Istri Ke 2 Yang Terlupakan.

Istri Ke 2 Yang Terlupakan.
144.Rencana.


__ADS_3

Setelah puas menangis ke tiga wanita ini kembali lagi menebarkan senyuman.senyuman manis atas kedatangan pak Dion yang telah berhasil membuat mereka tertawa bahkan mereka telah melupakan permasalahan yang mereka hadapi saat ini.


Kedatangan laki-laki ini tiba-tiba saja membuat suasana menjadi berubah,walau nyatanya ia masih sulit untuk menerima kenyataan ini.namun sebagai seorang laki-laki pak Dion berusaha tegarkan diri agar semuanya terlihat baik-baik saja.


Setelah puas tertawa sang ibu menatap dalam-dalam laki-laki yang sedang duduk berhadapan dengannya, laki-laki yang Allah kirimkan sebagai pria yang bertanggungjawab untuk anak-anak nya.


"Terimakasih banyak atas kehadiran kamu di sini,Nak."


Pak Dion mengangguk-anggukkan kepala nya sembari tersenyum"Sama-sama ibu,tapi boleh ka aku menyampaikan sesuatu untuk ibu?."


"Boleh Nak,apa itu?."


Pak Dion segera menatap ke arah Tania dan Tari, laki-laki ini sepertinya kembali lagi untuk melamar sang gadis bunga desa itu,gadis yang di ceraikan sang suami begitu saja tanpa memikirkan bagaimana nasib anak dan istrinya esok hari.


"Tania aku datang ke sini hanya untuk menyampaikan niat baik aku,dan bersedia kah kamu menerima lamaran aku di hadapan ibu dan Tari saat ini?."


Secepat kilat Tania menggelengkan kepalanya"Mohon maaf pak,untuk saat ini aku belum bisa menerima lamaran dari siapa pun termasuk bapak."


Pak Dion menghela napas panjang lalu menghembuskan nya secara kasar.laki-laki ini benar-benar bingung,bingung atas sikap Tania yang selalu saja menolak nya setiap kali pak Dion mengutarakan niat baiknya.


"Tan,apakah aku enggak pantas untuk mendampingi kamu?."


Pertanyaan dari pak Dion membuat Tania menjadi serba salah.gadis ini benar-benar bingung bagaimana ia mampu menjelaskan kepada pak Dion jika ia belum pantas untuk di nikahi oleh nya alasan karena ia sedang hamil,maksud nya ia belum keluar dari masa Iddah nya.


"Nak Dion bukan begitu.tapi coba lah untuk bersabar sampai Tania melahirkan nanti.Bukan kah begitu Tania?," sang ibu mencoba menjelaskan lalu bangkit dan mencoba berjalan mendekati pak Dion.


"Kamu adalah laki-laki yang baik untuk Tania Nak,jadi ibu minta satu hal bersabar lah untuk sementara waktu."


Pak Dion menganggukkan kepalanya begitupun dengan Tania.sementara Tari,gadis ini tersenyum lebar sembari menatap satu-satu makhluk yang ada di hadapannya saat ini.


"Nikah sama aku saja pak,Boleh kan Bu?"Tanya Tari sembari terkekeh.

__ADS_1


Para rombongan kembali lagi menebarkan tawa karena ulah si gadis kecil ini,mereka tampak nya telah mampu melewati ujian berat seperti kehilangan sosok wanita cantik dan berhati mulia seperti Rani.


Karena bagaimana pun juga sejatinya manusia esok atau lusa semuanya pasti akan berpisah di dunia,hanya saja mereka menunggu giliran masing-masing.


"Jangan pikirkan nikah dulu,Tari.kamu ini masih kecil dan mana mungkin ibu membiarkan kamu menikah dengan Nak Dion."


"Ah ibu,Tari kan udah dewasa bu.Benar begitu kan pak?,"tanya Tari sembari menatap ke arah pak Dion,sementara laki-laki ini hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Apa susah nya si pak iyakan saja?bikin sebel aja de!."


"Ha-ha,"Pak Dion tertawa lebar"Iya de,kamu udah dewasa tapi apa kamu jika aku pilihkan jodoh untuk kamu?."


"Tidak boleh pak! Tari masih kecil jadi tidak boleh pikirkan nikah dulu,"protes Tania dengan intonasi suara tinggi.


"Bilang aja cemburu?,"desis Tari sambil terkekeh.


"Apa-apaan si Tar! ini juga demi kebaikan kamu jadi kamu tidak boleh protes lagi,Awas!."


Tari segera mematuhi perintah sang ibu.gadis kecil ini tidak berani sedikit pun menolak perintah sang ibu dan ke dua nya segera meninggalkan Tania dan pak Dion.


"Tan,bagaimana perasaan kamu saat ini?apa kamu sudah ikhlas atas kepergian Rani untuk selama-lamanya?,"tanya Pak Dion demi memastikan.


"Insyaallah pak aku sudah ikhlas."


"Syukur Alhamdulillah kalau begitu Tan,lalu bagaimana dengan kabar ibu Rani saat ini?."


"Beliau Alhamdulillah baik-baik saja kok pak,cuman beliau meminta untuk kembali lagi ke tempat semula."


"Tempat semula?,"tanya pak Dion bingung sembari menatap ke arah Tania.sementara Tania,gadis ini hanya bisa mangguk-mangguk.


"Tidak bisa Tan,apa pun yang terjadi ibu enggak boleh tinggalkan villa itu,Kasian ibu."

__ADS_1


"Iya pak,tapi ibu tetap ngotot untuk kembali ke gubuk itu,"jelas Tania meyakinkan pak Dion.


Pak Dion menelan ludahnya berkali-kali.laki-laki ini benar-benar bingung,bingung memikirkan langkah apa yang harus ia tempuh agar ibu mertuanya tetap bertahan di villa itu.Karena bagaimanapun juga ibu mertua nya sudah ia anggap sebagai ibu kandungnya sendiri.


"Apa yang harus kita lakukan pak? dan apa boleh kita mengajak ibu sekalian tinggal bersama kami di sini?."


Pertanyaan dari Tania membuat pak Dion semakin bingung,bingung memikirkan bagaimana agar ke dua wanita paruh baya itu saling memaafkan satu sama lain?sementara di antara mereka masih saja menyimpan dendam yang cukup dalam.


Entah sampai kapan mereka seperti itu?sementara ajal tidak akan pernah menunggu taubat nya sang pendosa.


"Ini adalah perkara yang begitu sulit untuk aku Tan,


sedangkan kamu tahu sendiri kan bagaimana keras nya hati yang di miliki ibu Tuti?."


Tania berdiam diri sejenak.gadis ini hanya bisa menundukkan kepalanya sembari mencari solusi,solusi agar mereka bisa menyatukan kedua wanita paruh baya itu.


"Tan,bagaimana jika urusan ini kita serahkan kepada Tari?kamu kan tahu sendiri bagaimana kedekatan ibu Tuti dan Tari saat ini?


Secepat kilat Tania menyetujui permintaan dari pak Dion.gadis ini segera bangkit lalu meninggalkan pak Dion begitu saja,buru-buru berjalan demi mencari keberadaan gadis kecil itu.


"Tari,"teriak Tania begitu nyaring hingga membuat Tari dan sang ibu membulat kan bola matanya"Ada apa si,Kak?,"tanya Tari bingung sembari berjalan mendekati Tania dan di susul oleh sang ibu.


"Ada apa,Tania?Kamu baik-baik saja kan,Nak?."


"Aku baik-baik saja kok,Bu."


"Lalu?."


"Ayo ikut aku sekarang Tari,kakak pengen ngomong sesuatu sama kamu,"secepat kilat Tania menarik tangan si gadis kecil ini lalu menuntun nya ke tempat pak Dion.sementara sang ibu,wanita paruh baya ini hanya bisa menundukkan kepalanya.


Kalau boleh jujur wanita paruh baya ini rasa-rasanya ingin menangis sekencang-kencangnya,karena ingatan nya tiba-tiba saja terlempar kepada sosok seorang putri yang telah pergi untuk selama-lamanya.

__ADS_1


__ADS_2