
Setelah bosan melihat gadis kecil ini terus merengek,Rani bangkit dari pinggiran tempat tidur,menelan ludahnya kasar siap-siap untuk interogasi.
Sementara Tari,gadis kecil ini hanya bisa menghela napas panjang,lalu berbadan pasrah untuk menerima hukuman.
"Tolong katakan apa yang membuat kamu bertingkah bodoh seperti itu?".
"Aku kasian sama Bela kak."
"Kasian,alasan nya apa?dan apa pantas wanita seperti dia mendapatkan belas kasih dari mu?,"
Tari menelan ludahnya kasar,Pantas kak,Bela adalah seorang pengemis jalanan yang tak punya keluarga lagi seperti aku..!"Gadis kecil ini menarik napas dalam-dalam,mencoba tenangkan diri di hadapan lawan nya"Apakah pantas di biarkan hidup begitu saja?bukan ka sesama manusia di wajibkan tolong menolong dalam kebaikan?,"sambung nya kembali.
Rani hanya bisa menghela napas panjang,mengusap dadanya berulangkali seperti nya jantung nya sedang tak baik-baik saja.
Dengan bola mata berkaca-kaca,bibir nya seperti nya terkunci,otak dan pikiran nya saling terhubung"Astaghfirullah," gumam nya sembari berjalan perlahan-lahan menuju ke tempat tidur untuk menenangkan diri.
"Kak,apa kami tak pantas hidup bersama kakak dan ibu di sini?".
Dengan rasa percaya diri gadis kecil ini kembali lagi menyodorkan Pertanyaan,berharap lebih dari keluarga ini.maksud nya mengharapkan kasih sayang yang tak pernah dia dapatkan sepanjang hidupnya.
Kalau boleh jujur baru kali ini gadis kecil ini bisa merasakan kebahagiaan.kebahagiaan yang tak pernah dia dapatkan dari keluarga sendiri,hingga membuat gadis kecil ini merasa menemukan dunia nya, walau ia sendiri menyadari siapa dirinya yang sebenarnya.
Menyadari dia bukan lah siapa-siapa,bagaimana masalalu nya,gadis kecil ini tak pernah mengharapkan apa-apa selain kasih sayang dan sesuap nasi dari keluarga ini.
Itu sudah melebihi dari cukup baginya.
Mendengar ucapan Tari membuat Rani mengangkat kepalanya, menggeleng kan kepalanya berulang kali,hati nya tercabik-cabik hingga deraian airmata nya tak mampu tertahan kan lagi.
"Siapa bilang tak Pantas?ini rumah kamu dan kamu berhak tinggal di sini."
"Tapi kenapa kakak begitu sulit untuk menerima kehadiran Bela?sedangkan aku dan Bela sama saja kan,kak?."
Gadis kecil ini berharap jika Bela dapat di terima dengan baik oleh nya,sama seperti nya agar mereka bisa berkumpul kembali.
__ADS_1
Demi langit dan bumi,gadis kecil ini benar-benar tak ikhlas jika Bela harus kembali seperti dulu,hidup sebagai pengemis jalanan,hingga akhirnya dia beranikan diri untuk menjelaskan secara detail apa sebenarnya yang terjadi.
Memikirkan semua itu membuat Rani bersusah payah menelan ludahnya,wanita ini benar-benar bingung langkah apa selanjutnya yang harus ia tempuh.
Di satu sisi Rani belum bisa memaafkan kesalahan Bela,dan di sisi lain nya banyak hati yang harus di selamatkan,terlebih lagi kepada wanita yang selama ini telah membesarkan dirinya.
Tentu sang ibu akan murka,jika Rani tetap ngotot untuk mempertahankan keputusan nya.
Lantas apa yang harus ia lakukan? sementara hati nya masih berdarah-darah,tepat nya belum bisa menerima kehadiran Bela karena perbuatan nya selama ini sungguh keterlaluan.
Sementara gadis sebiji ini yang masih berada dalam posisi yang sama,mengharapkan jawaban yang memuaskan atas pertanyaan nya barusan.
"Kamu dan Bela tentu saja berbeda,kamu anak yang baik, sementara dia..!"
Ucapan Rani terputus begitu saja.dengan terpaksa dia harus bersikap layak nya seorang pemimpin,pemimpin yang harus di jadikan panutan,bagaimana menghadapi suatu masalah dengan kepala dingin.
Tentu saja wanita ini harus menunjukkan sikap yang seharus nya bisa di jadikan panutan,panutan untuk gadis yang menggemaskan ini.
"Tari,aku mohon kita lupakan masalah Bela."
"Ayo kita cari Bela kak,apa kakak gak kasian jika Bela hidupnya di jalanan?makan nasi basi dan tidur nya di mana-mana."
"Cukup Tari!" bentak Rani.
Wanita ini benar-benar murka,dengan susah payah menahan diri agar bisa menjaga sikap,namun lagi-lagi gadis kecil ini mampu membuat pikiran nya tak waras.
Perlahan-lahan tari bangkit dari posisinya,menatap wajah Rani begitu dalam,menelan ludah nya kasar,dan tanpa terasa airmata bening dari kelopak matanya kini terjatuh ke bumi.
Saat ini posisi mereka saling berhadapan,menatap satu sama lain,otak dan hatinya saling terhubung begitu cepat.
Setelah puas saling menatap,gadis kecil ini mundur perlahan-lahan ke belakang,menyadari dirinya bukan lah siapa-siapa.
Gadis kecil ini bertekad untuk keluar dari rumah ini,demi membelah Bela gadis ini benar-benar kehilangan akal sehatnya.
__ADS_1
"Tari! hentikan langkah mu," titah Rani sambil perlahan-lahan menuju ke hadapan Tari.
"Kakak jahat," sarkas Tari lalu membalikkan tubuhnya dan bergegas keluar dari kamar.
"Tari! teriak Rani lalu mengusap dadanya berulangkali.
Gadis kecil ini benar-benar ujian baginya,ujian yang akan mengantarkan Rani menerima amukan dari sang ibu.
Tak selang berapa lama,wanita paruh baya itu kini telah berada di kamar putrinya,mata melotot dan tangan terkepal kan.
"Apa kamu belum puas sekarang?".
Rani hanya bisa menunduk kan kepalanya.mengabdikan dirinya sebagai seorang anak,anak yang tak ingin durhaka.hingga ia lebih memilih berdiam diri daripada harus berdebat dengan sang ibu.
"Cukup Bu!".titah Tania.
Gadis ini benar-benar bingung dengan tingkah laku sang ibu, menghadapi masalah hanya dengan kekerasan,seharus nya dia yang harus menjadi panutan putrinya,bukan malah sebaliknya.
"Bu! aku mohon jangan menyalakan kakak Rani dengan perkara yang sedang terjadi saat ini.ini semua kesalahan aku,maka hukum lah aku."
"Dia memang egois,egois seperti i-..!".
Ucapan sang ibu terputus begitu saja,wanita paruh baya ini langsung menutup mulut nya dengan tangan kanan nya,tubuh nya bergetar dan seperti nya dia menyembunyikan sesuatu.
Sementara ke dua putrinya nya,mereka langsung menatap ke arah sang ibu, menatap nya dengan beribu macam pertanyaan.
"Apa maksud ucapan ibu barusan,"gumam Rani masih posisi yang sama.
Apa sebenarnya yang terjadi?mungkin kah keraguan Tania selama ini benar?apa benar jika Tania dan Rani berada di posisi yang sama?
Otak dan hati Tania terhubung begitu cepat,gadis ini mengingat kembali ucapan sang ibu tempo hari,terlebih lagi ucapan sang ibu barusan"Tidak!itu tidak mungkin,"gumam nya sambil menatap ke arah Rani.
Tania perlahan-lahan melangkah mendekati sang ibu,menatap nya begitu dalam,dan berharap semoga apa yang ia pikirkan itu tidak benar.
__ADS_1
"Katakan padaku Bu,apa sebenarnya yang terjadi?siapa yang egois menurut ibu?" desak Tania.
"L-lupakan,Nak?"titah sang ibu sambil berlalu.