
"Maafkan ibu,Nak.ibu tidak bisa mengontrol diri ketika ibu teringat kembali dengan sikap Bela selama ini," ujar sang ibu.
Wanita paruh baya itu benar-benar malu di hadapan Tania dan Tuhan nya,karena ia merasa gagal untuk menjadi seorang pemimpin bagi yang baik
Tidak bisa menjaga sikap bahkan lidah sekalipun,lantas bagaimana ia bisa memberi contoh yang baik kepada ke tiga putri nya?
Memikirkan semua itu sehingga membuat tangisan wanita paruh baya itu semakin meledak.
"Tania mengerti perasaan Ibu.dan Tania minta satu hal bu,maafkan lah kesalahan-kesalahan Bela selama ini,Tania mohon Bu," pinta Tania sambil mengatupkan kedua tangannya ke hadapan wanita paruh baya itu.
Sang ibu menganganguk-ganggukkan kepalanya,dan hal itu membuat Tania merasa lega lalu segera menenangkan hati sang ibu.
Tidak seberapa lama Tari pun hadir di tengah-tengah mereka" Ibu kenapa kak?" tanya Tari bingung sambil mengelus-elus pundak sang ibu.
Tania hanya bisa memberi isyarat agar Tari tidak banyak komentar,sementara gadis kecil itu tidak mengerti sama sekali.
Detik dan menit terus berputar setelah Tania dan Tari telah berhasil menenangkan hati sang ibu.
Mereka berkumpul kembali untuk menikmati hidangan malam
"Kenapa masih berdiri di sana susi,ayo bergabung lah dengan kami di sini,"pinta sang ibu kepada.
"S-sus..ss..i.. di sini saja,Nyonya,"sahut ibu susi gugup sembari menunduk kan kepalanya di pinggiran meja makan.
Lagi-lagi Tari tidak terima dengan tingkah laku ibu susi seperti itu,gadis kecil itu bergegas bangkit dari kursi lalu berjalan melewati meja.
"Ibu! tidak baik menundukkan kepala kepada manusia lain nya,kami bukan lah Tuhan yang patut untuk di sembah seperti itu,"ujar Tari dengan suara intonasi tinggi.
Menyaksikan sikap Tari seperti itu membuat sang ibu dan Tania saling menatap sejenak.
"T-tapi..Non..
"Tidak ada Tapi-tapian,ayo duduk lah sekarang dan makan bersama kami,"protes Tari sambil menarik kursi makan.
"Duduk lah susi,jangan sampai dia murka padamu," pinta sang ibu sambil menatap ke arah mereka.
"I-ya,Nyonya."
Ibu Susi segera duduk sementara Tari masih masih berdiri tegap di belakang ibu Susi.
__ADS_1
Tania yang menyaksikan hal itu tiba-tiba saja membuka suara"Tari lebih baik kamu yang gantikan ibu Susi di sana berdiri di situ," ujar Tania sambil terkekeh.
"Ha-ha" sang ibu tertawa lepas karena menurut nya itu sangat lucu, sementara Tari gadis kecil itu memasang wajah malas lalu segera duduk di samping sang ibu.
"Ayo makan," tawar sang ibu sambil melirik ke arah Tari.
Tania dan ibu susi segera mengambil nasi dan lauk, sementara sang ibu masih sibuk memperhatikan gadis kecil itu.
"Ayo makan,Nak."
Gadis kecil itu hanya memanyunkan bibirnya,dan seperti nya selera makan nya sudah hilang begitu saja.
Tania dan sang ibu saling menatap sejenak"Kenapa tu bibir?" tanya Tania sambil tersenyum.
"Kakak jahat," seru Tari lalu menatap tajam ke arah Tania.
"Sudah,sudah.ayo kita makan dan setelah ini kalian ikut ibu ke kamar."
"Suapin," rengek Tari sambil membuka mulut di hadapan sang ibu"Dasar manja ,"protes Tania.
"Idddihh..iri bilang,Bos!"
"Sudah Nak! kalian dengarkan ibu baik-baik setelah kalian menjalankan usaha nanti,kalian harus fokus dan ibu tidak ingin melihat ada perselisihan di antara kalian berdua,"jelas sang ibu sambil menyuapi gadis kecil nya.
Menit demi menit terus berputar setelah usai menikmati makan malam,Tari dan Tania segera menyusul sang ibu ke kamar.
Ceklek!
Pintu kamar terbuka lebar,di sana sang ibu terlihat sibuk menuliskan sesuatu,entah apalagi yang di rencanakan oleh nya.
"Ibu," sapa Tari lalu memeluk sang ibu dari belakang.
"Ibu,ponsel baruku mana?"tanya Tari masih dalam posisi yang sama.
"Ponsel," gumam Tania penasaran,lalu mengalihkan pikirannya ke ponsel nya sendiri.
Kalau boleh jujur Tania adalah gadis yang bisa di katakan katro alias kampungan,dalam dunia canggih seperti jaman sekarang ini.
Mengingat tentang benda canggih tersebut,Tania segera buru-buru keluar dari kamar sang ibu lalu berjalan menuju ke kamar milik nya.
__ADS_1
"Ada apa dengan kakak mu,Nak? tanya sang ibu bingung"Entah lah Bu,mungkin dia ada urusan kali,"sahut nya asal.
"Dia pasti menemui Bela di kamar," gumam Tari lalu menatap ke arah pintu.
"Iya sudah,ponsel kamu ada di tas ibu Nak,silahkan kamu ambil sendiri."
Tanpa aba-aba gadis kecil itu bergegas melangkah,lalu membuka sebuah tas yang terletak di atas tempat tidur.
Setelah menemukan kotak kecil dengan merek O**o,gadis kecil itu memancarkan senyuman lebar.
Jangan tanyakan lagi bagaimana bersyukur nya gadis kecil itu,karena sepanjang hidupnya ia tidak pernah tahu bagaimana rasanya memiliki benda yang canggih itu.
Detik demi detik berlalu, setelah benda canggih itu telah berada di genggaman nya,gadis kecil itu bergegas kembali menghampiri sang ibu.
"Ibu,Terimakasih banyak atas kebaikan ibu,aku sayang ibu dan ijinkan aku selalu mengabdi untuk ibu," ujar Tari dengan bola mata berkaca-kaca.
Gadis kecil itu benar-benar terharu atas kebaikan sang ibu selama ini,hingga ia rela mengabdikan dirinya sampai kapanpun,seumur hidup pun tidak masalah baginya.
Tujuan nya demi membayar kebaikan sang ibu selama ini,karena menurutnya hanya itu yang bisa ia lakukan.
"Ibu juga sayang sama kamu, Nak.Ibu tidak pernah menuntut apa-apa dari kalian berdua,jika kalian bahagia ibu pun pasti akan merasakan hal yang sama,"jelas sang ibu sambil mengelus-elus kepala putri nya.
Tangisan gadis kecil itu semakin meledak seketika ia mendengar ucapan sang ibu barusan,ia benar-benar tidak menyangka jika dirinya akan mendapatkan kasih sayang yang lebih dari sang ibu yang berhati mulia itu.
Tanpa ada ikatan darah namun kasih sayang yang ia peroleh selama ini,itu adalah suatu rezeki yang luar biasa dari Tuhan nya.
Gadis kecil itu tidak henti-hentinya mengucap kan syukur dalam benak nya,karena ia berpikir jika dia adalah manusia paling beruntung hidup di muka bumi ini.
Ingat!
Rezeki Allah bukan tentang meliputi harta saja,namun di kelilingi oleh orang-orang yang baik adalah rezeki.
Umur yang panjang juga adalah rezeki,kesehatan jasmani dan rohani juga adalah rezeki.
Sanak keluarga yang sehat juga adalah rezeki,apa pun yang ada di sekiling kita semua itu adalah nikmat Dari nya.
Lantas nikmat Tuhan mu manakah yang engkau dustakan?
Bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya dan bersabar atas ujian-ujian-Nya.
__ADS_1
TB.
Dukung Author dengan vote,like serta koment.