
"Dia pasti tau sesuatu," gerutu Bela sambil berjalan dengan cepat.
"Tunggu pak," teriak Bela.
Pak Dion menghentikan langkahnya"Bel,aku tak punya banyak waktu di sini."
"Aku cuma butuh waktu bapak sebentar, Please!"
Bela mengatupkan ke dua tangan nya memohon"Oke baiklah,5 menit."
Bela menganggukan kepalanya"Tolong katakan pak,apa sebenarnya yang bapak ketahui tentang Mita?."
"Apa kamu bisa menjaga rahasia?," tanya pak Dion sambil menoleh ke belakang memastikan Tania masih jauh dari mereka.
"Percaya padaku pak."
Pria itu menelan ludah kasar nya,mengusap wajah secara kasar"Katakan padaku,sudah berapa lama pernikahan yang terjalin di antara pak Ammar dan Tania?".
"Entah pak,yang jelas Tania sedang mengandung anak dari pria gila itu,bisa saja sekitar 3/ 4 bulan yang lalu," tebak Bela asal.
"Apa! mengandung?" sontak pak Dion kaget"Dugaan ku benar..dugaan ku benar,laki-laki brengsek itu benar-benar kurang ajar" gerutu pak dion kesal.
"Pria itu pantas nya di neraka,"sambung pak Dion kembali.
"Ada apa pak? siapa pria yang bapak maksud?," tanya Tania bingung sambil memperhatikan Bela dan pak Dion.
"Bukan siapa-siapa kok Tan,"sahut pak Dion dusta,karena bagaimanapun juga dia harus menjaga hati sahabatnya.
"Benar kata pak Dion Tan,lebih baik kita pulang sekarang," jelas Bela.
Demi menjaga amanah dari pak Dion,Bela rela berdusta di hadapan Tania,walau kenyataan nya darah nya mendidih.
Namun demi menjaga jantung Tania,wanita itu berusaha menenangkan diri agar semua nya terlihat baik-baik saja.
"Bel,katakan padaku apa sebenarnya yang terjadi?," tanya Tania sekali lagi.
Bela dan pak Dion saling menatap sejenak,pria itu mengedipkan mata nya memberi isyarat agar Bela tetap saja menjaga amanah dari nya.
Namun seketika Tania telah berdiri tegap di hadapan nya,pak Dion dan Bel tak mampu lagi berbuat apa-apa"Bel,aku tau kamu berbohong,katakan dengan jujur apa sebenarnya yang terjadi?".
"E-enggak ada kok Tan," sahut nya gugup lalu bergegas melangkah menuju ke parkiran.
__ADS_1
"Mari kita pulang Tan," ajak Pak Dion"Enggak mau,"potong Tania sambil memutar bola mata malas.
"Tan,ayo lah kita tak punya banyak waktu di sini,"rengek pak Dion.
Pria itu ingin sekali menarik tangan gadis itu lalu menuntun nya ke tempat parkiran,Namun pria itu tak memiliki keberanian sama sekali.
Tania mengabaikan ucapan pak Dion,berjalan menghentakkan kaki nya sambil memanyunkan bibirnya,wanita itu benar-benar kesal karena ia yakin jika ke dua makhluk itu menyembunyikan sesuatu darinya.
"Jelek amat tu muka," ejek Bela ketika wanita itu sampai di parkiran.
"Jahat," jawab nya ketus.
"Siapa yang jahat?" tanya pak Dion sambil memperhatikan ekspresi wajah yang di miliki gadis desa itu"Jelek amat si," sambung pak Dion kembali.
"Tapi suka kan pak?" bisik Bela sambil bergegas masuk ke dalam mobil.
"Ha-,ha. pria itu tertawa terbahak-bahak sambil fokus menatap ke arah Tania.
"Suatu hari nanti kamu pasti akan menjadi milik ku gadis cantik,"gumam nya sambil menelan ludah berkali-kali.
"Hey kenapa melamun saja?ayo kita pulang sekarang,"tawar pak Dion sambil bergegas masuk ke dalam mobil Tania.
Ceklek
"Assalamu'alaikum gadis cantik,"sapa pak Dion ramah.
"Wa'alaikumussalam kakak ipar yang paling ganteng,"puji Tari lalu menatap ke arah Tania.
Pak Dion dan Bela terkekeh"Gadis pinter,"puji pak Dion.
"Apa? kakak ipar!,"gumam Tania sambil membulatkan bola matanya.
"Jaga ucapan kamu Tar,"seru Tania kesal sambil berlalu.
"Ah kakak! gitu aja kok marah,"protes Tari sambil menatap punggung Lebar Tania.
Bela menggeleng kan kepalanya lalu melangkah kan kaki nya segera menyusul Tania.
Sementara pak Dion,pria itu masih berdiri tegap sambil menyisir bagian ruang tamu"Tari,apa ibu ada di dalam?".
"Ada kok pak,mari masuk."
__ADS_1
"Tari,kita gobrol di sini saja," entah mengapa pria itu sangat merindukan gadis kecil ini.
Tari menyipitkan matanya"Lo bukan ka bapak ingin menemui ibu?."
"Enggak Tari,aku cuma ingin mengobrol dengan mu," gadis kecil itu kembali bersorak gembira" Kangen yaa pak?" tebak Tari sambil terkekeh.
Pak Dion menganggukan kepalanya lalu berjalan menuju ke sofa,pria itu langsung menghempaskan tubuhnya,bersyukur kepada Tuhan nya karena ia kembali lagi di pertemukan dengan sang wanita pujaan.
Entah mengapa pria itu begitu yakin jika suatu hari nanti persahabatan di antara mereka akan berubah menjadi cinta.
Cinta yang selama ini begitu menyiksanya,menjatuhkan airmata nya,semua nya hanya butuh waktu saja dan tak ada yang tak mungkin di dunia ini.
Pria itu tersenyum sembari menatap ke arah gadis kecil itu"Seperti nya gadis ini sangat mendukung hubungan aku dan Tania," gumam nya.
"Bapak kenapa senyum-senyum sendiri?apa bapak memikirkan sesuatu?atau butuh sesuatu dariku?"
Pertanyaan bertubi-tubi dari gadis kecil itu membuat pria itu menggeleng kan kepalanya,menatap nya begitu dalam lalu bangkit dari sofa dan berjalan mendekati nya"Boleh ka aku menjadi sahabat kamu gadis cantik?."
Gadis kecil itu menganggukan kepalanya tanda setuju"Tentu saja pak."
Deal.
Ke dua makhluk itu saling berjabat tangan,bersorak gembira tampak nya mereka sangat bahagia.
"Eeee ada Tamu,"ujar sang ibu sambil tersenyum lebar kepada ke dua makhluk itu.
Tangan yang saling berjabat begitu erat sedari tadi tiba-tiba saja terpisahkan begitu saja seketika penghuni rumah mewah itu kembali lagi berkumpul di ruang tamu.
"A-assalamu'alaikum ibu,"sapa pak Dion gugup,pria itu menyadari dirinya jika dia terlalu lancang menyentuh tangan gadis kecil itu.
Wa'alaikumussalam calon menantu ibu yang baik hati dan tampan."
Pria itu tampak nya kegirangan,ingin rasanya dia segera memeluk sang ibu begitu erat dan mencium kaki nya,saking senangnya mendapatkan pujian dari wanita paruh baya itu.
Sementara Tari,sang ibu dan Bela. ke tiga wanita itu sungguh bisa merasakan kebahagiaan yang di rasakan oleh pria itu.
Sedangkan Tania,otak dan pikiran nya sedang bekerja keras,entah mengapa wanita itu begitu risih berada di posisi nya saat ini.
"Apa kabar kamu Nak,Dion? tambah sang ibu kembali memecah keheningan.
"B-baik kok Bu,alhamdulillah."
__ADS_1
Pria itu masih terlihat gugup, menyesali sedikit kecerobohan nya,seharus nya dia tak menyentuh tangan wanita-wanita yang bukan mahram nya.