
"Maa syaa Allah villa nya keren banget kak," puji Tania setelah berada di tengah-tengah kawasan villa,di kelilingi oleh pohon kelapa serta hamparan pasir putih pantai.
Rani hanya tersenyum lebar,gadis ini tak henti-hentinya mengucap syukur kepada Tuhan nya,karena keinginannya terkabul secepat kilat.
Pemandangan indah yang sangat memanjakan mata di sekitar villa ini,hingga membuat ke dua gadis ini melupakan sejenak masalah yang mereka hadapi saat ini.
Mereka memantapkan diri untuk tinggal di villa ini untuk sementara waktu,memanjakan otak dan tubuh yang lelah akibat ribuan ujian yang datang menerpanya selama ini.
Setelah capek mengelilingi lokasi villa,ke dua gadis ini segera masuk ke dalam bangunan minimalis,bangunan yang bertingkat tiga dan di lengkapi dengan perabotan serba mewah. yang harganya tidak tanggung-tanggung.
Rasa-rasanya Tania ingin meloncat-loncat seperti bocah ingusan saking senang nya berada di tempat ini,menghempaskan tubuhnya begitu saja di atas tempat tidur begitu saja hingga membuat Rani membulatkan bola matanya.
"Tania,"teriak Rani,gadis ini nampak nya murka.rasa-rasanya ingin menelan tubuh Tania bulat-bulat"Apa-apaan kamu?apa kamu enggak sayang dengan bayi yang ada di kandungan kamu?."
"Ah kakak,gitu aja marah," protes gadis cengeng dan kepala batu ini,bukan nya minta maaf malah protes enggak jelas
"Kamu..!"
Ucapan Rani terputus begitu saja,gadis ini secepat kilat menekan dada nya.menekan dengan tangan kirinya sembari mengulurkan tangan ke arah Tania,memberi isyarat agar Tania segera menolong nya.
"Kakak,"teriak Tania sembari loncat dari tempat tidur lalu berlari menghampiri sang kakak"Kakak kenapa?."
Rani hanya berdiam diri sembari susah payah mengatur napas"Kakak,kakak baik-baik saja kan?" tanya Tania demi memastikan sembari bergegas memeluk tubuh sang kakak.
"A-aku baik-baik saja kok Tan,ayo kita istirahat."
Tania menganggukan kepalanya sembari membantu sang kakak,membantu nya berdiri dan menuntun nya ke tempat tidur.
"Kakak baik-baik saja kan?"tanya Tania sekali lagi sembari menatap wajah sang kakak begitu lama,wajah yang memucat dan seluruh tubuh nya keringat dingin.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja kok,Tan.kamu tenang saja yaa,"sahut nya penuh dusta demi menjaga kekhawatiran Tania.
"Tapi wajah kakak pucat banget,kita ke dokter yuk."
Rani menggeleng berulang kali sembari menelan ludahnya berkali-kali"Enggak Tan,aku cuma butuh istirahat saja."
Rani segera membaringkan tubuhnya,tubuh yang sedang tak baik-baik saja.namun demi menutupi segala nya,gadis ini pura-pura kuat di hadapan Tania. walau kenyataan nya dada nya sungguh terasa perih.
Rasa-rasanya ingin bermanja-manja di pangkuan sang ibu,mengeluhkan segala beban hidupnya.namun seketika mengingat kembali bagaimana sikap sang ibu selama ini terhadap nya,gadis ini hanya bisa menelan ludahnya kasar sembari menatap langit-langit kamar.
"Kakak tidur ya" ujar Tania sembari menarik selimut lalu duduk di sampingnya,mengusap kepalanya berulang kali hingga membuat Rani langsung memejamkan matanya.
Tania menatap wajah Rani begitu lama,dan tanpa terasa linangan airmata nya kembali lagi terjatuh.
Gadis ini begitu yakin jika orang yang sedang tertidur pulas di samping nya sedang tak baik-baik saja,gadis ini kembali lagi menelan ludahnya kasar.menggelengkan kepala nya sembari mengelus wajah sang kakak.demi langit dan bumi gadis ini tak ingin kehilangan sang kakak sedetik saja.
2 jam kemudian.
"Hey Tan," sapa sang kakak sembari duduk di samping Tania.
"Apa kakak sudah baik-baik saja?."
Secepat kilat Rani menganggukan kepalanya"iya Tan.oh ya Tan,aku mau ngomong sesuatu."
Tania langsung menyipitkan matanya,otak dan hatinya terhubung begitu cepat"Seperti nya ini masalah pak Dion," gumam nya sembari mengangkat bokong nya lalu menelan ludahnya berkali-kali.
"Tan,boleh ka aku meminta sesuatu darimu?".
"Soal poligami itu kan,kak?,"tebak Tania lalu bangkit dari kursi panjang.
__ADS_1
Rasa-rasanya Tania ingin mencabit-cabit tubuh pak Dion lalu melemparkannya ke dasar laut,pria ini benar-benar membuat otak nya kepanasan.
Gadis ini kembali lagi kesurupan,bolak balik di depan sang kakak sembari gigit jari,dan tiba-tiba saja otak nya berjalan begitu cepat.
Bagaimana ia bisa menerima permintaan konyol itu? bagaimana ia bisa menjalani poligami dengan seorang wanita yang selama ini telah di anggap kakak sendiri?
Memikirkan semua itu membuat Tania langsung mengepalkan tangannya,menggeleng kepalanya berulang kali tanda tidak setuju.
"Tan,ini semua demi kebaikan kita.jadi pikirkan lah baik-baik," Rani kembali menasehati gadis sebiji ini,gadis yang sedang kepanasan seperti cacing yang tersiram minyak kayu putih.
"Kita?"tanya Tania sembari bergegas duduk di hadapan Rani"Kak pikirkan lah baik-baik,aku ini adik mu,."
Rani menatap ke arah Tania begitu lama,memikirkan resiko yang akan terjadi esok hari.namun sebagai seorang gadis sang pengusaha sukses ini,tak ada yang bisa membantah nya jika keputusan nya sudah bulat.
"Cukup Tan!kamu sudah terlalu banyak mengoceh.apa yang terjadi hari ini adalah yang terbaik untuk kita.ini semua demi masa depan kamu,dan pak Dion adalah pria yang baik.percaya sama kakak."
Lagi-lagi Rani mengucapkan kalimat yang bisa membuat Tania tak berdaya,gadis ini segera memeluk lutut sang kakak.memeluk nya begitu erat hingga linangan airmata nya kembali lagi terjatuh.
Kapan lagi bisa membahagiakan orang yang selama ini telah banyak berjuang untuk nya?dan kapan lagi bisa membalas kebaikan orang yang selama ini telah mengangkat derajatnya?
Kedua gadis malang ini meneteskan airmata nya.menerima segala Takdir nya dengan lapang dada,menerima kehadiran pak Dion karena Allah.
"Aku tau kamu belum bisa menerima kenyataan ini,Tan.tapi kamu masih punya banyak waktu untuk menilai seperti apa sosok pak Dion,setelah kami menikah nanti."
Setelah Rani kembali lagi menjelaskan semuanya.gadis cacing ini perlahan-lahan mengangkat kepalanya,menatap wajah sang kakak sembari mengangguk pasrah.
Deal,persyaratan dari pak Dion di terima dengan baik oleh Tania.mereka kembali lagi tersenyum dan semoga harapan-harapan mereka segera terwujud.
Satu bulan kemudian.
__ADS_1
Acara pernikahan Pak Dion dan Rani telah tersusun dengan baik,ke dua gadis ini segera pulang untuk merayakan pesta sederhana ini.pesta yang akan di laksanakan secara kekeluargaan,yang terpenting sah di mata hukum dan agama.
Tak perlu berlebihan untuk merayakan pernikahan,karena berlebihan adalah sikap yang tidak terpuji.