
"Murka," gumam Bela.
Kalimat itu begitu awam di telinganya,sehingga membuat Bela bingung sendiri.
"Bel kamu kenapa,kok diam saja?."
"E-enggak papa kok Tan,"sahut Bela gugup sambil memikirkan sesuatu.
Keadaan menjadi hening namun seketika Tari telah terbangun dari tidur nya,gadis kecil itu langsung bangkit dari tempat tidur dan meloncat seperti anak kecil.
"Kalian bahas apa si? brisik banget tau gak," seru Tari lalu berjalan menuju ke kamar mandi.
Mendengar ucapan Tari membuat Tania dan Bela saling menatap sejenak"Kepo," sahut Tania ketus.
Bela menggeleng kan kepalanya"Tak perlu di tanggapi lah Tan,lebih baik kita pikirkan yang lain," jelas Bela.
Tania tersenyum lebar"Baiklah,jadi apa rencana kamu selajutnya?."
Bela terdiam sejenak,pikiran nya mulai tak menentu dan entah mengapa ia begitu yakin jika Mita masih saja seperti dulu.
Demi membalas kebaikan sang ibu dan juga Tania serta Tari,bela berjanji untuk dirinya sendiri jika dia harus membuktikan bahwa Mita adalah wanita iblis yang mereka pelihara dengan baik selama ini.
"Tan,seperti rencana kita dari awal.kita harus mencari tau di mana tempat Mita saat ini,dan setelah itu kita lanjut mencari keberadaan suami kamu."
"Buat apa Bel?," potong Tania.
Tania belum siap untuk bertemu pak Ammar saat ini,terlebih lagi ketika ia mengingat kembali bagaimana tingkah lakunya selama ini.
Hatinya benar-benar hancur namun ia berusaha tegar kan diri agar keadaan terlihat baik-baik saja.
"Lupakan soal dia Bel," sambung Tania kembali.
Bela menggeleng kan kepalanya"Enggak bisa Tan,apa pun itu kamu butuh seorang suami,suami yang harus menjadi ayah dari janin yang ada dalam kandungan mu,"jelas Bela.
Wanita itu benar-benar iba melihat keadaan Tania seperti itu,mengandung anak tanpa seorang suami tentu nya pasti tidak semudah itu.
__ADS_1
"Cukup kak!," teriak Tari sambil melangkah ke arah Bela"Apa dia pantas di sebut seorang suami? sedangkan dia,dia tidak pernah menunaikan kewajiban nya sebagai seorang suami."
Gadis kecil itu benar-benar murka jika dia mendengar nama pak Ammar"Apa kakak ingin melihat Tania lebih menderita lagi? sudah cukup baginya kak untuk menanggung segala beban derita karena ulah pria brengsek itu,"seru Tari sambil menunjukkan jari ke arah Tania.
"Cukup Tari! Bela gak bersalah,karena ia belum paham semua apa yang telah terjadi selama ini," bentak Tania kesal demi membela Bela.
"Oke,..Oke,aku minta maaf jika aku salah mengucapkan kata,niat aku baik karena aku cuman kasian melihat kondisi Tania seperti itu,"jelas Bela lalu berbadan pasrah di hadapan Tania dan Tari.
Tari mengabaikan ucapan Tania dan Bela,lalu gadis kecil itu lebih memilih keluar dari kamar daripada harus berdebat.
Brugh!
Tari membanting pintu kamar begitu keras dan hal itu membuat Tania dan Bela membulatkan bola matanya.
"Tari!," panggil Tania.
"Sudah lah Tan,tak perlu di tanggapi lagi demi menjaga amanah dari ibu."
Tania menganggukan kepala nya"Iya Bel,maafin aku."
Tania menganggukan kepala nya"silahkan Bel."
Bela segera mendekati Tania,dan entah mengapa wanita cantik tersebut ingin mengetahui lebih banyak lagi kisah cinta antara Tania dan pak Ammar selama ini.
Sementara Tania,sang calon ibu tersebut benar-benar sudah percaya sepenuhnya kepada Bela,dan dia berharap jika Bela adalah orang yang tepat untuk menjadi tempat curahan hati saat ini.
"Tan, seandainya pak Ammar bisa berubah menjadi lebih baik,apakah kamu akan Sudi menerima dia berada di samping mu?."
Mendengar pertanyaan Bela membuat Tania tak berdaya,wanita cantik tersebut langsung menunduk kan kepalanya.
"Entahlah Bel,aku telah memberikan kesempatan berulang kali kepada dia,sedangkan dia seolah olah hanya menginginkan aku di saat dia butuh saja,dan apakah dia masih layak untuk di harapkan?."
Bela menganggukan kepala nya,wanita itu sangat mengerti perasaan Tania saat ini,wanita mana yang akan bertahan jika mereka berada di posisi yang sama? tentu mereka pasti kecewa atau bahkan putus asa.
Semua wanita di bumi ini pasti menginginkan pernikahan nya harmonis sepanjang hidupnya,namun tak ada manusia yang bisa lari dari kenyataan takdir yang telah memeluknya.
__ADS_1
Ke mana pun mereka akan berlari?tentu saja mereka tak bisa lari dari kenyataan dari-Nya,selagi mereka masih berjalan di muka bumi ini.
Lantas bagaimana manusia menghadapi itu semua?
Tentu saja mereka harus berlapang dada,menerima segala ketentuan Takdir nya karena manusia hidup di atas bumi yang sama,namun yang membedakan hanyalah ujian semata.
Begitupun dengan kehidupan Tania,jika bukan karena keimanan yang kokoh,mungkin saja dia sudah menggerutu kepada Tuhan nya,meminta keadilan atas apa yang telah terjadi kepada nya.
Terlebih lagi saat ini,dia telah mengandung anak dari pria yang tak pernah menganggap nya ada,bahkan janin itu tak pernah di harapkan oleh sang suami untuk lahir ke dunia ini.
Mengapa harus terjadi seperti itu?
Bukan kah janji Allah itu pasti,jika orang baik tentu akan di pertemukan dengan orang baik pula?tentu saja pertemuan di antara pak Ammar dan Tania adalah sebagai ujian.
Dan sekalian pun mereka harus di pisahkan oleh takdir-Nya,tentu saja itu adalah yang terbaik baginya,baik untuk pak Ammar terlebih lagi kepada gadis desa itu.
Memikir kan semua itu membuat Bela dan Tania meneteskan air matanya"Maafin aku Tan,ini semua adalah kesalahan aku," ujar Bela sambil bersujud di kaki Tania.
Wanita itu kembali lagi menyadari jika apa yang terjadi saat ini kepada Tania,itu semua karena ulah nya selama ini.
Namun Tania tak pernah menyalahkan siapa pun atas apa yang menimpa nya saat ini,karena ia menyadari jika apa yang terjadi saat ini adalah murni atas kehendak Allah.
"Bangun Bel," pinta Tania berulang kali.
Bela masih saja bersikap keras untuk sujud di hadapan Tania,demi menebus segala dosa-dosanya selama ini.
Sementara Tania,wanita itu tetap saja memaksa Bela untuk bangun dari sujud nya,karena perbuatan itu tak pantas untuk di lakukan oleh manusia lainnya.
Manusia bukan lah tempat untuk bersujud,sebesar apa pun kesalahan nya,karena tempat taubat yang paling baik adalah sujud di atas sajadah,bukan pada manusia.
Menyadari hal itu membuat Bela bergegas bangkit dari sujud nya,lalu memeluk erat Tania"Maafin aku Tan,aku janji akan menebus segala kesalahan ku," gumam nya sembari menangis terisak-isak di pelukan Tania.
"Sudah lah Bel,tugas kita masih banyak dan yang perlu kita lakukan saat ini adalah menjadi lebih baik,"pinta Tania menenangkan hati Bela.
Bela menganggukan kepala nya"Kamu benar Tan," sahut Bela sambil melepaskan diri dari Tania.
__ADS_1