
Deal,perusahaan itu jatuh kepada pak Dion.pria ini akhirnya bernapas lega dan pembayaran akan secepatnya di selesaikan.
"Kamu kenapa,Tan?"apa kamu enggak senang dengan keputusan ini?tebak pak Dion.sementara Tania gadis ini masih saja sibuk memikirkan sesuatu.
"Tan,kamu kenapa? kok bingung aja dari tadi?."
"I-iya kak,ada apa ya? sahut nya gugup sambil menatap ke arah Pak Dion dan Rani secara bergantian.
"Ah dasar calon ibu,"ejek pak Dion sambil terkekeh.
"Ih sebel," sahut nya ketus lalu bangkit dari kursi"Ayo kita pulang kak,aku lelah banget."
Lagi-lagi pak Dion terkekeh"Orang tua emang butuh istirahat,benar kan Ran?".
Rani hanya tersenyum lebar, sementara Tania.gadis ini semakin kesal karena ulah pak Dion"Gitu aja terus."
"Ayo kak kita pulang,dan bapak tak boleh ikut,awas!" ancam Tania sambil menuding ke arah pak Dion.
Pak Dion hanya tersenyum lebar sambil memperhatikan ekspresi wajah Tania"Makin cantik aja kamu Tan,"gumam nya lalu menelan ludah berkali-kali.
Kedua wanita ini segera berjalan,berjalan tanpa menoleh lagi bahkan tak sempat pamit kepada pak Dion. sementara pak Dion pria ini hanya bisa geleng-geleng kepala.
Setibanya di parkiran ke dua wanita ini sebentar lagi kejang-kejang"Pak Ammar,"gumam nya sembari mengepalkan tangannya.
"Seperti nya anda di sini,"sapa Rani sementara pak Ammar,pria ini gemetaran karena ketakutan
"Di mana selingkuhan kamu?"tanya Rani sambil menarik kerah baju pak Ammar.
"S-siapa yang kamu maksud?"Karena ketakutan pak Ammar susah payah menjawab nya.
Bugh!
Tanpa memberi jawaban,Rani segera mendorong tubuh pria ini,pria baji**an yang tak puas dengan satu wanita saja.
"Katakan di mana selingkuhan kamu?atau aku patahkan leher kamu sekarang juga,"ancam Rani sembari menarik kerah baju pak Ammar.sementara pak Ammar,pria ini hanya bisa berbadan pasrah menerima segala kemurkaan lawan nya.
"Kenapa diam saja?,"tanya Rani sekali lagi,dengan mata memerah dan seluruh tubuhnya gemetaran.
__ADS_1
"Cukup kak!" teriak Tania dari arah belakang,gadis ini merasa malu karena perbuatan sang kakak yang sudah di tonton banyak mata.
Tanpa aba-aba Tania segera menarik tangan sang kakak,lalu menuntun nya menjauhi pak Ammar.
"Apa-apaan kamu Tan?"Rani menepis tangan sang adik begitu saja,lalu menatap nya dengan tatapan tajam"Apa kamu masih pantas untuk membelah dia?.
Tania secepatnya menggeleng"Tidak kak!coba lihat orang-orang sekitar,apa kakak tidak malu ?."
Rani segera menatap ke arah sekeliling nya,menatap dengan tatapan tajam dan terakhir tatapan nya tertuju pada pak Ammar
"Dia harus di beri pelajaran,"ujar nya lalu berjalan menuju kehadapan pak Ammar.
"Tolong katakan! apa selama ini kamu bekerja sama dengan Mita?,"tebak Rani dengan darah mendidih dan tangan terkepal begitu kuat.
Pak Ammar menelan ludahnya kasar,pria ini perlahan-lahan bangkit lalu menatap lawan nya begitu tajam.
"Kalau iya,kenapa?".
"Baj**gan,"teriak Rani lalu mendorong kembali tubuh pak Ammar begitu kuat.
"Cukup Ran! teriak pak Dion sembari berlari"Apa-apaan ini? pak Dion menelan ludahnya kasar lalu menatap ke arah Rani dan pak Ammar secara bergantian.
Pak Ammar perlahan-lahan bangkit,bangkit sembari menatap satu persatu makhluk yang berada di hadapannya.
Sementara Tania,gadis ini perlahan-lahan melangkah menuju ke hadapan mereka.menatap wajah sang suami begitu lama lalu menelan ludahnya kasar.
"Mas,apa ini balasan kamu selama ini?" tanya Tania sembari memperhatikan sang suami dari ujung kuku sampai rambut.
Gadis ini kembali lagi menelan ludahnya,perasaan nya berdarah-darah karena pengakuan pak Ammar begitu sangat menyayat hatinya.
Mengharapkan suami agar dia bisa kembali seperti dulu,kembali dengan memenuhi segala janji-janji nya,janji untuk hidup lebih baik dan membangun masa depan bersama.
Lantas kalau sudah begini? hati mana lagi yang harus menerima segala perbuatan nya?
Kejujuran kecil saja sudah mampu membuat perasaanya berdarah-darah? lantas bagaimana jika pak Ammar membongkar semua nya?sakit hati tentu saja,apalagi kecewa.jangan tanyakan lagi.
"Kenapa diam saja mas? apa benar jika selama ini kamu bekerja sama dengan Mita?tolong jelaskan sekali lagi."
__ADS_1
"Iya benar! dan kamu mau apa?,"potong pak Ammar.
"Baj**gan," teriak pak Dion,pria ini benar-benar murka.murka atas kejujuran pak Ammar"Apalagi kekurangan dia selama ini,"sambung nya kembali lalu menunjukkan jari ke arah Tania.
"Cukup pak!" bentak Tania sambil memberi isyarat,agar pak dion tidak ikut campur dalam urusan mereka.
"Terimakasih atas kejujuran kamu mas," ujar Tania sambil menahan emosi,sekuat tenaga ia kumpulkan agar bersikap tenang di hadapan suami,walau kenyataan nya hati nya berdarah-darah.
"Apa masih ada yang tersisa,mas? tolong katakan dengan sejujur jujurnya,"pinta Tania lalu menelan ludahnya berkali-kali.
Pak Ammar terdiam sejenak,pria ini masih memiliki rasa iba,iba terhadap sang istri yang telah mengandung darah dagingnya.
Otak dan hati nya berperang secara tiba-tiba,apa masih pantas aku merahasiakan ini semua?apa masih pantas aku di anggap suami? Sedangkan aku,aku adalah pria yang pantas menerima hukuman.
Menyadari semua kesalahannya,pak Ammar menelan ludah nya berkali-kali.tenggorokan nya terasa kering namun hatinya sudah tak ingin lagi menyimpan rahasia apa pun untuk Tania
Sudah cukup baginya,dan setelah ini pak Ammar berniat untuk meninggalkan kota ini.
"Maafkan aku,Tan," pinta nya lalu menunduk kan kepalanya.
"Maaf," protes Rani dan pak Dion"Apa pria seperti kamu masih pantas untuk di maafkan?Jangan harap!"sarkas Rani.gadis ini kembali lagi mengepalkan tangannya,darah mendidih karena menahan emosi.
"Cukup kak!" bentak Tania"Berikan dia kesempatan untuk bicara,"titah nya sambil menoleh kembali ke arah sang suami.
Pak Ammar menelan ludahnya kasar.pria ini perlahan-lahan mengangkat kepalanya lalu menatap ke arah sang istri begitu lama.mata memerah dan seluruh tubuhnya gemetaran,wajah nya sudah mengeras dan seperti nya sebentar lagi kejang-kejang.
"Kamu" Pak Ammar menunjukkan jari ke arah Tania"Kamu aku ceraikan sekarang juga,"sambung nya Kembali lalu berjalan percaya diri melewati Tania.
"Kamu,"pak Ammar kembali lagi menunjukkan jari ke arah Rani"Dan kamu,"Terakhir telunjuk nya mengarah kepada pak Dion.
"Kalian berdua adalah saksi perceraian ini,"sambung nya kembali lalu menatap sinis ke arah ke dua makhluk ini.
Bugh!
Lagi-lagi pukulan maut mendarat dari tangan pak Dion,pria ini benar-benar tak menyangka jika ada pria bodoh yang hidup di dunia ini seperti pak Ammar.
Sementara Tania,gadis ini bersusah payah menenangkan hati.hati telah berdarah-darah karena kejujuran sang suami,di tambah lagi dengan kata perceraian.
__ADS_1
Jangan tanyakan lagi bagaimana hancur nya perasaan nya?