Istri Ke 2 Yang Terlupakan.

Istri Ke 2 Yang Terlupakan.
136.Dasar Anak Durhaka.


__ADS_3

"Tari,Tania kalian jaga ibu Tuti dengan baik ya,",pinta nya sembari menatap mereka secara bergantian.


Ke dua nya mengangguk pasrah.tak punya pilihan lain selain tinggal bersama ibu tuti,walau kenyataan nya ia begitu sulit untuk melepaskan sang kakak untuk pergi.


Rasanya sungguh tak adil.mengapa takdir harus memisahkan mereka saat ini?dan mengapa semua nya harus berpisah ketika hadir nya orang baru dalam kehidupan mereka?.


Menyadari hal itu membuat ketiga wanita malang ini berbadan pasrah.ikhlas dan sabar adalah jalan satu-satunya karena mereka yakin jika di balik semua ini ada hikmah yang mereka bisa petik.


Rani kembali lagi memeluk ke dua adik-adiknya, memeluknya begitu erat sembari meneteskan air mata.entah sudah berapa banyak air mata yang mereka keluarkan hari ini.


Sementara laki-laki yang masih setia berdiri mendampingi mereka,ia hanya bisa berdiri mematung dan membisu tanpa berani mengucapkan kata sepatah pun dari bibir nya.


Setelah puas menangis Rani perlahan-lahan melepaskan diri dari mereka lalu melangkah kan kaki nya berjalan keluar dari pekarangan rumah,rasanya ini sungguh berat baginya namun ia tak punya pilihan lain.


"Kakak..!" panggil Tari sekali lagi.gadis ini begitu sulit untuk melepaskan kepergian Rani,hingga ia lebih memilih untuk berlari kembali menyusul sang kakak.


"Kakak aku ikut,"ujar nya sambil mempercepat langkahnya.


"Tari..!"teriak sang ibu ketika ia baru keluar dari pintu"Biarkan dia pergi Tari,kamu tak pantas ikut dengan nya,"sambung nya kembali lalu buru-buru berjalan mendekati mereka.


"Tari,kamu di sini saja ya sayang.lain kali kakak pasti ke sini untuk menjenguk kalian,"pinta nya sambil berjongkok di hadapan Tari.


"Tidak perlu! dan kamu tak punya hak untuk tinggal di rumah ini lagi,Dasar anak durhaka!"sarkas sang ibu lalu menarik tangan Tari begitu kuat"Ayo Tari kita masuk ke dalam."


Mendengar ucapan sang ibu membuat Rani kembali lagi meneteskan air mata,darah nya mendidih lalu mengepalkan tangan begitu kuat,gadis ini hatinya benar-benar hancur.

__ADS_1


Pak Dion dan Tania yang menyaksikan hal itu membuat mereka saling menatap sejenak,lalu mereka berlari untuk mendekati mereka.


"Cukup Bu!," teriak pak Dion.


Laki-laki ini tak peduli lagi bagaimana perasaan sang ibu?bagaimana cara menghargai orang tua?dan bagaimana bersikap sopan dan mengambil hati ibu calon mertua.


"Bu,apa yang ibu katakan itu adalah kesalahan besar.seharusnya ibu yang introspeksi diri bukan malah mengutuk dia sebagai anak durhaka,"ujar pak Dion dengan intonasi suara tinggi.


"Apa kamu bilang?dan apakah mata dan hatimu sudah buta?,",tanya sang ibu sambil menatap tajam ke arah pak Dion, sementara pak Dion laki-laki ini menggeleng kan kepalanya berulang kali.


"Tidak Bu!apa yang terjadi hari ini adalah mutlak kesalahan ibu sendiri.dan apa ibu belum sadari juga, bagaimana perasaan anak jika di pisahkan selama puluhan tahun dari ibu kandungnya sendiri?."


Wanita paruh baya ini berdiam diri sejenak,bibir nya tak mampu lagi untuk mengucapkan kata sepatah pun.ucapan pak Dion sungguh menyadarkan dia akan kesalahan nya.kesalahan yang ia lakukan selama puluhan tahun,merebut suami orang lain lalu memisahkan ia dari putri kandung nya sendiri.


Lantas hati mana yang tak sakit jika berada di posisi Rani?dan hati mana yang bisa menerima kejahatan yang di lakukan ibu Tuti selama ini?


"Ibu..,"panggil Tania seketika sang ibu telah berlalu tanpa meninggalkan kata sepatah pun untuk mereka.


"Tania,kamu susul ibu sekarang,"titah Rani secepat kilat sementara Tania hanya bisa mengangguk"Dan kamu Tari ikut kakak sekarang,"sambung nya kembali lalu mengulurkan tangan ke arah bocah ingusan ini.


"Yee,ayo kita berangkat kak,"sahut Tari bersorak gembira lalu menggenggam tangan sang kakak begitu kuat.


Mereka kembali lagi melanjutkan perjalanan nya,berjalan menuju ke mobil sembari bergandengan tangan dan mereka tak berani lagi untuk menoleh.


"Tunggu..!" teriak pak Dion lalu buru-buru berjalan ke hadapan mereka"Aku ikut kalian,"tanpa di persilahkan laki-laki ini langsung nyosor masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Bapak apa-apaan si?," protes Tari ketika masuk ke dalam mobil"Bapak tak boleh dekat-dekat dengan kakak ku,awas!,"ancam Tari,sementara Rani dan pak Dion hanya tersenyum lebar.


"Sudah sayang,percaya sama aku jika aku adalah laki-laki yang baik buat kakak mu.benar begitu kan sayang,"tanya Pak Dion dengan rasa percaya diri,sementara Rani gadis ini hanya bisa berdiam diri.


Memikirkan banyak hal tentang hubungan yang belum resmi ini,gadis ini perlahan-lahan akan mengubur rasa cintanya kepada laki-laki yang sedang berada di samping nya saat ini.demi tercapainya suatu tujuan jika menikah hanya untuk menyempurnakan separuh agama nya.maka Rani memutuskan untuk menjalani hubungan ini tanpa harus melibatkan perasaan,terlebih lagi ketika pikiran nya terlempar kembali kepada persyaratan poligami,maka gadis ini lebih mantap untuk bersikap biasa-biasa saja.


"Ayo kita berangkat sekarang pak,",pintanya lalu menoleh ke arah belakang,menatap sang adik yang begitu sangat ia sayangi.


"Baiklah,"sahut pak Dion lalu menyalakan mesin mobil dan berlalu.


"Kak,wajah kakak kok pucat banget,kakak sakit yaa?,"tanya Tari sembari mengelus-elus wajah sang kakak,sementara pak Dion laki-laki ini langsung menghentikan mobilnya secara mendadak.


"Ran,kamu baik-baik saja kan?,"tanya Pak Dion demi memastikan sambil menatap wajah calon istrinya.


Gadis ini hanya bisa mengangguk lalu bergegas menunduk kan kepalanya,tak berani menatap ke arah pak Dion"Kenapa berhenti pak?ayo kita berangkat kembali."


"Tapi Ran..!".


Ucapan pak Dion terputus begitu saja.karena dia sadar jika saat ini dia berhadapan dengan siapa,laki-laki ini hanya bisa mengangguk pasrah lalu segera mematuhi perintah calon istrinya.


Setibanya di villa pak Dion langsung menggenggam tangan calon istrinya,lalu mengajak nya berjalan mengelilingi pinggiran pantai dan membicarakan banyak hal.


"Ran,apa sebaiknya pernikahan kita di laksanakan secepat mungkin?,"tanya pak Dion sembari menghentikan langkahnya.


"Beri aku waktu berpikir pak."

__ADS_1


"Tapi Ran,bukan ka lebih cepat lebih baik?dan aku berjanji akan selalu membahagiakan kamu."


Gadis ini hanya bisa berdiam diri sejenak,memikirkan banyak hal tentang permintaan pak Dion barusan.namun gadis ini masih saja tetap pada pendiriannya,masih mengulur waktu untuk melangkah ke jenjang pernikahan.Namun ia beruntung dan percaya,jika pak Dion adalah sosok laki-laki yang bertanggung jawab.


__ADS_2