Istri Ke 2 Yang Terlupakan.

Istri Ke 2 Yang Terlupakan.
94.Ketulusan.


__ADS_3

Setelah mereka berkumpul kembali di kamar sang ibu,gadis kecil itu telah bangkit dari tangisan nya,dan kini mereka telah siap untuk berkata jujur tentang kehadiran Bela di tengah-tengah kehidupan mereka.


Tari segera memberi isyarat kepada Tania agar bisa menenangkan hati sang ibu,dengan memeluk bahu nya dari arah belakang.


Karena mereka Tau persis di mana kelemahan wanita paruh baya itu.


Sementara gadis kecil itu telah mengambil posisi di hadapan sang ibu,duduk di sebuah kursi sementara sang ibu masih dalam posisi yang sama.


"Bu,apa yang harus kami lakukan jika kami menemukan seorang pengemis di luar sana?sementara pengemis itu adalah kerabat sendiri. Pertanyaan nya apakah kami akan membiarkan begitu saja,atau malah justru kami harus menolong nya?".


Pertanyaan dari gadis kecil itu membuat sang ibu mematung dan membisu.


Namun tak selang berapa lama wanita paruh baya itu langsung menatap ke arah putri nya"Tentu saja kalian harus menolong nya,Nak."


"Makasih Bu,Lantas jika dia adalah orang yang pernah berbuat jahat di masa lalu nya,apakah kami juga harus menerima nya,Bu?," tanya Tari sekali lagi.


Gadis kecil itu benar-benar mampu membuat sang ibu bingung, sementara Tania jantung nya semakin berdengup kencang karena ia tak mampu berbuat nekat seperti gadis kecil itu.


Sang ibu menghela nafas panjang,lalu menghentikan rutinitas nya dan menatap ke arah Tari begitu dalam.


"Apa maksud kamu,Nak? dan siapa pengemis itu yang sebenarnya? lalu di mana kalian bertemu?".


Pertanyaan secara bertubi tubi dari wanita paruh baya itu membuat Tania tak berdaya.


Pikiran nya mulai tak karuan dan seluruh tubuhnya telah keringat dingin,lalu menatap ke arah gadis kecil itu dengan tatapan meragukan.


Namun seketika Tari memberi nya isyarat agar dia bersikap tenang,gadis kecil itu bergegas mengangkat kursi nya lalu duduk kembali berdekatan dengan sang ibu.


"Bu,kami di sini hanya ingin menolong dia,dia sangat tersiksa dengan kehidupan nya seperti itu,mengemis di jalanan meminta belas kasih dari orang lain,namun ketika rezeki tak dapat berpihak tentu dia akan kelaparan kan,Bu?"


Sang ibu menganganguk-ganggukkan kepalanya,dan tak selang berapa lama tetesan airmata dari wanita paruh baya itu kembali lagi terjatuh ke bumi.


Dia tidak dapat membayangkan bagaimana jika di antara ke tiga putri nya seperti itu,yang pasti nya sang ibu tak akan pernah tega melihat nya.


Keadaan menjadi hening,sang ibu masih tak dapat membuka suara sementara ke dua putrinya sangat mengharapkan jawaban dari wanita paruh baya itu.


"Bu,Kami sangat sayang kepada ibu,dan boleh ka kami menjadi hamba Allah yang selalu menolong dalam kebaikan?," tanya Tania sambil berbisik di telinga sang ibu.


Sang ibu menganganguk-ganggukkan kepalanya"B-boleh,Nak",sahut nya gugup sambil menyeka airmata nya.

__ADS_1


"Terimakasih Bu." ujar Tania lalu mencium pipi sang ibu,sementara Tari gadis kecil itu hanya bisa tersenyum lebar.


"Alhamdulillah,misi kali ini berhasil," gumam Tari lalu bergegas bangkit dari kursi.


"Mau ke mana,Tari?"tanya Tania bingung.


"Tari! kamu duduk di sini,ibu ingin bicara sebentar,"titah sang ibu sambil menunjukan jari ke hadapan kursi.


"Iya,iyaa."


Gadis kecil itu memutar kembali langkah nya lalu berjalan menuju ke hadapan sang ibu.


"Tari! siapa pengemis yang kamu maksud itu?" tanya sang ibu dengan intonasi suara tinggi.


Gadis kecil itu hanya tersenyum lalu mengambil ke dua tangan wanita paruh baya itu"Ibu,tak baik marah-marah terus,senyum donk biar ibu makin cantik."


"Ah..kamu ini,ayo katakan siapa pengemis yang kamu maksud itu?"


Tari dan Tania saling menatap sejenak,namun seketika Tania memberi isyarat.gadis kecil itu menarik nafas panjang lalu menghembuskan secara perlahan-lahan.


"Baiklah.tapi ibu harus janji satu hal,


"Iyaa..iyaa,ibu pasti janji.katakanlah,"pinta sang ibu lalu menatap ke arah putri nya begitu dalam.


Mendengar ucapan sang ibu membuat Tania mengeratkan pelukannya,wanita cantik itu benar-benar takut jika sang ibu tidak bisa menerima kehadiran Bela.


Sementara gadis kecil itu menggenggam tangan sang ibu begitu erat"Bu,pengemis itu adalah B-bbbeee...la Bu," sahut nya terbata-bata.


"Apa! sontak sang ibu kaget.


Wanita paruh baya itu benar-benar tidak menyangka, jika pengemis yang di maksud kedua putri nya itu adalah Bela.


Bela yang ia kenal sebagai anak pengusaha sukses,namun seketika ia menyadari kembali jika Allah yang berhak atas kehidupan manusia di muka bumi ini.


Wanita paruh baya itu langsung istighfar kepada Tuhan nya berkali-kali,sementara ke dua gadis itu pikirannya traveling ke mana-mana.


"Di mana Bela sekarang?" tanya sang ibu untuk memastikan apakah Bela baik-baik saja.


"A-aadaaa..kok Bu,emang kenapa?" tanya Tania gugup masih dalam posisi yang sama.

__ADS_1


"Ada di mana? besok kalian harus cari dia,dan bawah dia ke rumah ini,"jelas sang ibu.


Ke dua putrinya saling menatap sejenak,mereka benar-benar bingung dengan sikap sang ibu saat ini.


"Apa boleh malam ini,Bu?" tanya Tari demi memastikan apakah Bela di terima dengan baik atau malah justru sebaliknya.


Sementara Tania,sang calon ibu tersebut bergegas meninggalkan sang ibu begitu saja,lalu melangkah menghampiri gadis kecil itu.


"Tari! kamu tidak boleh membantah perintah ibu,emang nya kamu tau di mana posisi Bela saat ini?" tanya Tania sambil mencubit punggung Tari dari belakang.


"Aww..kakak apaan si," gerutu Tari dalam benaknya.


"Besok saja Tari,lagian ini sudah larut malam,dan besok kalian harus mencari Bela sampai dapat,"jelas sang ibu sambil bangkit dari kursi.


"Iya..iyaa ibu."


"Iya sudah,kalian istirahat dan besok pagi kalian temui ibu di sini."


"Ada apa lagi,Bu?"tanya Tari bingung karena menurut nya urusan Bela sudah selesai.


"Jangan banyak tanya lagi Tari!kalian istirahat sana,ibu mau istirahat juga," protes sang ibu lalu berjalan sambil memegang pinggulnya dan berjalan menuju ke tempat tidur.


"Kalian tunggu apa lagi?" tanya sang ibu sambil membaringkan tubuhnya di tempat tidur.


Melihat kondisi sang ibu seperti itu,kedua putri nya tiba-tiba saja merasa ia,lalu mereka bergegas mendekati sang ibu.


"Bu,aku sayang banget ma ibu,sehat selalu yaa Bu," ujar Tania dengan mata berkaca-kaca sambil duduk di samping sang ibu.


Sementara gadis kecil itu,ia mendekati kaki sang ibu lalu memijat nya secara lembut"Tari juga sayang banget ma ibu,ibu tidak boleh capek-capek apalagi sampai banyak pikiran yaa Bu."


Mendengar ucapan ke dua putrinya membuat sang ibu menyadari,jika mereka adalah anak-anak yang baik dan tulus sayang kepada nya.


Tak selang berapa lama,airmata nya pun tak bisa tertahankan lagi,wanita paruh baya itu benar-benar bersyukur memiliki anak yang bukan berasal dari rahim nya sendiri.


"Terimakasih banyak atas kebaikan dan ketulusan kalian,Nak," gumam nya sembari menatap ke dua putrinya saling bergantian.


TB.


Dukung Author dengan vote, like serta koment.

__ADS_1


__ADS_2