Istri Ke 2 Yang Terlupakan.

Istri Ke 2 Yang Terlupakan.
92.Tangisan.


__ADS_3

"Darimana saja kalian?" tanya sang ibu sambil memasang wajah sangar nya.


Wanita paruh baya itu benar-benar bingung melihat tingkah ke dua putrinya,yang semakin hari semakin gila menurut nya.


Sementara Tania dan Tari mereka masih sibuk menarik napas panjang,sambil menundukkan kepalanya di hadapan wanita paruh baya itu.


Mereka tak berani menatap wajah sang ibu,apalagi memberi Jawaban atas pertanyaan beliau barusan.


"Kenapa diam saja?"tanya sang ibu sekali lagi.


"K-kami habis olahraga Bu," sahut Tari asal.


"Yang benar saja kamu Tari,"protes sang ibu.karena menurut nya ke dua putrinya tak pernah olahraga.


"I- iya benar Bu,"sahut Tania gugup sambil menatap wajah sang ibu.


"Iya sudah! Kalian di rumah saja ibu ingin keluar sebentar,dan ingat kalian tidak boleh aneh-aneh atau bahkan bertengkar,Awas," Ancam sang ibu dan berlalu.


"Tenang saja Bu," seru Tari sambil menatap punggung lebar sang ibu.


"Tari! kenapa kamu harus berbohong kepada ibu?" tanya Tania.


"Emang nya kakak berani jujur tentang kehadiran Bela sekarang? sedangkan kakak tahu sendiri bangaimana sikap ibu saat ini,"protes Tari menyakinkan.


Gadis kecil itu benar-benar bingung melihat sikap Tania seperti itu,sementara Tania dia benar-benar merasa bersalah dan bahkan berdosa karena mereka harus rela berbohong demi keselamatan Bela.


Namun mereka tak punya pilihan lain selain mengorbankan perasaan sendiri,melakukan dosa demi semata menyelamatkan sang pengemis itu.


"Aku tahu itu Tari,tapi sampai kapan kita harus bertahan dalam situasi seperti ini?" jelas Tania


"Baiklah! malam nanti adalah waktu yang tepat untuk berkata jujur kepada ibu.dan apa kah kamu siap untuk menerima segala resikonya?".


Pertanyaan dari gadis kecil itu membuat Tania berpikir keras,walau sebenarnya kenyataan nya sangat sulit untuk berkata jujur.


Namun Tania tidak memiliki pilihan lain selain berkata jujur demi kebaikan bersama,baik kepada ke dua gadis cantik itu, maupun kepada Bela yang masih terkurung dalam sangkar nya.


"Insyaallah Tar,aku sudah siap untuk menanggung segala resikonya,dan semoga harapan kita terkabul," sahut Tania lalu menelan ludah nya berkali-kali.


"Tapi Tan! apakah kamu benar-benar yakin jika Bela sudah berubah menjadi lebih baik lagi?".


Entah mengapa gadis kecil itu tiba-tiba saja mengajukan pertanyaan itu kepada Tania.

__ADS_1


Sementara Tania, mendengar pertanyaan gadis kecil itu membuat Tania membulat kan bola matanya.


"Apa maksud kamu Tari? bukan ka kamu sendiri telah membuktikan bagaimana sikap Bela saat ini,bahkan tangisannya belum juga kering sampai detik ini,lantas mengapa engkau harus bertanya bodoh seperti itu?" seru Tania kesal.


Tania benar-benar tak terima dengan keraguan Tari saat ini,karena menurutnya Bela benar-benar telah berubah dan tak mungkin bisa kembali seperti dulu lagi.


Namun seketika Tari memasang wajah malas di hadapannya,Tania bergegas meninggalkan nya begitu saja.


"Kakak," panggil Tari lalu bergegas menyusul Tania.


Malam pun tiba.


Ketika menu masakan telah di hidangkan di atas meja,para rombongan telah siap untuk mengisi perut yang telah keroncongan sejak tadi.


Tari sengaja duduk berdampingan dengan sang ibu, sementara Tania ia lebih memilih untuk berhadapan dengan sang ibu agar rencana nya bisa berhasil malam ini.


"Wow...masakan nya enak banget,"ujar Tari sambil menelan ludah berkali-kali.


"Tari sebaik nya kamu panggil ibu susi untuk segera bergabung dengan kita,"pinta sang ibu.


"Baik Bu," sahut Tari semangat lalu bergegas berjalan menuju ke dapur.


Demi rencana yang telah di susun sehebat mungkin di kepala gadis itu,gadis kecil itu berusaha untuk menenangkan hati sang ibu.


Namun demi rencana yang telah tersusun rapi di kepala nya,Tania harus melupakan Bela untuk sementara waktu demi keselamatan dirinya dari sang ibu.


"Bu, bolehkah Tania bertanya sesuatu?".


"Boleh saja,Nak"sahut sang ibu sambil mengambil sebuah piring.


Tania menghela napas panjang,gadis cantik tersebut benar-benar memiliki keberanian untuk berkata jujur saat ini.


Sementara sang ibu,wanita paruh baya itu kebingungan sendiri"Apa lagi yang engkau pikirkan?bertanya lah."


"Baik Bu," sahut Tania sambil menatap wajah sang ibu"Bu,apakah ibu masih ingat dengan mantan istri pak ammar?".


"Mantan istri?istri yang mana maksud kamu?" tanya sang ibu bingung.


"Ya ampun ibu,masa ibu lupa si dengan Bela."


Mendengar ucapan Tania membuat sang ibu membulatkan bola mata nya.

__ADS_1


Wanita paruh baya itu tiba-tiba teringat kembali,bagaimana sikap Bela yang tak bisa menjaga sikap nya tempo hari.


"Iya,ibu masih ingat dengan wanita licik itu,emang nya kenapa,Nak?".


Ingin rasanya Tania mengurungkan niat nya untuk berkata jujur setelah ia mendengar ucapan sang ibu barusan.


Namun sampai kapan Bela akan bertahan dalam situasi seperti itu?


Lantas apa yang harus Tania lakukan?agar sang ibu bisa memaafkan kesalahan Bela selama ini.


Tania mencoba menenangkan diri sejenak,menelan ludah berkali-kali lalu kembali menghadapi sang ibu.


"Enggak papa kok Bu,Tania cuma mau bilang jika Bela saat ini telah hijrah Bu."


"Hijrah,apa itu hijrah?" tanya sang ibu bingung.


Tania terkekeh lalu bergegas bangkit dari kursi lalu berjalan melewati meja dan duduk di samping sang ibu.


"Ibuku sayang,hijrah itu adalah meninggalkan perkara buruk menuju yang lebih baik ibu,"jelas Tania sambil memegang ke dua tangan wanita paruh baya itu.


"Apa! mana mungkin wanita licik seperti dia bisa berubah sekejab saja?binatang lebih mulia daripada..."


"Astaghfirullah," gumam Tania sambil menatap wajah sang ibu begitu dalam.


Sementara wanita paruh baya itu tiba-tiba saja mematung dan membisu,ingin rasanya ia tarik kembali ucapan nya agar Allah tidak murka kepada nya.


Namun semua nya sudah terlambat seketika sang ibu menyadari kembali,jika ucapan yang telah terlontar dari bibir nya baru saja,itu semua akan di pertanggung jawab kan di akhirat kelak.


Terlebih lagi dengan ucapan yang buruk,tentunya akan kembali kepada diri masing-masing.


Ucapan adalah doa maka berucap lah yang baik-baik,agar yang baik-baik pula akan kembali kepada diri sendiri.


Tidak ada satupun manusia yang bisa menjaminkan dirinya ahli syurga,dan tidak ada jaminan neraka bagi manusia yang buruk masa lalu nya.


Karena amal seseorang hanya Allah yang tahu,dan Allah lebih menyukai taubat nya sang pendosa daripada para alim yang sombong.


Setelah menyadari semua itu,sang ibu segera istighfar kepada Tuhan nya.dan tanpa terasa tetesan air mata nya pun kembali lagi terjatuh ke bumi.


Memang tidak bisa di pungkiri jika obat untuk melembutkan hati adalah istighfar berulang kali,dan menyadari kembali jika kita hanyalah manusia pendosa yang masih berjalan di muka bumi ini.


TB.

__ADS_1


Bantu Author dengan vote,like serta koment.


__ADS_2