
Waktu cepat berlalu tak terasa kini anak-anak telah tumbuh dewasa, Rey dan Ayrin berhasil menjadi orangtua yang baik untuk anak-anak nya, Aarash Aaresh dan Albiyan kini sudah bekerja di bidang nya masing-masing sedangkan Aylen masih menempuh pendidikan di Universitas terbaik di Negaranya yang sebentar lagi akan di wisuda.
Aarash di gadang-gadang akan menggantikan posisi Rey di perusahaan Victory Global, Aaresh bekerja sebagai dokter bedah sesuai dengan cita-cita nya dulu, Sedangkan Albiyan menjadi fotografer yang kini nama nya sudah di kenal banyak orang.
Rey dan Ayrin membebaskan anak-anak untuk memilih pekerjaan yang mereka sukai, Mereka berdua tidak ingin menjadi orangtua yang memaksakan kehendak nya kepada anak-anak, Rey dan Ayrin sangat mendukung apaun keputusan anak-anak selagi itu di jalan yang benar.
Siang hari di rumah Utama di sibukan dengan pemilihan baju untuk acara pernikahan Aarash dan Mba Ayang kekasih nya sejak mereka SMA, Ayrin tak menyangka jika sebentar lagi ia akan melepas anak sulungnya untuk menikah.
Ruang keluarga terdengar cukup ramai karena perdebatan Aaresh dan Aylen mempermasalahkan warna baju, Bagi Rey dan Ayrin perdebatan Aaresh dan Aylen sudah menjadi makanan sehari-hari, Aaresh dan Aylen akan selalu ribut setiap kali bertemu, Sikap jail Aaresh yang selalu membuat Aylen kesal namun mereka tetap saling menyayangi.
"Lihat Mom ini warna pink yang benar saja masa aku harus pakai warna pink" Aaresh menyerahkan kain warna pink yang di pilihkan Aylen kepada Ayrin.
"Memangnya kenapa? Pink itu bagus tau lagian di luaran sana juga banyak laki-laki yang pakai warna pink" Ucap Aylen berdiri bertelak pinggang.
"Mana ada laki-laki pake baju warna pink" Elak Aaresh yang masih tidak setuju dengan pemilihan warna yang Aylen pilihkan.
"Ada itu kak Albiyan pake baju warna pink, Itu Aylen yang pilihkan buktinya pantas di pakai kak Albiyan dan kak Albiyan juga tidak protes" Tunjuk Aylen pada Albiyan yang memang memakai kemeja warna pink yang di pilihkan Aylen tadi pagi.
Albiyan paling tidak bisa menolak keinginan Aylen, Ia begitu menyayangi Aylen sehingga ia tidak bisa menolak apapun keinginan atau pilihan Aylen, Semua anggota keluarga menggeleng-gelengkan kepalanya melihat perdebatan Aaresh dan Aylen yang tak usai-usai.
"Itu karena kamu yang memaksa nya makanya Albiyan mau memakainya" Ejek Aaresh yang membuat Aylen kesal sekesal kesalnya.
__ADS_1
"Tidak sayang jangan dengarkan kak Aaresh, Kakak suka dengan bajunya dan tidak terpaksa" Jawab Albiyan cepat atas tuduhan Aaresh
"Dia bohong" Tuduh Aaresh lagi.
"KAK AARESH....." Teriak Aylen merasa kesal dengan kakak nya yang satu ini.
"Jangan berteriak sayang nanti tenggorokan mu bisa sakit" Ayrin membawa Aylen duduk di samping nya dan mengelus kepalanya.
"Kak Aaresh Mom" Adu Aylen kepada Ayrin, Aaresh menjulurkan lidahnya mengejek Aylen dan membuat Aylen semakin kesal, Mengusili Aylen adalah kebahagian tersendiri untuk Aaresh.
"Aaresh" Tegur Ayrin Rey dan Kakek Nenek mereka bersamaan, Tuan Arian dan Nyonya Puspa kini tinggal bersama dengan Rey dan Ayrin, Mengingat umur mereka sudah semakin menua Rey dan Ayrin memutuskan untuk membawa Tuan Arian dan Nyonya Puspa tinggal bersama mereka agar mereka bisa lebih mudah merawat Tuan Arian dan Nyonya Puspa dan juga bisa lebih dekat dengan anak dan cucunya.
Aaresh hanya memamerkan gigi putih nya dan mengangkat dua jari nya membentuk huruf V, "Aylen mau warna pink Mom" Rengek Aylen kekeh dengan pilihan warna nya.
Aylen menganggukan kepala nya setuju namun tidak dengan Aaresh, "Mom" Aaresh adalah laki-laki yang paling anti memakai warna pink dan karena itulah Aylen kekeh ingin menggunakan warna pink untuk baju seragam keluarga.
"Son mengalah lah pada adik mu lagi pula hanya di pakai saat malam dan hanya sebentar" Ucap Rey melihat Aaresh yang ingin protes lagi.
"Ahh terserah lah" Pasrah Aaresh pada akhirnya dengan menyenderkan punggungnya di sofa, Ia membayangkan saat memakai baju warna pink membuatnya bergidik ngeri.
"Tidak apa-apa sayang warna pink juga bagus kok, Hanya sebentar saja Mommy mohon " Ayrin mengelus kepala Aaresh membujuk nya.
__ADS_1
Aaresh menganggukan kepala nya sebelum menyenderkan kepala nya di pundak Ayrin dan memeluk nya, Aarash sedari tadi hanya diam mendengarkan dan melihat perdebatan Aaresh dan Aylen, Ia tak merasa keberatan dengan warna apapun yang akan keluarganya pilih, Ada satu hal yang mengganggu fikiran nya tentang calon istrinya yang belum ia katakan kepada Ayrin.
Selesai dengan perdebatan pemilihan warna baju, Mereka makan siang bersama, Aarash masih diam tak mengeluarkan suaranya sesekali ia melirik Ayrin, Ayrin bukan tak tau Aarash sedari dari melihat ke arah nya ia tau itu hanya saja ini bukan waktu yang tepat untuk Ayrin menanyakan nya kepada Aarash.
Selesai makan siang Rey dan Aarash pergi ke kantor karena ada pekerjaan yang harus mereka selesaikan begitupun dengan Albiyan ia kembali ke studio milik nya untuk menyelesaikan pekerjaan nya juga, Sedangkan Aaresh ia tak kembali ke rumah sakit karena jadwal tugas nya sudah selesai.
Jika saudara kembarnya akan menikah sebentar lagi lain hal dengan nya yang masih betah menyendiri ia masih menunggu seseorang yang ia temui 7 tahun lalu dan meninggalkan kenangan untuknya, Pertemuan yang tidak sengaja antara dirinya dan gadis itu membuat mereka dekat satu sama lain hingga mereka menjalin hubungan namun jalinan itu tidak berlangsung lama sebab gadis yang ia cintai tiba-tiba menghilang tanpa kabar sampai sekarang, Aaresh menatap satu-satu nya foto yang ia punya dengan gadis itu.
"Suatu saat aku akan menemukan mu dan tidak akan aku lepaskan sekalipun kau memohon" Janji Aaresh pada dirinya sendiri menatap foto gadis itu.
Albiyan sampai sekarang ia tidak memiliki kekasih atau teman dekat sama sekali, Ia juga masih betah menyendiri namun bukan karena dia juga masih menunggu seseorang seperti kakak nya Aaresh, Albiyan hanya belum menemukan seseorang yang tepat untuknya, Sama dengan Aylen yang juga masih betah menyendiri, Alasan nya karena ia takut merasakan sakit hati seperti yang di rasakan teman-teman nya.
Di kantor Aarash tidak bisa fokus dengan pekerjaan nya fikiran nya ada pada calon istrinya, Rey yang melihat Aarash tidak fokus menepuk pundak nya.
"Ada apa?" Tanya Rey yang duduk di samping Aarash, Saat ini mereka tengah melakukan meeting dengan para karyawan untuk membahas peluncuran produk terbaru.
"Tidak ada apa-apa Dad" Jawab Aarash berbohong.
"Daddy tidak tau apa yang sedang kau fikirkan tapi Daddy minta saat bekerja fokuslah pada pekerjaan mu" Nasehat Rey yang di angguki Aarash, Setelah itu Aarash mengkesampingkan fikiran nya tentang calon istrinya dan fokus mendengarkan penjelasan salah satu karyawan yang menjelaskan tentang produk baru.
Di rumah Aaresh kembali menjaili Aylen, Ia masuk ke kamar Aylen yang sedang berada di kamar mandi dan memainkan koleksi printilan Boy Grup EXO kesukaan Aylen yang ia jaga dengan sepenuh hati, Aaresh mengambil lightstick yang Aylen pajang di rak pajangan dan memainkan nya.
__ADS_1
"KAK AARESH JANGAN DI MAININ" Teriak Aylen saat melihat Aaresh memainkan lightstick koleksinya, Aaresh kaget bukan main mendengar teriakan Aylen dan tanpa sengaja menjatuhkan lightstick itu hingga pecah.
Aylen yang melihat lightstick nya jatuh karena ulah Aaresh seketika menutup mulutnya dan menangis kencang membuat Aaresh panik bukan main, Aaresh mendekati Aylen dan meminta maaf, Aylen yang tidak terima salah satu koleksinya rusak memukul Aaresh dengan tangan dan terjadilah aksi kejar-kejaran hingga ke lantai bawah.