
Menit terus berputar setelah Tari mempertimbangkan kembali ucapan Tania,gadis kecil itu bergegas bangkit dari kasur lalu menatap ke arah Tania begitu dalam.
"Oke baiklah! kali ini aku akan mengikuti apa kemauan kakak,tapi dengan satu syarat," ujar Tari.
"Baiklah,apa syarat nya Tari?katakan lah,"potong Tania sambil tersenyum manis kehadapan Tari.
"Syarat nya cukup simple kak,dan tentu nya dengan cara ini kita bisa menyelamatkan Bela untuk sementara waktu di rumah ini," jelas Tari.
"Maksud nya bagaimana Tari?jangan aneh-aneh kamu," tanyaTania bingung sambil membulat kan matanya ke hadapan Tari.
"Kita kurung Bela untuk sementara waktu di kamar kak,lalu perlahan-lahan kita mendekati ibu dan menjelaskan secara detail kepada nya,dan itu semua demi menjaga jantung ibu kak," sahut Tari sambil terkekeh,karena menurut nya perbuatan itu sedikit lucu.
"Apa!" sontak Tania kaget karena menurut nya itu perbuatan yang dapat menyiksa Bela.
"Jangan protes lagi kak,apa kakak tega jika melihat ibu tiba-tiba jantungan?kita telah banyak merepotkan ibu selama ini kak,jadi sebaik nya kakak nurut saja apa permintaan aku saat ini," jelas Tari lalu menelan ludah nya berkali-kali.
Gadis kecil itu benar-benar memiliki watak yang cemerlang,ia tak ingin membuat wanita paruh baya itu menghabiskan waktu nya.demi memikirkan masalah yang tak pernah kunjung usai,karena perbuatan mereka yang selalu saja ingin menyelamatkan orang lain.
Selain daripada itu,Tari juga menyadari bagaimana posisi mereka dalam keluarga yang kaya raya itu,mereka hanya lah tamu dan sewaktu-waktu mereka akan di tendang begitu saja, jika sang ibu telah lelah dengan masalah yang ada.
Belajar dari masa lalunya hingga membuat gadis kecil itu tiba-tiba saja menyadari,jika manusia kapan saja bisa berubah dan terlebih lagi ketika ia mengingat kembali bagaimana kejam nya dunia ini,orang tua kandung nya saja bisa membuang nya begitu saja apalagi orang lain.
Gadis kecil itu tak lagi dapat membuka suara selain menundukkan kepalanya di sertai airmata yang menetes,entah mengapa pikiran nya tiba-tiba saja traveling kepada sang.ayah yang sungguh kejam menurut nya karena demi dunia,sang ayah rela menjual putri nya ke sebuah Club malam.
Menyaksikan butiran-butiran airmata dari gadis kecil itu,Tania segera menurunkan ego nya lalu menenangkan Tari di pelukan nya.
Setelah menelan ucapan gadis kecil itu Tania menundukkan kepalanya dan tak selang berapa lama,airmata nya pun terjatuh ke belahan pipi nya yang mulus,karena ia menyadari kembali jika dirinya telah banyak merepotkan orang lain selama ini.
Setelah bosan menangis kedua gadis cantik itu segera beranjak dari kasur,lalu buru-buru berjalan ke kamar mandi untuk mensucikan diri seperti apa perintah Tuhan nya, lalu mengistirahatkan otak di atas kasur empuk milik nya.
__ADS_1
Keesokan harinya.
Sinar matahari pagi membias kaca jendela kamar Bela,memantulkan cahaya menyilaukan mata wanita cantik,terbangun dari tidur lelap nya menyadari tempat nya sungguh asing baginya.
Bela menarik napas panjang sambil merentangkan ke dua tangan nya,menatap langit kamar lalu bersyukur kepada Tuhan nya"Alhamdulillah hari ini Allah masih meminjam kan napas untuk ku," gumam nya sambil tersenyum.
Selang tak berapa lama tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Tok..tok..tok.
"Assalamualaikum bel," sapa Tania.
"Wa'alaikumsalam Tan," sahut Bela sambil bergegas bangkit dari kasur lalu berjalan menuju ke pintu.
Ceklek!
Pintu terbuka,di sana telah berdiri Tania dengan senyuman lebar sambil membawah sarapan pagi untuk Bela.
"Makasih Bel," sahut Tania sambil melangkah kaki nya menuju ke sebuah meja kecil,bela pun menyusul nya.
"Bel,nich aku bawah kan sarapan pagi untuk mu," ujar Tania.
"Terimakasih banyak yaa Tan,dan mohon maaf karena aku telah banyak merepotkan kamu," sahut Bela lalu menatap ke arah sarapan yang telah di sajikan untuk nya.
"Santai aja Bel ma aku,silahkan sarapan Bel," tawar Tania dan berjalan ke arah pintu lalu mengunci nya.
"Kenapa di kunci Tan?" tanya Bela bingung sambil mencicipi roti bakar coklat keju.
Tania hanya tersenyum lebar dan hal itu membuat Bela semakin penasaran"Tan,apa ibumu tak menerima aku di sini?" tanya Bela sambil menatap ke arah Tania begitu dalam.
__ADS_1
"Lupakan tentang ibu Bel,dan sebaik nya kamu habiskan sarapan nya dulu yaa," pinta Tania karena ia tak ingin merusak suasana.
"Tapi Tan.."
Bela terdiam dan terpaku bahkan ia melepaskan sarapan pagi nya begitu saja,karena ia tahu persis jika kehadiran dirinya tentu tak dapat di terima dengan baik oleh sang ibu.
Tak selang berapa lama butiran-butiran airmata dari wanita cantik itu akhirnya terjatuh juga dari pipi nya,dan hal itu membuat Tania buru-buru mendekati Bela.
"Bel,aku tahu perasaan kamu saat ini dan aku minta satu hal sama kamu,buang pikiran-pikiran buruk mu tentang ibu.karena ibu adalah orang yang baik,dan aku jaminkan ibu pasti bisa menerima kehadiran kamu di sini," jelas Tania lalu mendekap Bela agar ia bisa tenang.
Mendengar ucapan Tania membuat tangisan Bela semakin meledak,wanita cantik itu benar-benar malu,malu di hadapan Tania dan sang ibu atas perbuatan nya selama ini.
Ingin rasanya ia memutar waktu kembali agar ia dapat tercipta sebagai orang baik di muka bumi ini,namun semua nya sudah terlambat seketika ia menyadari jika dirinya salah memilih pergaulan selama hidup nya.
Memang tak bisa di pungkiri jika teman dekat sangatlah mempengaruhi kehidupan kita,maka pilihlah sahabat yang bisa menuntun mu ke jalan yang baik,selagi masih ada waktu dan kesempatan.
Ketika memiliki segalanya Bela hanya bisa menghabiskan waktu nya dengan hal-hal yang bisa menjerumuskan dirinya ke dalam lembah dosa.
Padahal umur manusia di muka bumi ini akan di pertanggung jawabkan di akhirat kelak,masa mudah mu dan masa tua mu untuk apa engkau gunakan?
Selain waktu,harta pun akan ada pertanggung jawaban nya di akhirat kelak,darimana harta yang engkau dapatkan?dan ke mana engkau belanjakan?
Menit terus berputar setelah Tania berhasil menenangkan hati Bela yang sedang rapuh,tiba-tiba saja mereka di kejutkan oleh kedatangan Tari.
Tanpa aba-aba gadis kecil itu tiba-tiba saja melompat ke dalam kamar,dan hal itu membuat Tania mengoceh.
"Apa-apa an si kamu Tar,boleh kah kamu masuk mengucap salam terlebih dahulu?kebiasaan," seru Tania kesal lalu menatap tajam ke arah gadis kecil itu.
"Ah kakak! gitu aja marah senyum donk kak,kakak cantik de,"rengek Tari lalu berjalan menuju ke hadapan mereka.
__ADS_1
Tania tak merespon sama sekali karena ia benar-benar kesal terhadap Tari.sedangkan Bela,ia hanya bisa menyaksikan bagaimana ekspresi wajah Tania ketika ia sedang marah.