
Detik dan menit terus berlalu setelah Ke tiga wanita itu memutuskan untuk segera pulang,Tania pun langsung menyalakan mesin mobil.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang,dan sepanjang perjalanan mereka hanya bisa berharap semoga esok hari mereka bisa menemui Mita di kantor.
Walau kenyataan nya mereka berniat untuk mencari Mita saat ini, namun mereka mengurungkan niat itu karena mereka tak ingin buang-buang waktu.yang terpenting saat ini adalah mereka telah mendapatkan informasi tentang wanita iblis itu.
Setiba nya di rumah Tania buru-buru melangkah masuk begitu saja ke dalam rumah tanpa ucap salam dan hal itu membuat sang ibu mengerutkan dahi nya.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka Tania bergegas mencari di mana letak ponsel nya, entah mengapa wanita itu tak pernah ingin bersahabat dengan barang canggih itu.
Boleh di katakan jika Tania tak pernah berniat untuk memiliki ponsel,karena ia sudah terbiasa hidup apa adanya saja,gadis desa itu benar-benar ketinggalan jaman alias kampungan.
"Ada apa,Nak?Tanya sang ibu bingung.
" Dia lagi kesal, Bu" sahut Tari
"Kesal?"
Wanita paruh baya itu semakin penasaran"Apa yang terjadi Nak? tolong katakan."
"Keadaan kantor sedang tak baik-baik saja bu,"sambung tari kembali.
" Apa!"sang ibu kaget" Apa maksud nya Nak?".
Tari dan Bela segera menghampiri sang ibu"Duduk lah Bu," titah Bela.
Wanita paruh baya itu segera mematuhi perintah Bela,duduk di pinggiran tempat tidur sambil menelan ludah berkali-kali.
Sementara Tania,gadis desa itu masih sibuk dengan rutinitas nya,mencari ponsel nya dan mengabaikan orang-orang di sekitarnya.
"Ini semua kesalahan Rani bu,sudah tau mita seperti apa,masih saja dia di beri kepercayaan.wanita itu benar-benar tidak tau diri," jelas Bela.
"Apa dia korupsi?" tanya sang ibu dengan mata melotot lalu menatap ke arah ke tiga wanita itu secara bergantian.
"Bisa jadi," tebak Tari asal.
"Jangan soudzon Tar,dosa lo,"seru Tania sambil melangkah ke arah sang ibu.
__ADS_1
"Bu,Kakak Rani harus tau semua ini,"ujar Tania sambil duduk di samping sang ibu
Sementara Tari,gadis kecil itu memanyunkan bibirnya"Iya sudah,semoga saja itu tidak terjadi."
"Apa sebenarnya yang telah terjadi di kantor?bukan kah Mita telah bertaubat setelah apa yang dia lakukan selama ini?lantas apa yang membuat kalian panik seperti ini?."
Pertanyaan dari sang ibu membuat Tania memalingkan wajah wanita paruh baya itu"Bu,ibu tau kan seperti apa tanggung jawab seorang pemimpin perusahaan? lantas apa pantas Mita hanya datang di kantor semau nya saja,sedangkan tugas kakak Rani sepenuh nya dia serahkan kepada wanita itu."
Sang ibu menggeleng kan kepalanya"Besok kalian harus temui Mita di kantor,kalau tidak?biar ibu saja yang temui dia,enak saja mau makan gaji buta."
"Baik,Bu,"sahut Bela penuh semangat.
Tanpa aba-aba Tari pun segera menghampiri sang ibu"Ibu,aku punya berita buruk untuk ibu."
Mendengar ucapan Tari membuat Tania dan Bela saling menatap sejenak"Berita apa lagi si,Tar?,"tanya Tania sambil menatap ke arah Tari tanpa berkedip.
Gadis kecil itu mengabaikan ucapan Tania,sementara Bela,wanita itu langsung mendekati Tari.
Bela yang tau persis jika Gadis kecil itu akan mengadu soal pak ammar, sementara Bela wanita itu tak ingin membuat sang ibu naik darah karena ia tau persis wanita paruh baya itu akan marah besar.
Perlahan-lahan Bela menarik tangan Tari agar ia segera membawah Tari keluar dari kamar,namun belum sempat mereka melangkah,sang ibu bergegas bangkit lalu menggenggam tangan gadis kecil itu.
"Berita buruk apa,Nak? ayo katakan dengan jujur."
Sementara Bela,wanita cantik itu hanya bisa berbadan pasrah,lalu menoleh ke arah Tania memberi isyarat agar Tania tak boleh membantah sang ibu.
"Tari,tunggu apalagi? ayo katakan Sekarang." perintah sang ibu sambil menatap gadis kecil itu begitu dalam.
"Baiklah,Jadi begini Bu pagi tadi pak Ammar datang ke sini,pria kurang ajar itu kembali lagi untuk meminta modal kepada Tania.
Mendengar ucapan Tari membuat sang ibu mengepalkan tangannya,darah mendidih menahan emosi lalu bolak balik di hadapan ke tiga putri nya.
Tania dan Bela menyaksikan hal itu membuat mereka langsung menundukkan kepalanya,sembari berpikir keras.
"Tania,apa kamu menyetujui permintaan dari pria gila itu?," tanya sang ibu sambil menghentikan langkahnya di hadapan Tania.
Tania langsung menggeleng kan kepalanya"Gak Bu."
"Bagus! kalau begitu ceraikan dia,"titah sang ibu.
__ADS_1
Bela menggeleng-gelengkan kepalanya"Ya Allah,bagaimana dengan kandungan Tania jika hal itu terjadi?"gumam nya sembari menatap ke arah Tania.
"Ide bagus,Bu,"seru Tari.
Gadis kecil itu benar-benar masih menyimpan dendam begitu dalam kepada pak Ammar"Kakak Tania lebih cocok nya sama pak Dion,"sambung Tari kembali.
"Apa?," sontak Bela kaget"Pak Dion," gumam nya sambil memikirkan pria itu.
Perlahan-lahan Bela teringat kembali dengan masa lalu nya,di mana dia selalu bekerjasama dengan pria itu untuk memisahkan pak Ammar dan Tania.
Memikirkan hal itu membuat bola matanya berkaca-kaca"Maafkan aku Tan," batin nya menjerit.
"Jaga ucapan kamu Tar,aku ini hanyalah manusia kotor jadi tak pantas kamu berkata seperti itu."
"Apa nya yang tak pantas kak?"potong Tari lalu bolak balik gak jelas"Bukan kah dia sangat mencintai kakak,lalu apalagi yang kakak pikirkan?" sambung Tari kembali.
Sang ibu menggeleng kepala nya"Katakan dengan jujur Tania,apakah kamu masih mencintai pria matre itu?."
Pertanyaan dari sang ibu membuat Tania tak berdaya,wanita itu benar-benar terpukul namun ia berusaha tegar kan diri,agar ia mampu menjaga sikap di hadapan sang ibu.
Menyadari jika kasih sayang sang ibu begitu besar kepada nya,sehingga Tania rela tersakiti sendiri daripada harus membantah perintah sang ibu.
Kalau boleh jujur Tania telah pasrah dengan segala Takdir yang telah di gariskan untuk nya,namun ia tak dapat berbuat apa-apa kecuali jika sang suami sendiri yang akan menceraikan dirinya.
Jangan tanyakan lagi Mengapa harus seperti itu?
Karena sebagai seorang istri yang beriman,Tania lebih memilih pasrah di hadapan sang khalik,karena dia tau jika segala ketentuan dari-Nya itu lah yang terbaik baginya.
Tak perlu mengeluh atau bahkan menggerutu karena pahala sabar akan menanti nya di sana.
________
Ada yang berpikir mengapa pemeran utamanya di buat sebodoh mungkin?
Maka jawaban nya cukup simple karena seorang istri yang beriman,tentu saja mereka fahami bagaimana kedudukan mereka di hadapan sang suami.
Sekalipun mereka pernah melakukan dosa,membangkang di hadapan suami namun tentu nya mereka tak bisa berlepas diri dari kodrat nya sebagai manusia biasa.
Begitu pula dengan penulis cerita ini,hamba hanyalah manusia biasa yang sangat jauh dari kata sempurna,namun aku di sini selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik walau tulisan nya masih acak-acakan.
__ADS_1
Terimakasih atas kunjungannya.
Baraakallahu fiik.