GORESAN LUKA

GORESAN LUKA
30. Akar Ditemukan


__ADS_3

Naya duduk bersilah dikursi dengan jendela besar transparan menampakkan seluruh keindahan kota dimalam hari.


Dengan segelas wine ditangannya, Naya menatap pemandangan kota dengan sendu.


"gue denger lo membunuh pengawal penjara bawah tanah" tutur Naya.


Kini disampingnya ada Friska yang sejak tadi diam tanpa suara, tatapan yang benar benar kosong.


"Bagaimana? Apa itu menyenangkan" tanya Naya, mata Friska melebar Jantungnya berdegup kencang mendengar itu.


Ia menatap telapak tangannya "tangan lo yang udah lama gak megang darah! Kemari malah mandi darah, gimana perasaan lo"


Lagi dan lagi kebisuan Friska serta tatapan yang aneh mulai muncul.


"menyenangkan" ucapnya dengan senyuman iblis gila.


Plakkk


Tamparan mendarat mulus diwajah Friska "gue udah pernah bilang jangan lepas kendali, hubungin gue. Tapi lo malah membunuh orang orang disana, berhenti Friska. Jangan sampai gelar pembunuh kembali tersemat dinama lo" jelas Naya menatap Friska dengan tajam.


"N-nay... Gue-"


"gue tau lo mau lindungin gue dan yang lain, cuma cara lo salah. Lo boleh siksa dia tapi bukan dengan cara membunuhnya" potong Naya, tatapannya berubah lembut.


"g-gue... Gu-gueee..." air mata Friska jatuh dengan sendirinya ada penyesalan yang dalam setelah semua itu.


"lo baik, gue tau. Tapi lo belum bisa megang tali itu sendirian, harusnya lo sadar kita nungguin lo. Buat tarik tali itu sama sama" Naya mendekat, ia menggenggam tangan Friska.


"maaffff" lirihnya, membuat Naya tersenyum kecil.


"maukan selesaikan misi ini bersama?"


"emh" Friskan mengangguk, ia memeluk Naya dengan erat menumpahkan tangisnya.


"gue tau dan gue sadar, penyesalan lo adalah sisi yang gak bisa lo kendaliin" batin Naya.


***


Jalanan sepi karena waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam, dengan santai Naya berjalan tanpa rasa takut.


Ia juga tak menyadari bahwa sejak dari ada orang yang mengikutinya dari belakang, sampai digang sempit orang itu memukul tengkuk Naya menggunakan tongkat baseball.


"akhhh" rintih Naya kemudian hilang kesadaran, orang itu bergegas memasukkan Naya Kedalam mobil.


"good night baby" seru orang itu.


Dia juga memberikan obat bius agar Naya pingsan lebih lama, sampai pada tujuannya.


Naya diikat Disebuah tiang dengan tali tambang, ikatan yang begitu kuat yang tak memungkinkan untuk dirinya lolos.


Satu jam berlalu, Naya mulai sadar dari pingsannya. Ia menyesuaikan cahaya yang menyapa indra penglihatan.


"ughhh...gue dimana"

__ADS_1


Prakkk Prakkk Prakkk


Tepuk tangan membuat Naya menoleh pada orang itu.


"hay...lama tak berjumpa gadis kecil" sapa seorang wanita yang amat Naya kenali, tapi kali ini ia berbeda.


Tampilan, cara bicara hingga sikapnya santan berbeda. Dibelakangnya juga ada lima laki laki yang amat ia benci.


Mereka adalah Liam, Arlan, Dama, Raivan, dan Abraham.


"kau kaget...ughh manis sekali saat mata ini menatapku begitu" ia mencengkram pipi Naya dengan kuku kukunya hingga berdarah.


"jangan begitu gadis kecil atau kematian mu akan menjadi tak menyenangkan" ia tertawa puas.


"lo- sialan" umpat Naya.


"wahhhhhh ternyata perubahan ini juga mengajarkan mu berkata kasar"


"jangan setuh gue sialan. Cuihh" Naya meludah pada wajah wanita itu diiringi tawa yang mengejek.


Wanita itu menatap tajam dirinya, sambil mengusap wajahnya "jangan berani kau tikus kecil" ucapnya dengan suara berat namun menakutkan.


"gue berani, karena gue bisa bunuh lo kapan aja" ejeknya tanpa takut sedikitpun.


"seperti kau ingin merasakan kesenangan sebelum mencapai neraka" wanita itu berbalik, ia mengambil tongkat Baseball yang terbuat dari besi.


Bughh


Bughh


Bughh


"masih mau bermain?" tawarnya.


"tentu" sahut Naya semakin membuatnya emosi.


Ia memukul dengan brutal dari wajah hingga seluruh tubuh Naya, membuat gadis itu memuntahkan darah.


Kemudian wanita itu menaruh tongkat baseball tepat dilehar Naya, menekannya dengan kuat.


Sampai panggilan masuk menyapa indra pendengarannya, masih ingat suatu alat penghubung yang tak terlihat ditelinga Naya.


"Q-Queen gue kembali" lirih seseorang dari seberang sana.


"hahhh akhirnya"


"gue sudah nemuin tempatnya, jadi gue mohon queenn...bertahan" ucap Davina dengan tangisnya, ia menemukan akar tempat persembunyian seluruh program.


"senangnya....selamat datang kembali"


Dari balik tangan yang terikat Naya mengeluarkan pisau yang sejak tadi ia sembunyi kan dilengan pakaiannya.


Ia sengaja mengulur waktu untuk memotong tali, sampai tali itu terlepas sempurna.

__ADS_1


Ia langsung menangis tongkat besi itu, merebutnya dengan kasar dan kembali membalas hantaman dari wanita keji didepannya.


"sialan....dia berhasil lepas. Cepat hajar tu cewe" ucap Liam.


Mereka berlima maju melawan Naya, Naya mengayunkan kakinya dan menentang Dama.


Ia mengambil lukisan kaca, kemudian menghantamkannya pada Liam. Ia juga memukul hidung Arlan hingga berdarah.


Kini Abraham dan Raivan juga melawan Naya, dengan santai Naya mematahkan tangan Raivan dan mematahkan kaki Abraham.


Wanita yang melihat kekalahan para pengecut itu segera lari keluar, melihat wanita itu kabur Naya tersenyum remeh.


Ia mengambil besi barbel, sambil melangkah untuk mengejar wanita itu.


"selamat menikmati permainan yang lo ciptain sendiri Anggi"


Anggi terus berlari dan memerintahkan pengawalnya untuk melawan Naya.


Namun mereka semua gagal, bela diri Naya sungguh sangat hebat. Hingga diluar nalar ia bisa mengalahkan 20 laki laki sekaligus.


Hingga mata Naya tertuju pada bujur tembak diruangan itu, ia mengambilnya.


Ia juga tau kemana arah Anggi akan pergi, yap kearah gudang elektronik. Akar penyimpanan segala usahanya.


"mau kabur kemana hm?" Naya mendekat dengan senyuman iblisnya.


"jangan mendekat sialan, seharusnya kau mati...kenapa kau malah hidup hah"


"lo tau sebenarnya bukan gue yang terjebak disini tapi lo yang membuat jebakan buat diri lo sendiri kak"


"bodoh...mana mungkin aku-" ucapan Anggi tak berlanjut, kini ia menyadari ada yang janggal.


"apa lo udah mikirin semuanya, yappp gue udah tau pas orang suruhan lo itu ikutin gue. Gue sengaja jadi bodoh agar lo nunjukin tempat sialan ini" Naya tertawa.


"kau-" tunjuk Anggi.


"seharusnya lo sadar dan bertobat, tapi tobat yang diberikan malah lo sia siain. Setan juga tau batasan agar tak mengundang iblis turun" ucap Naya dengan tatapan tajam seperti membunuh.


Anggi ingin menyerang Naya namun tak berhasil karena Naya langsung memanah tangan Anggi.


"akhh sakit...." jeritnya saat darah mengalir begitu deras dilengannya.


"maka nikmatilah dosa yang lo impikan ini"


Sasa dan Friska tiba tiba datang dengan tas besar berisi bom, mereka dengan santai memasang bom disetiap sudut tempat.


"ja-jangan ak-aku mohon... Jangan ha-hancurkan" mohon Anggi lirih.


"A-aku akan menyerahkan diri kepolisi jadi jangan hancurkan ini... Aku mohon" ia bersujud dikaki Naya.


"enak aja enggak dipasang, kita rakit ini susah tau gak" omel Sasa, sebab ia yang merakit bom itu . Terkenal dengan benteng sasa juga mahir merakit alat dan senjata api.


"let's play"

__ADS_1


__ADS_2