
Menyadari dirinya manusia menjijikan,tak pantas di sayangi,gadis kecil itu mundur ke belakang menjauhi wanita cantik yang masih berjongkok di hadapan nya.
"Tari," panggil Tania. wanita itu tau persis bagaimana perasaan gadis kecil itu saat ini.
"Sini peluk ibu,Nak," pinta sang ibu sambil merentangkan tangan,lalu perlahan-lahan melangkah kan kakinya.
"Ibu,apakah aku masih berhak bahagia?," tanya Tari setelah gadis kecil itu sudah berada di dekapan sang ibu.
Entah sampai kapan bayangan masalalu nya akan terkubur sedalam mungkin?
Gadis belia yang masih membutuhkan kasih sayang dari keluarga sendiri,namun takdir telah memeluk nya,hingga dia harus menelan pahit nya kehidupan ini.
Hidup emang butuh pengorbanan? tapi pantaskah seorang anak di jadikan korban atas keegoisan orang tuanya?
Sedangkan anak adalah amanah,amanah dari Allah yang harus di jaga,di didik sebaik mungkin,agar mereka tumbuh menjadi anak yang baik,berbakti dan tentu nya anak yang baik dan sholeha adalah investasi ke dua orang tua,yang bisa menyelamatkan mereka di kehidupan akhirat.
Lantas bagaimana jika amanah dari-Nya harus berakhir dengan kehidupan yang tak pernah di harapkan oleh si anak?
Siapa yang rugi?
Tentu lah ke dua orang tua nya yang melahirkan mereka ke dunia ini, bukan penyesalan saja yang mereka dapatkan,namun siksaaan akhirat juga akan menanti nya.
Wanita paruh baya itu bergegas menganggukan-ganggukkan kepalanya"Kamu berhak bahagia,Nak,kita semua sayang sama kamu,jadi kamu jangan pernah takut menghadapi kehidupan ini."
Perlahan-lahan Rani telah mengerti keadaan gadis kecil itu,mengerti mengapa gadis kecil itu menjauhinya.
Wanita itu menarik napas panjang. menelan ludah berkali-kali lalu melangkah kan kaki nya"Boleh ka aku menjadi sahabat kamu wahai gadis cantik?".
Lagi-lagi Rani di buat jongkok oleh gadis kecil itu,wanita yang memiliki parah yang cantik,kelembutan hati selembut sutra,tidak sombong, bahkan ia tak pernah bangga memiliki kekayaan yang berlimpah rua,tujuh turunan pun kekayaan nya tidak akan pernah habis.
Gadis kecil itu menganggukan-anggukkan kepalanya"A-aku mau kak."
Pelukan hangat dari gadis kecil itu kini telah di rasakan oleh Rani,memeluk nya begitu erat layak nya seperti anak kecil,Tari emang pantas mendapatkan itu.
Mendapatkan kasih sayang yang berlebihan dari keluarga ini,memiliki ketulusan hati yang tak bisa di ragukan lagi,mungkin Tuhan telah membayar penderitaan gadis kecil itu selama ini.
Tania dan sang ibu merasa iba dan juga bersyukur,iba karena mengingat masalalu Tari begitu buruk dan bersyukur karena Rani telah menampakkan ketulusan hati untuk nya.
__ADS_1
Ruangan kamar seketika menjadi duka,tangisan mereka semakin meledak.hingga tangisan itu terdengar oleh ke dua makhluk di luar kamar yang masih merenungi nasib nya.
Penyesalan dari kedua makhluk itu sungguh luar biasa,seandainya waktu bisa di putar kembali?mereka tak akan pernah meminta untuk berada di zona yang tak nyaman seperti sekarang ini.
Namun apalah daya nasi telah menjadi bubur,masalalu nya mengajar kan mereka tak ingin membenci berlebihan.
Menghalalkan secara cara untuk mencapai keinginan nya,lantas bagaimana keadaan hati nya?ketika orang-orang yang hampir saja mereka musnahkan dari muka bumi ini,mereka adalah orang-orang yang di kirimkan Allah untuk menyelamatkan dirinya dari kesengsaraan,keterpurukan,dari kejam nya kehidupan ini.
Sungguh malu,bukan?
Kejam nya harus di ralat yaa BESTie,jangan sampai Allah murka pada penulis.
Kejam nya yang di maksud di sini adalah perbuatan akan setimpal dengan pembalasan,maka hati-hati dengan tangan dan lisan kita.
Perlahan-lahan Bela dan Pak Dion mengangkat kepalanya,menatap satu sama lain"Ada apa Bel?".
Bela mengedipkan bahunya,wanita berparas cantik itu sungguh penasaran apa sebenarnya yang terjadi,namun dia tak dapat berbuat apa-apa,selain pasrah dan siap-siap untuk kembali menjadi pengemis jalanan.
Tapi semoga saja kata maaf berpihak padanya.
Setelah usai melaksanakan sholat berjamaah,para penghuni rumah ini masih terduduk kaku di tempat ibadah.
Istighfar berulang kali kepada Tuhan-nya, setelah itu Rani bergegas meninggalkan tempat ibadah dan di susul oleh Tania.
Sementara yang lain mereka hanya berdiam diri,sembari menatap punggung lebar ke dua wanita itu telah berlalu.
"Kak," panggil Tania.
"Ada apa,Tan?," sahut nya tanpa menoleh ke belakang.
"Aku tau kakak kecewa dengan kehadiran mereka di sini,tapi aku bisa jelaskan semua itu kak."
Rani tidak menggubris sama sekali ucapan Tania,wanita itu melanjutkan kembali langkah nya berjalan menuju ke sofa.
"Kak aku minta maaf," sambung Tania kembali sembari menunduk kan kepalanya berhadapan dengan Rani.
Lagi-lagi Rani mengabaikan ucapan Tania,dan entah apa yang bersarang di pikiran nya,hingga membuat orang-orang di sekitarnya merasa tak nyaman.
__ADS_1
"Rani! tidak seharusnya kamu bersikap seperti itu,"perintah sang ibu.
Wanita paruh baya itu benar-benar kecewa dengan tingkah laku putri nya,berdiri tegap mata melotot dan tangan terkepal begitu kuat.
Tania yang menyaksikan kemurkaan wanita paruh baya itu,hingga akhirnya memilih menarik tangan sang ibu lalu menuntun nya ke kamar milik nya.
"Bu,biar aku yang bertanggung jawab dengan semua ini,"pinta Tania sambil menggenggam ke dua belah tangan sang ibu.
"Tapi,Nak," protes sang ibu sambil menatap putrinya begitu dalam.
"Percayakan sama Tania,Bu."
Sang ibu menganguk-anggukan kepalanya,menelan ludahnya kasar lalu menatap ke arah putri nya telah berlalu.
"Tan,mungkin sebaiknya aku pergi dari sini,"pinta Bela.
Wanita itu benar-benar tidak ingin membuat kekacauan di rumah ini,memilih untuk pergi daripada harus bertahan.
Menyadari kesalahannya,kesalahan di masa lalu nya begitu besar.hingga bela memutuskan untuk hidup di jalanan,karena menurut nya itu hukuman yang pantas di terima oleh manusia selicik dirinya.
Tania menggeleng kan kepalanya berulang kali,menggenggam tangan Bela begitu kuat,dan tak selang berapa lama airmata dari gadis desa di kembali lagi terjatuh ke bumi.
Tania benar-benar tak ikhlas dengan keputusan Bela saat ini.
"Maafkan aku,Tan," sambung Bela kembali lalu bergegas berjalan menuju ke kamar nya.
"Jangan Pergi,Bel," lirih Tania sambil menyeka airmata nya dan berlalu.
Sementara di tempat lain,Rani dan Tari kini kelihatan nya semakin akrab,mengobrol banyak hal sambil menikmati secangkir teh.
"Kakak boleh ka aku bertanya satu hal."
"Tentu boleh lah sayang,sini dekat kakak," sahut Rani sambil menepuk-nepuk sofa.
Gadis kecil itu bergegas bangkit lalu berjalan melewati meja,tampak nya dia sangat bahagia pagi ini,begitupun sebaliknya.
Padahal kedekatan mereka baru saja terjalin sejak semalam.
__ADS_1