amat Naya kenali, yakni kakak perempuan Davina yaitu Sonia Elvina.


Naya buru buru menghubungi sasa dan Friska.


"ya Queen..."


"datangin Markas sekarang juga, cek keadaan ruangan Davina" titah Naya.


"ada ap-"


"jangan banyak tanya, lakuin perintah gue sekarang"


"tap-"


"buruan..." tegas Naya.


***


Mereka langsung melajukam kendaraan menuju markas mereka, namun yang Sasa dan Friska temukan hanyalah kehancuran tempat yang biasa Davina gunakan.


" dimana Davina" ucap Sasa.


"gue gak tau Sa, gue hubungi gue dulu"


Friska langsung menelepon Naya.


"Queen  keadaan kacau dan kita gak nemuin Davina" jelas Friska.


"cari Davina kerumahnya, gue bakalan susulin kalian" 


Mereka berdua langsung melajukam kendaraan menuju rumah Davina.


Mereka langsung berlari menuju rumah Davina, saat terbuka kondisi rumahnya juga sangat berantakan. Banyak perabotan pecah, dan kursi kayu yang telah patah.


"kemana Davina" lirih Naya, ia sangat cemas pada sahabatnya.


"Bagaimana sayang?" tanya Ezza, Naya menggelengkan kepalanya.


"kita harus cari Davina dimana Za" adunya seperti anak kecil.


"heyy baby, tenanglah. Aku yakin Davina baik baik saja" Ezza menenangkan kekasihnya.


"tenang Queen, kita bakalan cari Davina sampe ketemu" ucap Sasa.


Tak lama terdengar dering ponsel Ezza...


"hmm"


"......"


"baiklah, saya akan segera kesana"


"...."


"hati hati...terus buat dia tenang"


"......"


Ezza mematikan panggilannya sambil menatap Naya.


"kekantor ku sekarang, Devan menemukan Davina" ucap Ezza.


***

__ADS_1


Saat mereka semua tiba dikantor, pandangan mereka jatuh pada Davina yang meringkuk menutup kedua telinga dan matanya.


"Bagaimana kau menemukannya" tanya Ezza pada Devan.


"begini tuan....."


Flashback on


Seorang gadis tampang berantakan berjalan menyusuri jembatan kota, tatapannya begitu ketakutan saat orang orang menatapnya dengan aneh.


Tak sampai disitu, ia juga berteriak histeris.


"TIDAKKKKKK.... BUKAN, BUKAN DIA"


"ARGHHHH JANGAN JANGAN.... AKU MOHON HAPUSSS, JANGAN SAKITIN DIA"


Teriakan histeris dialuni dengan tangisan pilu seperti permohonan membuat ia benar benar diluar kendali.


"MAAAFFFF, MAAAFFFF. MAAFFFFKAN AKU.... hisk" ia terus memohon penampungan entah pada siapa.


Orang orang hanya menatap heran, ada juga merekam aksinya, tak ayal ada juga yang mencaci maki dirinya.


"A-aku... Ak-aku mau mati" ia segera berlari menuju pagar jembatan yang amat tinggi, tanpa berpikir panjang ia langsung melompat membuat teriakan histeris orang orang yang melihatnya.


Namun bukannya terjatuh, Devan datang dan langsung menahan tangan Davina agar tidak terjatuh.


Gerakan cepat dan kekuatan menahan satu tangan membuat takjub.


"AAPA KAU SUDAH GILA. HAH!" bentak Devan kemudian mencoba menarik Davina.


Namun gadis itu berusaha melepaskan gemgaman tangan Devan agar dirinya bisa mati.


"lepaskan aku, biarkan aku mati. Biarkan aku menyusulnya" pinta Davina.


Mendengar respon Davina, Devan langsung dengan cepat menarik Davina.


Setelah situasi aman dan percobaan bunuh diri gagal, Davina meraung histeris ketakutan.


Ia terus memukul kepalanya, menatap sekitarnya dengan ketakutan. Melihat perubahan Davina membuat Devan kaget dan langsung membawa gadis itu menuju kantor milik Ezza.


Flashback off


"jadi lo nemuin Davina mau bunuh diri" Sasa memperjelas ucapannya.


"hm"


Naya langsung menghampiri Davina, ia menyentuh lembut bahu gadis yang ketakutan didepannya.


"Davina, lo gak usah takut lagi. Ini gue, lo bisa buka mata lo sekarang"


Mendengar suara lembut yang ia kenali, membuat Davina membuka mata secara perlahan lahan.


Air mata gadis itu langsung mengalir begitu saja, ia memeluk Naya dengan kuat. Mencurahkan segala ketakutan dan kesedihannya.


"shutttt, jangan takut..." menenangkan gadis yang sedari tadi memeluknya.


"mereka jahat Queen... Mereka bilang kakak aku pelacur" lirih Davina.


"bangun Dav, lo gak boleh lemah...ini waktunya lo nunjukin bahwa kakak lo orang yang terhormat"


Davina tetap diam tak menyakiti "jika lo gak bisa it's okey, kita yang bakalan gali kuburan massal untuk mereka"


"tapi gak semudah itu Queen, gue yakin ada dalang aslinya dari semua permainan ini" jelas Davina.


"dan gue tau itu....." sahutnya.

__ADS_1


__ADS_2