Istri Ke 2 Yang Terlupakan.

Istri Ke 2 Yang Terlupakan.
142.Dia Pantas Di Hukum.


__ADS_3

"Silahkan menikmati penderitaan kamu,Bro!"teriak pak Ammar lalu tersenyum puas di hadapan laki-laki yang baru saja kehilangan sang istri.


Luka yang masih berdarah-darah akibat perbuatan pak Ammar yang tidak memiliki otak ini,Pak Dion segera bangkit dari ratapan nya lalu bergegas berjalan menuju ke hadapan pak Ammar.


Tak ada ucapan sepatah kata pun yang keluar dari bibir laki-laki ini karena hatinya benar-benar hancur,bahkan kedatangan pak Ammar membuat ia semakin geram.


Bugh!


Bugh!


Pukulan maut dari tangan si berotot ini kembali lagi mendarat,meninju wajah pak Ammar 2 kali hingga membuat tubuh nya terhempas begitu saja ke tanah.


"Cukup pak,"teriak Tari seketika matanya tertuju pada ke murkaan pak Dion"Cukup pak! dan kamu!,"gadis ini menunjukkan jari kepada pak Ammar sambil menatap nya tajam.


"Dia pantas di hukum Tari,dia yang menyebabkan kepergian kakak mu!,"Tari yang belum bisa mengontrol diri kini semakin geram"Apa?berarti kamu yang membuat kakak ku menderita seperti itu?bahkan nyawanya tak bisa tertolong lagi.Dasar pembunuh!".


Gadis ini langsung menampar ke dua pipi pak Ammar secara bergantian,setelah puas menampar Tari kembali lagi menendang ke dua kaki pak Ammar secara bergantian.


"Cukup Tari!,"teriak pak Dion seketika melihat pak Ammar sudah tak berdaya"Lebih baik kita bawah laki-laki ini ke kantor polisi,"seru pak Dion sambil menuding ke arah pak Ammar.


Mendengar ucapan pak Dion membuat Pak Ammar langsung menganga,laki-laki ini begitu ketakutan jika ia harus berurusan dengan kantor polisi.hidup bebas saja di dunia ia merasakan hidupnya seperti berada di nerzka,lantas bagaimana jika ia harus terkurung dalam jeruji besi?


Memikirkan semua itu membuat pak Ammar mengumpulkan seluruh tenaganya,tenaga yang masih tersisa akibat kebodohannya"Tari,kamu tunggu aku di sini.dan pastikan laki-laki ini tidak akan bisa kabur lagi dari sini."


Gadis kecil ini segera menganggukkan kepalanya lalu menatap ke arah Pak Dion yang telah berlalu. sementara pak Ammar,laki-laki ini perlahan-lahan untuk bangkit dan berusaha untuk kabur.

__ADS_1


Belum sempat pak Ammar untuk melangkah kan kakinya,gadis kecil ini segera menggenggam tangan pak Ammar"Mau ke mana kamu si pembunuh?."


Pak Ammar bukan nya menjawab pertanyaan dari si gadis kecil ini,namun ia malah menepis tangan si gadis kecil ini begitu saja lalu bergegas kabur dari tempat ini.


"Mau kabur ke mana kamu,Pak?,"teriak Tari lalu bergegas menyusul pak Ammar yang telah berlalu"Ah sial! ke mana mereka?,"lirih pak Dion sambil memukul kemudi mobil berulang kali.


Saat ini pak Ammar dan si gadis kecil ini masih saling kejar-kejaran,berlari melewati pohon-pohon kelapa di pinggiran pantai ini dengan kaki telanjang.mereka tak peduli lagi bagaimana panas nya kaki telanjang mereka di atas hamparan pasir putih di bawah terik nya matahari.


Pak Ammar yang telah jauh meninggalkan gadis kecil ini akhirnya tersenyum lebar hingga menampakkan gigi putih nya.sementara Tari,gadis kecil ini akhirnya menyerah juga,karena kekuatan wanita tak ada apa-apanya di banding kan dengan kekuatan laki-laki.


"Ah sial! ternyata dia berhasil lolos dari tangan ku,"seru gadis kecil ini lalu menghempaskan bokong nya begitu saja di atas hamparan pasir putih.


"Bodoh! tak seharus nya pak Dion meninggal kan kami begitu saja,"teriak Tari semakin kesal sambil melemparkan satu genggaman pasir di tangan nya.


Merasa gagal untuk membalaskan dendam sang kakak yang telah pergi untuk selama-lamanya,gadis kecil ini kembali lagi menetes kan airmata nya.menangis terisak-isak sambil memeluk ke dua kakinya,hidup nya benar-benar tak punya tujuan lagi.


"Bodoh!,"teriak pak Dion begitu nyaring karena menyesali tindakan nya yang ceroboh.seharus nya ia menyeret pak Ammar ke kantor polisi tanpa perlu menggunakan kendaraan apapun.


Laki-laki ini kembali lagi meneteskan air mata, memikirkan nasib dirinya yang sial itu hingga membuat nya putus asa.putus asa karena merasa Tuhan memberinya hukuman seberat ini.


Detik dan menit terus berputar setelah memikirkan langkah apa yang harus ia tempuh hari esok,laki-laki ini segera berputar arah lalu melajukan mobilnya menuju ke villa.


"Tan,apa boleh aku meminta waktu kamu sebentar saja,Please!".


"Ada apa,Pak?"tanya Tania bingung sambil menepis air matanya yang masih menetes dari pipinya.

__ADS_1


Pak Dion berdiam diri sejenak.laki-laki ini bingung sendiri,bingung karena ia tidak tau dengan cara apa agar ia bisa menyampaikan niat baiknya untuk segera menikahi Tania?


Lantas bagaimana dengan Tania,akan kah ia bisa menerima tawaran itu dari laki-laki yang baru saja kehilangan istri nya?bahkan hatinya belum sembuh dari rasa bersalah atas kepergian kakak nya.


Saat ini Pak Dion memiliki niat untuk segera menikahi Tania demi menggantikan posisi sang kakak,walau sebelumnya mereka pernah merencanakan poligami.


"Kenapa bapak diam saja?".


"E-enggak papa kok,Tan,"sahut nya dusta demi menyelamatkan diri dari kemurkaan seorang gadis yang masih terpukul atas kepergian sang kakak.


Laki-laki ini kembali lagi mengurungkan niatnya untuk segera menikahi Tania.pikiran nya masih waras karena ia berpikir saat ini bukan lah waktu yang tepat untuk memiliki gadis impian nya selama ini.


Pak Dion kembali lagi menelan ludahnya pahit.menghempaskan tubuh nya begitu saja di sofa sembari berpikir,berpikir bagaimana agar ia bisa tegar menghadapi ujian seberat ini.


"Bapak baik-baik saja kan?."


Mendengar pertanyaan Tania membuat pak Dion langsung mengangkat kepalanya,menatap wajah Tania begitu dalam hingga mampu membuat air bening jatuh dari pipinya.


Rasa-rasanya pak Dion ingin segera memeluk wanita yang sedang berada di dekat nya saat ini,memeluk nya untuk menumpahkan segala beban yang ia rasakan saat ini.namun seketika ia menyadari kembali jika ia di takdir kan sebagai laki-laki yang tidak boleh mengeluh. pak Dion bergegas menyeka air matanya lalu mengalihkan pandangannya dari hadapan wanita yang bukan mahram nya.


1 bulan kemudian.


Setelah keadaan duka sedikit membaik dari sebelumnya.ke dua gadis yang malang ini saling bertukar pikiran,berbaring di tempat tidur menatap langit-langit kamar sambil membicarakan banyak hal.


Setelah kepergian sang kakak,ke dua gadis ini telah berjanji untuk menjaga ke dua wanita paruh baya itu,seorang ibu yang belum akur sampai detik ini.

__ADS_1


Lantas sampai kapan mereka saling menyimpan dendam satu sama lain?sementara ajal menunggu setiap detik nya.


__ADS_2