
"Pernikahan ini kita tunda dulu Tan,dan semoga pak Dion bisa mengerti keadaan aku saat ini,"ujar Rani setelah mereka berkumpul di ruangan villa.
"Apa?"sontak sang ibu kaget"tidak nak,kamu tidak boleh menunda pernikahan ini.
Rani menggeleng kan kepala nya sembari menatap wajah sang ibu dalam-dalam"Tidak Bu,aku ingin menghabiskan waktu untuk sementara waktu bersama ibu."
Sang ibu berdiam diri sejenak,tak ingin membantah sedikitpun keputusan putrinya.karena ia tau persis jika sikap almarhum ayah nya jatuh pada si calon pengantin ini.
Berjiwa pemimpin dan tak ada satupun orang yang bisa membantah nya,jika keputusan itu sudah keluar dari bibirnya,Rani tetap lah Rani.
"Tapi kak,bagaimana perasaan ibu jika dia tau semua ini?".
Mendengar ucapan Tania membuat Rani mengepalkan tangannya,gadis ini segera bangkit dari sofa.Darah nya mendidih seketika Tania mengingatkan tentang ibu Tuti,ibu yang selama ini tega memisahkan ibu dari darah dagingnya sendiri.
"Tan,aku tak peduli lagi bagaimana perasaan ibu Tuti saat ini.dan aku hanyalah sebagai anak angkat,jadi tugas ku hanya untuk menghargai demi membayar jasa-jasanya selama ini.
Tania hanya bisa menganga tanpa berani membuka suara,gadis ini begitu shock seketika Rani telah berani menyebut nama wanita itu,nama yang selama puluhan tahun telah merawat dan membesarkan nya dengan kebohongan.
Kekecewaan yang begitu dalam hingga membuat gadis ini tak peduli lagi dengan ibu Tuti,padahal selama ini gadis ini tak sedikitpun berani menyebut nama wanita paruh baya itu.
Ibu yang selama ini begitu sangat ia sayangi,hormati,bahkan ia rela menderita sendiri.menelan segala ucapan kasar nya tanpa sedikitpun harus membantah.
Dan kini sudah jelas,Allah telah membuka aib selama puluhan tahun lamanya.
"Tapi nak,istri ayah mu lebih berhak daripada aku."
"Enggak Bu,sudah saat nya dia membayar semua penderitaan ibu selama ini."
Tak ada satupun yang berani membantah ucapan sang calon pengantin ini,mereka hanya berdiam diri sambil menundukkan kepalanya.
"Tan,tunjukkan kamar ibu sekarang,dan kamu Tari ayo ikut kakak ke kamar."
"Baiklah,"sahut Tari dan Tania, sementara sang ibu,wanita ini hanya bisa geleng-geleng kepala lalu bangkit dari sofa.
______
"Kamu tega Ran,kenapa semestinya pernikahan ini harus di tunda?"lirih pak Dion sambil memijat kepalanya yang tiba-tiba saja pusing.
__ADS_1
Pernikahan yang sudah di tata rapi selama satu bulan,kini tiba-tiba saja kandas karena adanya orang baru yang datang dalam kehidupan Rani.
Kecewa tentu saja apalagi sakit hati,bukan?
Rasa-rasanya pak Dion ingin menelungkup kan kepala nya di tepi laut agar napas nya tiba-tiba saja berhenti,pria ini benar-benar malu luar biasa.
"Apa yang harus aku lakukan,"lirih nya kembali sambil bangkit dari tempat tidur.
Merasa harga dirinya di linjak-injak hingga membuat laki-laki ini mengepalkan tangannya,"Tidak! pernikahan ini harus tetap terlaksana,apapun caranya."
Bugh!
Pak Dion membanting pintu kamar begitu keras,emosi yang tak bisa lagi terkontrol bahkan napas nya hanya tinggal satu-satu.
Apa sebenarnya yang terjadi?mungkin kah laki-laki ini sudah jatuh cinta kepada gadis keras kepala itu?
Bugh!
Lagi-lagi pak Dion menutup pintu mobil begitu keras,laki-laki ini benar-benar murka luar biasa.
"Kita harus menikah Ran,"lirih nya sembari menyalakan mesin mobil lalu melajukan mobilnya.
Nyatanya cinta kapan saja bisa tumbuh,dan tak ada satupun manusia yang bisa menjaminkan jika rasa benci itu akan selamanya abadi.
"Rani," teriak pak Dion tanpa jeda, laki-laki ini sepertinya telah kehilangan akal sehatnya.
"Ada apa si pak?" tanya Tania sembari susah payah mengatur napas.
"Katakan padaku di mana Rani?".
Belum sempat Tania menjawab,gadis cantik dan keras kepala ini tiba-tiba saja muncul dari arah belakang.
"Ada apa pak?" tanya Rani tanpa dosa.
"Ran,apa pun alasan kamu pernikahan ini akan tetap terlaksana,"tegas pak Dion, sementara Rani gadis ini langsung mengepalkan tangannya.
"Tidak pak! Apa pun itu pernikahan ini kita tunda untuk sementara waktu.jadi mohon pengertiannya pak."
__ADS_1
"Tidak akan! Pernikahan kita hanya tinggal dua hari lagi,jadi tidak ada lagi alasan untuk menunda nya,"tegas pak Dion sekali lagi.
"Lebih baik kalian bicarakan pernikahan ini dengan kepala dingin,tak baik saling membentak seperti itu,"ceramah Tania sambil menatap satu-persatu ke dua makhluk ini.
Pak Dion menghela napas panjang begitu lalu menghempaskan nya secara kasar,menelan ludahnya kasar lalu mencoba mendekati calon istrinya.
"Ran,pikirkan baik-baik tentang masa depan kita,bukan ka kamu sendiri yang menginginkan pernikahan ini,Please!,"ujar pak Dion sambil menggenggam ke dua tangan Rani.
Lagi-lagi sikap pak Dion yang ceroboh ini membuat Rani dan Tania membulatkan bola matanya.
Bagaimana tidak?
Laki-laki yang di kenal sopan dan sangat menghargai lawan jenis nya ini tiba-tiba saja nyosor,nyosor menggenggam ke dua tangan gadis yang belum halal baginya.
Entah ia sengaja atau enggak,tapi yang jelas pak Dion sangat menginginkan wanita ini,wanita yang sedang berada di hadapan nya saat ini.
"Pak,lepaskan tangan ku,"titah Rani sambil berusaha melepaskan diri,sementara pak Dion laki-laki ini semakin kuat untuk tidak melepaskan wanitanya.
4 bola mata saling tatap dengan jarak begitu dekat,tak peduli lagi jika ada mata lain yang telah menyaksikan apa yang mereka lakukan.
Ke dua nya seperti nya telah memiliki cinta,cinta yang belum halal sebelum menikah.
Lantas bagaimana dengan rencana poligami itu?apakah masih berlanjut atau tidak?sepertinya masih menjadi pertanyaan besar.
Bugh!
Tania tiba-tiba saja memisahkan ke dua tangan yang masih terikat dengan kuat,kuat karena mereka telah menikmati cinta yang baru saja tumbuh tanpa mereka sadari.
"Kalian harus jaga sikap di depan orang tua,"tegas Tania sambil menatap ke arah sang ibu.
"Ah apa-apaan si kamu,Tan?ganggu saja kesenangan orang,"protes pak Dion tanpa sadar jika calon ibu mertua nya sedari tadi telah berdiri tegap memperhatikan mereka.
"Jangan banyak protes lagi pak,coba bapak menoleh ke belakang.siapa yang berdiri di sana?."
Laki-laki ini segera menoleh,dan setelah itu laki-laki ini hanya bisa menganga tanpa berani membuka suara.
Malu tentu saja,rasa-rasanya ingin menutupi wajah nya dengan 10 jari nya.namun rasa penasaran itu lebih besar,hingga rasa malu yang ia miliki tiba-tiba saja hilang di telan bumi
__ADS_1
"Siapa wanita itu?," gumam nya sembari menatap ke arah Tania dan Rani meminta penjelasan.