
Setelah memikirkan matang-matang apa yang akan terjadi jika sang kakak tau kelakuan Mita semenjak kepergian nya.
Tania lebih memilih menutup mulut daripada harus berkata jujur,menjaga otak sang kakak demi menyelamatkan dirinya dari kemurkaan.
Walau kenyataan nya Tania tak mampu menyembunyikan masalah ini,namun saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengurus makhluk licik yang satu ini.
"Kenapa diam saja,Tan?apa kamu gak setuju dengan permintaan aku barusan?".
"Iya kak,kita fokus pada Tari dulu yaa."
"Baiklah,Lalu bagaimana hubungan kamu dengan pak Ammar,Tan? apa dia sudah berubah?."
Mendengar ucapan Rani membuat Tania langsung menundukkan kepalanya,pikiran yang masih berkalut dengan ribuan ketakutan kini semakin bertambah.
Pernikahan yang seakan tak pernah di anggap ada kini tergiang kembali dalam ingatan.
Namun apa boleh di kata jika sang Takdir sudah memeluk nya,menjalani proses nya adalah tugas nya sebagai seorang hamba,walau hatinya sangat lah terluka.
Semua wanita menginginkan pernikahan akan berakhir dengan kebahagiaan,menyayangi satu sama lain dan menerima segala kekurangan masing masing,serta mengharapkan pahala berlipat ganda dari-Nya.
Namun nyatanya pernikahan di antara mereka boleh di katakan hanya sebagai permainan saja,pernikahan baru seumuran jagung ini telah berada di ambang kehancuran.
Siapa yang pantas di salahkan?dan mengapa harus berakhir seperti itu?dan apakah ini bisa di katakan salah memilih pasangan?
Jangan tanyakan lagi Mengapa harus seperti itu?karena Tuhan lah yang punya kuasa di atas segala-galanya.
Bisa jadi awal pernikahan di antara mereka adalah kehancuran,kehancuran karena banyak nya ujian yang menerpa nya,namun esok hari entah apa yang akan terjadi?
Takdir manusia tak ada yang tau,dengan siapa mereka berjodoh dan kapan mereka akan di pisahkan.
Kehidupan ini penuh dengan Lika dan liku dan juga misteri,jika bukan karena iman di dada maka semua nya akan runtuh,bukan?
Maka tanamkan lah kesabaran dan keikhlasan,jalani prosesnya dengan lapang dada,karena apa yang di takdirkan untuk mu maka itulah yang terbaik.
Tania hanya bisa menelan ludahnya kasar,istighfar berulang kali agar semua nya terlihat baik-baik saja.
__ADS_1
"Kenapa diam saja Tan?"
"Enggak papa kok kak,kita fokus cari Tari yaa sekarang."
Rani hanya mengangguk pasrah,pasrah karena ia tak ingin membuat Tania bersedih.walau kebenaran nya ia tau jika hati sang adik sedang tak baik-baik saja.
Mereka kembali menyusuri bagian ibukota,namun setelahnya mereka kembali lagi ke hotel,kembali dengan tubuh yang lelah dan rasa kecewa cukup dalam.
Menghempaskan tubuh begitu saja di atas tempat tidur,menatap langit-langit kamar sembari berpikir,berpikir ke mana lagi harus mencari gadis menyebalkan itu.
Walau kenyataan nya mereka benar-benar lelah.namun demi senyuman sang ibu,senyuman dari seorang wanita yang begitu sangat mereka sayangi,mereka harus tetap berjuang sampai mereka menemukan bocah keras kepala itu.
"Tan,apa kamu punya no ponsel pak Dion?" entah mengapa Rani hanya bisa mengandalkan pria ini,berharap dia bisa membantu nya dalam masalah ini.
Tania menggeleng kan kepalanya berulang kali"Enggak kak."
Rani menelan ludahnya kasar,bangkit dari tempat tidur lalu beranjak ke meja rias untuk mengambil sebuah ponsel.
"Semoga saja no pak Dion masih ada di kontak aku."lirih nya sambil berjalan menuju ke tempat tidur.
Setelah menemukan kontak pak Dion,wanita ini langsung tersenyum lebar dan tanpa mikir lagi dia segera menelpon pak Dion.
Rani mencoba untuk menenangkan diri sejenak,menghempaskan tubuhnya kembali ke tempat tidur lalu menatap langit-langit kamar.
"Tan,apa yang harus kita lakukan jika kita tak dapat menemukan Tari?".
"Menurut kakak?" tanya Tania balik karena dia benar-benar tak punya ide.
Rani memijat kepalanya berulang kali,wanita ini benar-benar pusing,pusing memikirkan bocah ingusan itu,"Aku juga gak tahu Tan."
"Apa sebaiknya kita nyerah aja kak? kasian kakak."
"Enggak Tan,klo kamu udah nyerah sebaiknya kamu pulang aja temani ibu."
"Enggak kak,kita harus sama-sama berjuang."
__ADS_1
"Tapi Tan..!"
Ucapan Rani terputus begitu saja karena ponsel nya tiba-tiba berdering,gadis ini kembali menelan ludah nya berkali-kali lalu segera bangkit dari tempat tidur.
"Pak Dion" gumam nya sembari tersenyum lebar.
"Assalamu'alaikum pak," sapa Rani penuh semangat,gadis ini berharap jika pria ini dapat membantu nya.
"W-walaikumussalam Ran,ada apa yaa?."
Tanpa perlu basa-basi lagi,gadis ini segera menyampaikan atas hilang nya bocah ingusan itu,pak Dion yang kenal baik dengan Tari hingga membuat pria itu berasa jantung nya sudah copot.
Pak Dion langsung mematikan ponsel nya begitu saja,mencari Tari detik ini juga,dan hal itu membuat Rani bernapas lega.
Gadis ini kembali lagi menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur,tersenyum lebar seperti orang sedang jatuh cinta.
"Cie.." goda Tania,gadis ini berharap jika hubungan di antara kedua makhluk ini baik-baik saja,maksud nya bisa akur tanpa menoleh lagi ke belakang.
Permusuhan yang terjalin selama bertahun-tahun lamanya, permusuhan karena adanya persaingan dalam bisnis,dan mungkin kah rasa itu akan berubah menjadi cinta?
Walau kenyataan nya pak Dion hanya memiliki gadis sang pujaan hatinya,namun jika Allah berkehendak maka tak ada yang tak mungkin di dunia ini.
Jodoh penuh dengan misteri,boleh jadi orang yang paling kita benci adalah jodoh kita sendiri,dan begitupun sebaliknya.
"Apa si Tan?hanya dia yang bisa membantu kita saat ini,dan semoga Tari secepatnya di temukan."
"Kak,sudah saat nya kakak membuka hati untuk pria lain,apa kakak tak memikirkan masa depan kakak sendiri?"
"Enggak Tan,aku hanya menginginkan satu pria saja untuk menjadi pendamping hidup ku,"potong Rani,gadis ini masih saja memikirkan tentang pria yang tak tau lagi di mana posisi nya saat ini.
"Tapi kak..!"
"Cukup Tan,"bentak Rani sambil bergegas bangkit dari tempat tidur"Lupakan soal pria saat ini,tugas kita masih banyak jadi jangan buang-buang waktu."
Tania hanya menelan ludahnya kasar,gadis ini sangat berharap jika sang kakak segera menikah,namun jika sudah begini Tania tak bisa berbuat apa-apa lagi,selain diam diam dan diam.
__ADS_1
Entah sampai kapan Rani akan membuka hatinya untuk pria lain,sementara umur nya sudah cukup matang untuk memikirkan masa depannya.
Ke dua nya saling berdiam diri sejenak.memikirkan banyak hal yang akan terjadi esok hari,ujian apalagi yang akan datang setelah melewati masa sekarang.