Istri Ke 2 Yang Terlupakan.

Istri Ke 2 Yang Terlupakan.
126.Apa Aku Harus Menawarkan Diri?


__ADS_3

Setelah berjam-jam lamanya menenang kan diri,Rani segera mendekati sang adik.menyemangati sang adik agar tetap tegar menghadapi kenyataan pahit ini.


Merasa diri salah memilihkan jodoh untuk sang adik,hingga apa yang terjadi saat ini adalah tanggung jawab seutuh nya untuk gadis desa ini.


Jika saja waktu bisa berputar kembali,demi langit dan bumi Rani tak akan pernah mau menjodohkan dia dengan pria sebejat pak Ammar.


Namun sebagai orang beriman,gadis ini hanya bisa pasrah dan berharap semoga setelah ini Tania bisa menemukan kebahagiaan nya.


Menemukan pria yang baik dan bisa menerima Tania dalam keadaan seperti ini,kegagalan adalah pelajaran berharga baginya,pelajaran hidup yang akan di bawah sampai mati.


"Tan,kamu harus bangkit mulai dari sekarang."


Tania menatap sang kakak begitu lama,menatap wajah sang kakak yang sedang memucat"Ayo kita pulang kak,kakak sedang butuh istirahat."


Dengan cepat Rani menggeleng kan kepalanya"Enggak Tan,kita masih banyak tugas di sini."


"Tapi kak,aku sudah lelah dan kita harus pulang sekarang,"pinta nya penuh dusta demi menyelamatkan diri sang kakak.


Kalau sudah begini,Rani hanya bisa pasrah dengan keadaan.memenuhi permintaan sang adik karena ia tahu persis jika Tania sedang tak baik-baik saja.Padahal kenyataannya malah justru sebaliknya.


Kedua nya segera beranjak dari hotel,mereka tak memikirkan lagi bocah ingusan yang menyita banyak waktu nya belakangan ini.


Butuh 10 menit perjalanan dari hotel menuju ke rumah.setibanya di sana sang ibu bukan nya menyambut nya dengan pelukan atau senyuman manis,malah justru memasang wajah sanger lalu mengoceh.


"Bu,kami sudah usahakan mencari Tari dan Bela.tapi..!"


Ucapan Tania terputus begitu saja,gadis ini langsung menunduk kan kepalanya tak berani menjelaskan apa-apa,pikiran nya masih buntu karena terlalu banyak menanggung beban pikiran.


"Tapi apa,Tan?ayo jawab dengan jujur," tanya sang ibu penasaran.


"Apa perlu kami mencari lagi anak kesayangan ibu?,"tanya Rani balik sambil menatap ke arah sang ibu tanpa berkedip.


Gadis ini sedikit kecewa dengan perubahan sikap yang di miliki sang ibu.namun sebagai seorang anak Rani tetap lah harus menjaga sikap, mengontrol diri agar tidak terpancing emosi.


"Apa maksud kamu?."

__ADS_1


"Bu sudah lah! kami butuh istirahat dan soal Tari dan Bela,kami bisa usahakan untuk menemukan mereka secepatnya.Ayo kak kita masuk."


Kedua gadis ini perlahan-lahan melangkah kan kaki nya,tak berani menatap sang ibu,sementara wanita paruh ini hanya bisa geleng-geleng kepala.


Mengapa keadaan sudah berubah drastis seperti ini?


Di mana lagi posisi rani yang dulu yang selalu di banggakan?di mana lagi kasih sayang sang ibu kepada putri semata wayangnya?


Sepertinya semua nya telah pupus seiring berjalannya waktu,apakah memang Rani bukan lah bagian dari darah dagingnya?


Merasakan perubahan sikap yang di miliki sang ibu,hingga Rani hanya bisa menelan ludahnya berkali-kali.


"Kakak kenapa?," tanya Tania bingung sambil memperhatikan wajah sang kakak"Kakak baik-baik saja kan?".


"Tan,apa kamu tidak bisa merasakan jika ibu sudah berubah sekarang?"gadis ini susah payah mengatur napas"Apa hanya aku saja yang bisa merasakan itu?" sambung nya kembali lalu duduk di pinggiran tempat tidur.


Dengan cepat Tania menggeleng kan kepalanya demi menutupi kecurigaan sang kakak,walau sebenarnya ia tau jika di antara sang ibu dan Rani ada rahasia tersembunyi di masa lalu.


Gadis ini berusaha mengalihkan pembicaraan nya agar sang kakak bisa tenang,melupakan sikap kasar sang ibu agar keadaan baik-baik saja.


Keesokan harinya.


Pagi-pagi sekali mereka sudah siap-siap untuk mencari keberadaan Tari maupun Bela,demi kebahagiaan sang ibu maka ke dua gadis ini pantang menyerah dan juga mengeluh.


Walau kenyataan nya tubuh dan pikiran mereka lelah.namun tak ada yang lebih berharga saat ini kecuali senyuman sang ibu.sampai tetes darah penghabisan pun mereka tak akan pernah menyerah,yang terpenting adalah kebahagiaan sang ibu.


"Tan,boleh nanya enggak?,"tanya Rani sambil fokus menyetir mobil.


"Boleh lah kak,apa si yang enggak bisa buat kakak?" goda Tania lalu terkekeh.


Mereka tertawa bersama.sudah sekian lama kedua gadis ini enggak pernah lagi menikmati masa-masa bahagia seperti ini.


"Tan,apa pak Dion masih selalu merayu kamu?."


"Enggak,aku dan dia sudah jadi sahabat kakak ku sayang,tak boleh lebih dari itu," jelas Tania sambil memperhatikan wajah sang kakak"Apa kakak suka sama Pak Dion?"sambung nya kembali sambil tersenyum tipis.

__ADS_1


Rani menoleh sejenak sembari memastikan ucapan sang adik, sepertinya gadis ini diam-diam telah menyukai pak Dion.


Kalau benar? lantas bagaimana rasa cinta yang di miliki oleh pak Dion selama ini kepada Tania?


Sementara Rani,gadis ini tidak akan pernah malu untuk menawarkan diri kepada seorang pria yang ia kagumi.


"Menurut kamu?" tanya Rani balik lalu terkekeh geli.


"Hem," Tania segera mengubah posisi duduk nya,mengangkat bokong nya lebih dekat lagi kepada sang kakak"Kak aku setuju banget kalau kakak menikah dengan nya."


"Ha-ha" Rani tertawa lebar" Apa aku harus menawarkan diri?kamu kan tau jika pak Dion hanya mencintai kamu."


Tania menyipitkan matanya sembari menelan ludahnya berkali-kali"Aku setuju banget kak jika kakak menawarkan diri."


"Tapi,Tan?...


Ucapan Rani terputus begitu saja,gadis ini lebih memilih berdiam diri.merenungi masa depan nya seperti apa nantinya?sedangkan dia hanyalah gadis penyakitan.


Namun demi menjaga hati sang adik,gadis ini berusaha untuk ceria agar semuanya terlihat baik-baik saja.


"Tapi kenapa kak?jangan banyak mikir lagi kak,biar aku yang urus semua ini.ibu pasti sangat mendukung."


"Apa? itu tidak mungkin," potong Rani secepat kilat.


"Udah deh kak,jangan banyak protes lagi," jelas Tania meyakinkan.


Rani hanya bisa mengangguk pasrah"Kakak sudah tua,jadi sepantas nya sudah menikah,"ejek Tania lalu terkekeh.


Mereka kembali lagi tertawa,setelah itu kepala gadis cengeng ini sudah bersandar di bahu sang kakak"Kakak sehat selalu yaa,dan jangan pernah ninggalin aku."


Rani menelan ludahnya kasar rasa-rasanya ingin memeluk tubuh sang adik,tubuh yang selalu bermanja-manja dan tak henti-hentinya mengeluarkan airmata.


Kedua nya saling berdiam diri memikirkan banyak hal,hingga airmata bening kembali lagi terjatuh dari pipinya.


Baru saja memancarkan senyuman bahagia,dan saat ini mereka kembali lagi berduka.

__ADS_1


__________


__ADS_2