GORESAN LUKA

GORESAN LUKA
21. Manifulatif


__ADS_3

"baby..." panggil Ezza sambil memeluk Naya dari belakang, sebab pria ini baru bangun dari tidur paginya.


"udah bangun rupanya...sana mandi terus siap siap buat berangkat sekolah" titah Naya mengusap lengan kekasihnya yang melingkar dipinggang.


"ishhh... Masih mau peluk juga, malah disuruh mandi. Aaauuu ahhh mau ngambek aja" Ezza menghentakan kakinya seperti anak kecil dan kembali kekamar untuk melaksakan perintah gadisnya.


Naya terkekeh geli melihat tingkah Ezza "dasar bayi gede, suka ngambekan"


Setelah selesai mandi, Ezza langsung turun untuk sarapan bersama Naya, dengan telaten gadis itu menyiapkan makan untuk Ezza.


"gimana enak gak sandwichnya" tanya Naya.


Ezza memberikan dua jempolnya sambil tersenyum lebar "enaaakkk buaaangettt"


Sungguh Ezza hanya bisa tersenyum dan tertawa saat bersama gadis ini, walau wajah berbeda namun Ezza tau gadis ini tetap sama dengan dirinya yang dulu.


Hanya wajahnya saja yang terpaksa berubah demi keselamatannya.


"syukur deh kalo enak...nih minum juga susu nya" Naya menyodorkan susu vanilla pada Ezza.


"coba aku minum susu dari sumbernya pasti lebih sehat" gumam Ezza namun terdengar oleh Naya.


Trakk


Pisau kecil ditangan Naya tertancap begitu dalam di meja "kalo ngomong aneh lagi, bukan meja yang bakalan aku tusuk tapi" Naya mengarahkan pisau kepada Ezza.


Ezza menelan salivanya susah payah "i-iya sayang... Aku becanda doang kok"


Naya menurunkan pisaunya dan mengupas buah apel untuk disimpan dalam kotak makan.


Devan datang kearah Ezza sambil menunduk hormat seperti biasa yang dilakukan oleh para pelayan tuan muda ini.


"tuan El... Mobil telah siap" ucapnya penuh hormat.


"baiklah....kamu bisa pergi, aku akan kesana sebentar lagi"


"baik tuan" Devan berlalu menuju mobil yang telah disiapkan untuk tuannya.


***


Di perpustakaan tanpa sengaja Davina melihat Raivan seperti sedang menyudutkan seorang gadis.


Davina menghela nafas dengan kasar melihat tindakan Raivan yang selalu melecehkan murid perempuan disekolahnya.


"ni setan gak ada mau niatan tobat gitu, malu dong ama setan setan yang udah senior. Berani kok sama anak kecil" decih Davina dengan pelan.


Ia melihat dua orang sedang mengerjakan soal diperpustakaan, tak lupa disamping mereka ada mistar.

__ADS_1


Dengan senyuman Davina langsung mengambil mistar orang itu "gue pinjem bentar" ucap Davina langsung meninggalkan tempatnya tanpa mendengar persetujuan mereka.


Ia menghampiri Raivan dengan langkah pelan agar tak disadari guru bejad itu.


Dengan sekali ayunan Davina menancapkan mistar itu tepat pada ***** Raivan.


Sontak membuat Raivan langsung menjerit "AKHHHHHHH SETANNN"


"setan kok teriak setan" Davina mendekati gadis yang ketakutan tadi, ia langsung membawanya pergi tanpa peduli keadaan Raivan yang terus menjerit kesakitan.


"elo kalo merasa terancam gitu tinggal tendang aja pusakanya, jangan takut buat ngelawan. Dari pada diri lo ancur sama bajingan keparat kayak tu orang... Paham" jelas Davina saat berada di lorong sekolah.


"i-iya kak" sahutnya.


"ya udah pergi sana lo"


***


"wihhh Dav, tumben banget lo jemuran" ucap Chika dengan wajah mengejek.


"gak usah bacot lo" sahut Davina kasar.


Bagaimana tidak dijemur jika dengan kurang ajarnya Raivan mengadu pada guru bk dan memutar balikan fakta, hingga ia harus berakhir berdiri didepan bendera.


"ahahha belagu banget lo, gue kira lo pendiem dan gak bandel ternyata sama aja kayak temen temennya begajulan" ejek Jelita.


Davina hanya memutar bola matanya dengan malas, sungguh berurusan dengan kutilanal kuntilanak ini akan menguras otaknya.


"SETAN" sarkas Davina tepat didepan Chika, membuat ia langsung emosi dan melayangkan pukulan dengan kuat kepipi Davina hingga tersungkur.


Dari kejauhan Naya melihat itu spontan melepas genggaman tangannya dengan Ezza dan menyusul Davina.


"woyy apa apaan lo" Naya mendorong bahu Chika.


"apa? Sok jadiĀ  pahlawan kesiangan lo. Lo kira gue takut sama lo hah!" teriak Chika didepan Naya tanpa gentar sedikit pun.


"tutup mulut lo" Naya menunjuk wajah Chika.


"lohhh benerkan, lo masuk sekolah ini cuma mau tenar terus deketin Ezza cuma cari famoskan" Jelita ikut memanas suasana.


"bacot lo tai! Gue gak peduli sama omongan lo pada, gue cuma gak suka sama tindakan lo yang kasar sama teman gue" teriak Naya dengan tangan yang sudah mengepal erat.


"temen lo yang ****** ini duluan manggil gue setan"


Plakk


Tamparan melayang kearah pipi Chika hingga terjatuh, ia mencengkram kuat kearah seragam Chika sampai tercekik.

__ADS_1


"gue udah bilang jauh jauh dari hadapan gue dan temen temen gue"


"lo pikir hanya ancaman kayak gini gue bakalan langsung tunduk sama lo" Chika terus meremehkan tindakan Naya.


"kalo lo gak kapok dengan hal kecil maka gue bakal kasih kejutan yang tak akan terlupakan oleh elo" Naya langsung menjambak rambut Chika, menyeret gadis itu dengan paksa tanpa ada kasian melihat Chika merintih kesakitan.


Dengan sekali tenda pintu toilet terbuka, Naya masuk kesalah satu bilik toilet.


Ia membuka tutup closed dan langsung mengarahkan kepala Chika Kedalam sana.


"dengerin gue baik baik, gue gak akan segan segan masukin kepala lo Kedalam sana. Masih untung lo, gue lagi berbaik hati gak nyemplungin kepala lo Kedalam sana" lirih Naya tepat dibelakang Chika, membuat gadis itu bungkam seketika.


Tanpa diduga China menyikut perut Naya hingga mundur kebelakang, Naya hanya meringis sedikit.


Ia menatap Nyalang kearah Chika hingga akhirnya sebuah keributan yang menuju kearahnya menghentikan aksi Naya.


Dengan liciknya Naya merobek lengan seragamnya, ia mengores lengan serta lehernya kemudian membentur kan kepalanya tanpa ada ringisan,


Chika dibuat melotot tak percaya dengan tindakan Naya "Aaargggghhhh....." teriak Naya.


Semua orang langsung menuju toilet, mereka langsung menutup mulut melihat Naya sudah terkapar tak berdaya.


Ezza yang melihat kekasihnya langsung menghampiri "baby... Heyyy bangun" Ezza menepuk pipi Naya.


Namun tak ada respon sama sekali, atensi Ezza jatuh pada Chika yang sedang memegang pisau.


Ia langsung berdiri menghampiri Chika...


Plakkk


Tamparan begitu keras hingga membuat Chika jatuh dan berdarah disudut bibirnya.


"****** sialan" Maki Ezza.


Ia langsung mencekik leher Chika menggunakan satu tangan namun kekuatannya setara empat tangan besar.


"le... Lepashhh.... Akhhh... Sa...sa...sak..sakhittt" Lirih Chika berusaha melepaskan cekikan yang Ezza hadiahkan padanya.


Dari belakang Naya membuka matanya, ia tersenyum miring ngejek kesialan Chika.


"enghhh" Naya berpura pura sadar, membuat Ezza melepaskan Chika dan kembali menghampiri Naya.


Ia langsung menggendong gadis dan menuju UKS. Ezza mengambil kotak P3K, saat ingin mengoleskan obat tangan Ezza berhenti.


"kenapa berhenti" tanya Naya bingung.


"aku punya cara bersihin lukanya"

__ADS_1


Ezza mengerutkan keningnya, perlahan Ezza mendekati Naya dengan spontan ia menjilat darah dileher Naya. membuat gadis itu langsung menegang dan spot jantung.


"biar lebih efektif" senyum jail terpancar diwajah Ezza.


__ADS_2