Istri Ke 2 Yang Terlupakan.

Istri Ke 2 Yang Terlupakan.
122.Villa.


__ADS_3

"Kamu kenapa,Tan?".


"Aku laper kak."sahut nya sambil mengelus-elus perutnya.


Ha-ha.


Rani tertawa terbahak-bahak,gadis ini kembali lagi ceria setelah melihat ekspresi wajah sang adik, sementara Tania,gadis ini memanyunkan bibirnya sembari melirik ke arah sang kakak.


"Enggak lucu," protes Tania lalu bangkit dari tempat tidur.


"Kata siapa?lihat tu wajah kamu di cermin,wajah nya seperti kucing sedang melahirkan."


"Malas ah! Tania bergegas keluar dari kamar.sementara Rani gadis ini masih saja terkekeh sambil geleng-geleng kepala.


Setibanya di restoran ke dua wanita ini di pertemukan kembali dengan sosok seorang pria,pria yang selama ini telah menghilang tanpa jejak.


"Pak Taufik,"lirih nya sambil menelan ludahnya kasar.


Saat ini mereka sedang berhadapan dengan pak Taufik,menundukkan kepalanya sembari berpikir,mengapa pertemukan ini harus terjadi?apa dia sudah memiliki pasangan?.


Ke dua makhluk berbeda jenis kelamin ini sama-sama merasa canggung,Rani dan pak Taufik enggan untuk saling menyapa, sementara Tania,gadis ini tersenyum lebar sembari menatap mereka satu-persatu.


"Assalamu'alaikum pak,bagaimana kabar nya hari ini?"Sapa Tania.gadis ini bisa saja di andalkan untuk mengubah suasana.


Pak Taufik perlahan-lahan mengangkat kepalanya,menatap ke arah Tania sejenak lalu menelan ludahnya kasar"W-walaikumussalam Tan, alhamdulillah."


Ke dua nya saling berbincang-bincang sementara Rani,gadis ini lebih memilih untuk mencari tempat,tempat untuk menata hati yang sedang malu-malu kucing.


Cinta yang pernah kandas karena suatu masalah,lantas mengapa mereka kembali lagi di pertemukan saat ini?


Apakah semua ini murni karena rencana Allah,ataukah memang cuma kebetulan saja?


Memikirkan hal itu membuat Rani bingung sendiri.duduk di kursi sembari memijat kepalanya,kepala yang tiba-tiba saja pusing secara mendadak.


"Cie..kakak" goda Tania lalu menghempaskan tubuhnya begitu saja di kursi.


"Tan,kamu sadar gak si? bagaimana kalau kamu keguguran?ceroboh amat."


"Ah kakak gitu aja marah!"protes Tania lalu memonyongkan bibirnya,bukan nya minta maaf malah protes gak jelas.


Ke dua nya saling berdiam diri sejenak,memikir kan banyak hal dan enggan untuk saling menyapa.

__ADS_1


"Kenapa tu muka? jelek amat si?",tanya pak Dion sambil terkekeh.


Kedatangan pak Dion membuat Rani dan Tania saling menatap sejenak, kedatangan pria ini hampir saja membuat jantung nya copot.


"Ngapain bapak di sini? bukan nya ucap salam malah bikin jantungku hampir copot,"protes Tania tak terima,gadis ini menatap ke arah pak Dion dengan tatapan tajam.


Pak Dion hanya tersenyum lebar,menghempaskan tubuh nya di kursi lalu menopang dagunya di atas meja.


Pria ini kelihatannya sangat lelah,melirik kanan dan kiri memperhatikan tingkah ke dua wanitanya.


Kalau boleh jujur pak Dion begitu bangga berada di samping gadis-gadis cantik.gadis yang selama ini membuat nya gila,namun sayang sekali sampai detik ini rezekinya belum berpihak.


Pria ini menelan ludah nya berkali-kali,memikirkan banyak hal dan seperti nya pria ini benar-benar nekat untuk memiliki Tania segera.


Kalau sudah cinta,maka tai kucing bisa jadi rasa coklat.tak memandang masalalu nya seperti apa,yang terpenting adalah cinta nya bisa mengalahkan apa pun saat ini.


Pria ini kembali menelan ludah nya berkali-kali,lalu mengelus perut nya yang telah minta di isi.


"Ngapain bengong saja?ada masalah lagi? lalu bagaimana dengan Mita?


Pertanyaan bertubi-tubi dari pak Dion membuat Rani perlahan-lahan mengangkat kepalanya,menelan ludahnya kasar lalu menoleh ke arah pak Dion.


"Tak perlu bapak menyebut nama itu lagi,aku muak dengan nya," ujar nya lalu memanggil waitress.


"Dia peng**nat pak," sambung Tania setelah melihat sang kakak sebentar lagi kejang-kejang.


"Peng**nat?maksud nya apa Tan,"pria ini bukan nya diam malah justru semakin kepo.


Ke dua nya masih sibuk berbincang-bincang sementara Rani,gadis ini sibuk memesan makanan serta minuman.dan seperti nya gadis ini benar-benar kelaparan.


Setelah hidangan sudah tertata rapi di atas meja.ketiga makhluk ini segera mengisi perut satu persatu,tak ada yang berani bersuara hingga menu di atas meja ludes semuanya.


"Apa bapak bisa membantu ku?".


"Bantu apa Ran?".


"Aku butuh villa dekat pantai," jelas nya lalu bangkit dari kursi dan berlalu.


Gadis ini benar-benar butuh ketenangan.melepaskan apa yang perlu di lepaskan,termasuk salah satu perusahaan kesayangan nya.


"Villa," lirih Tania dan pak Dion lalu menatap satu sama lain"Apa sebenarnya yang terjadi,Tan?tolong jelaskan."

__ADS_1


"Kakak butuh ketenangan pak,menjual perusahaan lalu hidup jauh dari keramaian."


"Apa? pria ini benar-benar kaget, geleng-geleng kepala sembari menelan ludahnya berkali-kali.


Tanpa aba-aba,pria ini segera bangkit dari kursi lalu berjalan bolak-balik gak jelas"Ada apa pak?".


"Tan,apa itu sudah keputusan yang terbaik buat Rani?."


"Iya pak,emang nya ada apa?."


Pria ini mengabaikan ucapan Tania begitu saja,bolak-balik sembari gigit jari lalu bergumam"Perusahaan itu harus jadi milikku."


"Baiklah,kita tunggu tanggal mainnya,"pria ini benar-benar kegirangan,entah apa yang dia rencana kan.


"Tanggal mainnya?".


"Iya Tan,udah lah kamu tak perlu banyak mikir,ini tentang masa depan ki..!".


Ucapan pak Dion terputus begitu saja.pria ini langsung menutup mulut nya dengan tangan kanan,menatap ke arah Tania tanpa berkedip"hampir saja," gumam nya sembari tersenyum menampakkan gigi putih nya.


"Kenapa bapak menatap aku seperti itu?bapak baik-baik saja kan?."tanya Tania memastikan.


"Kamu pikir aku gila apa?enak aja,"tebak pak Dion sambil menatap sinis.


Kedua makhluk ini saling berdiam diri,kedatangan Rani membuat mereka harus menutup mulut rapat-rapat.


"Ada apa ini? bagaimana pak?apa bapak sudah siap membantu ku?".


"Siap Ran."


"Terimakasih pak."


Pak Dion menganggukan kepalanya berulang kali,menatap ke arah Rani begitu lama entah apa yang ia pikirkan.


"Oh ya Ran,apa benar kamu ingin menjual perusahaan itu?."


Rani menganggukan kepalanya"Iya pak,apa bapak berminat?."


Pak Dion tersenyum tipis"Sangat Ran.sayang sekali kan kalau perusahaan itu jatuh ke orang lain?."


"Iya si pak,syukur lah kalau bapak berminat."

__ADS_1


Pak Dion dan Rani masih saja asyik berbincang-bincang,sementara sang calon ibu ini sedang sibuk memikirkan banyak hal.


Ada perasaan lega jika perusahaan itu jatuh nya kepada pak Dion,namun hatinya tetap saja tak rela jika perusahaan itu harus di jual saat ini juga.


__ADS_2