Istri Ke 2 Yang Terlupakan.

Istri Ke 2 Yang Terlupakan.
112.Siapa Yang Pantas Di Salahkan?


__ADS_3

"Apakah kakak sudah memiliki pacar?"


Pertanyaan konyol dari gadis kecil itu membuat Rani terkekeh,gadis imut yang menggemaskan seperti Tari bisa saja di andalkan untuk menghibur hatinya,bahkan wanita itu sudah melupakan kekacauan yang baru saja terjadi beberapa menit yang lalu.


"Ih kakak,kok malah tertawa si?" sambung nya kembali.


Gadis kecil itu memperhatikan paras wajah yang cantik jelita yang di miliki oleh wanita sang pemilik perusahaan itu.


Kecantikan yang di miliki oleh nya tak dapat di ragukan lagi,mata kecoklatan,kulit putih,body layak nya seperti model.


Tentu Pujaan bagi para lelaki,bukan?


"Kakak gak punya pacar,sayang,"jelas nya sambil mencolek hidung gadis menggemaskan ini.


"Masa si kak?"


Rani menganggukan kepalanya"Emang nya kenapa sayang?apa kakak udah terlalu tua?" tanya nya balik.


Gadis kecil itu menganggukan kepalanya"Kata siapa kakak tua?boleh ka Tari mengelus-elus wajah kakak?."


Tanpa di persilahkan gadis kecil itu segera mengelus-elus wajah cantik itu.sementara Rani,wanita itu hanya bisa berbadan pasrah sambil menatap wajah malang dari gadis kecil itu.


Ketulusan hati dan kepolosan yang di miliki oleh gadis kecil itu hingga bisa membuat Rani terasa nyaman berada di samping nya.bahkan dia seperti menemukan orang yang tepat untuk nya,maksud nya orang yang bisa membuat wanita itu tersenyum,melupakan masalah yang bersarang dalam diri nya saat ini.


"Apa sudah puas?"gadis kecil itu menggeleng kan kepalanya,dan tak selang berapa lama kelopak mata nya di banjiri oleh air bening,entah apa yang di pikirkan oleh nya?


Ke dua nya saling membisu,Rani yang tau persis bagaimana perasaan gadis kecil itu.dia langsung saja mendekap nya begitu erat,mengelus-elus kepala nya dan bahkan airmata nya tertumpah ruah di bawah gadis kecil ini.


"Kakak," sapa Tania.


Dengan bola mata sebesar bola golf,berjalan lesu seperti kambing sedang mencret,hingga membuat Rani membulatkan bola matanya.


"Kakak jahat," sambung nya kembali sambil menyeka airmata yang masih berlinang.


"Aku?"


Rani benar-benar bingung apa yang sedang terjadi dengan gadis sebiji ini?


"Ada apa dengan mu,Tan? tanya nya kembali tanpa dosa.


Tari yang bangkit dari dekapan Rani langsung membulat kan bola matanya"Kenapa tu muka? jelek amat si?."


Pertanyaan bertubi-tubi dari kedua makhluk ini membuat Tania bingung,bolak balik gak jelas sembari memikirkan Bela,wanita itu benar-benar nekat,memilih pergi daripada harus bertahan.

__ADS_1


Padahal Rani bisa saja menerima nya tanpa harus melihat ke belakang.


"Tania duduk lah," pinta Rani setelah bosan melihat makhluk ini mondar-mandir tanpa tau apa yang sedang terjadi.


"Kakak jahat,"ujar nya kembali sambil menghentikan langkahnya.


Mendengar ucapan Tania membuat Rani menelan ludahnya kasar,wanita itu segera bangkit lalu mendekati gadis manja ini"Ada apa,Tan?."


"Kak,Bela telah memutuskan untuk pergi dari rumah ini."


"Syukur lah," sahut nya ketus.


"Apa?itu tidak mungkin,"sontak Tari kaget lalu bangkit dari sofa.


"Ayo kak kita cari Bela sekarang,"rengek Tari sambil menggenggam tangan Rani.


"Enggak sayang,biarkan dia pergi,"protes Rani.


Tari menggeleng kan kepalanya,gadis kecil ini tak tega jika sampai Bela kembali lagi seperti pengemis.


Demi langit dan bumi gadis kecil ini benar-benar tidak terima jika kenyataan nya seperti itu,


Bagaimana jika Bela kelaparan? bagaimana rasanya hidup tanpa keluarga? bagaimana rasanya hidup di jalanan,bla..bla.


Padahal Rani belum menerima penjelasan apa pun dari mereka,siapa yang hendak di salahkan?siapa pun berada di posisi Rani tentu mereka akan mengalami hal yang sama.


Padahal Rani adalah manusia yang berhati mulia,mudah memaafkan dan bahkan tak pernah menyombongkan kedudukannya saat ini.


"Kak,aku juga harus pergi dari sini,"ujar nya lalu melangkah kan kaki nya.


"Aku juga,"tambah Tania lalu menyusul gadis kecil ini.


"Apa-apaan ini," teriak Rani.


Suara yang begitu lantang keluar dari bibir wanita ini,hingga membuat Tari dan Tania menghentikan langkahnya.


Mereka tak berani membuka suara,apalagi sampai menoleh ke belakang,tubuh nya berdiri kaku seolah-olah menjadi patung yang bernyawa.


"Tolong jelaskan apa sebenarnya yang terjadi,dan mengapa kalian harus mengambil tindakan bodoh seperti ini?," tanya Rani sambil berjalan dengan mata melotot dan darah mendidih.


Wanita ini benar-benar murka, kemurkaan nya melewati batas hingga lupa mengontrol diri,padahal dirinya sedang tak baik-baik saja.


Tari dan Tania masih dalam posisi yang sama,namun setelah kedatangan sang ibu mereka telah bernapas lega,menelan ludah nya kasar dan berharap wanita paruh baya ini datang sebagai Dewa penolong.

__ADS_1


"Ada apa,Nak?".


"Entah lah Bu! coba tanyakan pada mereka apa sebenarnya yang terjadi?"jelas Rani sambil berlalu.


Demi menjaga otak tetap waras Rani memilih menenangkan diri di kamar,menjaga lidah agar tak melukai,dan menjaga sikap di hadapan orang-orang tercinta agar tetap terhormat di mata mereka.


"M-maafkan kami,Bu,"sahut Tari sambil mendekati sang ibu.


"Tolong jelaskan apa yang membuat Rani marah besar?".


"B-bela Bu."


"Ada apa dengan Bela?."


"Bela pergi,Bu," jelas Tania sambil mendekati sang ibu.


"Apa,Pergi?".


Ke dua gadis itu bergegas mengangguk-ngangukkan kepala nya"Benar Bu,tapi ibu tenang saja kami akan segera mencari nya."


"Rani benar-benar keterlaluan,"sarkas sang ibu.


Wanita paruh baya ini tampak nya murka,dia benar-benar kecewa dengan tingkah laku putri nya.darah mendidih,mata memerah lalu mengepalkan tangannya.


"Bu,jangan salahkan dia,ini semua kesalahan kami,maafkan kami."


Menyadari kesalahannya Tania bergegas memeluk tubuh sang ibu,menyesali tindakan nya yang bodoh,yang bisa saja membuat dirinya menyesal seumur hidup.


Begitupun dengan Tari,gadis kecil ini semau nya bertindak tanpa berpikir panjang,padahal dia bisa di andalkan untuk menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi.


Menyadari hal itu membuat Tari mengedarkan pandangannya,otak dan hatinya bekerja lebih cepat.saat ini gadis kecil itu diam-diam tersenyum lebar,lalu melangkah kan kaki nya mencari di mana keberadaan Rani saat ini.


Sementara Sang ibu,wanita paruh baya itu menghela napas panjang,memeluk putri nya begitu erat lalu bergumam"Bela harus kembali ke rumah ini."


"Kakak," sapa Tari tanpa dosa.


Seperti nya gadis kecil ini mengatur segala rencana nya,untuk menenangkan hati yang masih berdarah-darah.


Perlahan-lahan Tari melangkah kan kakinya menuju ke hadapan Rani.rasa percaya diri begitu besar setelah berhadapan dengan Rani,gadis kecil itu segera berjongkok lalu menatap lawan nya begitu dalam.


"Kakak,maafkan Tari yaa," pinta nya sambil mengatupkan kedua tangannya.


Rani hanya menatap nya datar,darah masih mendidih,namun ia berusaha menjaga sikap di hadapan gadis kecil yang menggemaskan ini.

__ADS_1


__ADS_2