
Setelah menempuh hidup dengan lika dan liku berbagai macam ujian kehidupan yang menerpanya,namun mereka bisa mengambil pelajaran bahkan mendewasakan diri untuk menjadi lebih baik untuk hari esok.
Saat ini mereka kembali lagi berkumpul di kediaman istana yang megah.rumah berukuran besar yang di tinggalkan oleh sosok wanita hebat seperti Rani dan beruntung saja harta yang ia tinggalkan saat ini jatuh kepada orang-orang yang tepat.
Seketika manusia telah meninggalkan dunia untuk selama-lamanya,maka tak sedikit orang berkata jika harta yang mereka tinggalkan tidak akan lagi bermanfaat dan akan menjadi rebutan bagi orang-orang yang mereka tinggalkan.
Kata siapa tidak akan bermanfaat?
Ini lah penting nya memilih orang-orang yang tepat menjadi si pewaris yang amanah.orang yang beriman tidak akan pernah menyalahgunakan harta yang mereka dapatkan,karena mereka fahami jika harta adalah sebuah titipan untuk di gunakan sebaik mungkin di jalan Tuhan nya.
Sebagai adik angkat dari almarhumah Rani,Tania adalah gadis yang mewarisi seluruh harta yang di miliki oleh nya dan bahkan ibu Tuti telah memilih Tania sebagai pewaris yang tepat sebelum kepergian putri semata wayangnya.
"Tania ibu ini sudah tua,dan sudah saat nya ibu menyerahkan sertifikat ini untuk mu,"sang ibu menyerahkan beberapa sertifikat untuk Tania.
"Sertifikat?."
Tania langsung bangkit dari tempat tidur lalu mengambil sertifikat itu dari tangan ibu Tuti"Tidak Bu,aku tidak pantas untuk medapatkan ini semua."
"Tidak Nak.kamu yang berhak untuk mendapatkan itu semua,dan untuk Tari aku sudah siapkan sertifikat tersendiri untuk nya."
Ke dua gadis yang malang ini saling menatap sejenak,mereka tak pernah menyangka jika kehadiran dalam keluarga ini adalah suatu keberuntungan baginya.walau mereka tak pernah mengharapkan sedikit pun harta dari keluarga ini,karena mereka menyadari di mana posisi mereka bahkan mendapatkan kasih sayang dari keluarga ini saja mereka sudah sangat beruntung.
"Aku juga bu?,"tunjuk Tari pada dirinya sendiri. sementara sang ibu,wanita paruh baya ini hanya bisa mengangguk kan kepalanya lalu mendekati si gadis kecil ini.
"Sini peluk ibu,Nak,"pinta sang ibu sambil merentangkan ke dua tangan nya.
__ADS_1
Mereka berpelukan layak nya seperti ibu dan anak,tangisan mereka kembali lagi meledak karena si gadis kecil ini sangat beruntung memiliki ibu Tuti,ibu yang sangat menyayangi nya setulus hati nya.
"Ibu maafin Tari ya Bu,"merasa diri belum bisa membalas kebaikan sang ibu,gadis kecil ini hanya bisa mengucapkan kata maaf sembari memeluk erat sang ibu.
"Tania juga ya Bu,maafkan kami Karena kami belum bisa membahagiakan ibu selama ini,"tambah Tania sambil meneteskan air mata.
Istana yang megah ini kembali lagi berduka,tangisan mereka semakin meledak.terlebih lagi seketika mereka mengingat kembali seorang gadis yang telah pergi untuk selama-lamanya,tangisan mereka kini semakin meledak bahkan nyawanya hanya tinggal satu-satu.
Padahal mereka fahami jika di dunia ini tak ada yang abadi,dan setiap yang bernyawa pasti tak akan bisa lari dari yang namanya kematian.
Setelah puas menangis mereka kembali lagi menata hati masing-masing,menguatkan diri agar tak berlarut larut dalam kesedihan.
"Nak,apa kamu belum bisa membuka hati untuk pak Dion?," sang ibu kembali lagi memecah keheningan di antara mereka.sementara Tania,gadis ini hanya bisa menundukkan ke
Tania hanya bisa berdiam diri.gadis ini tak mampu lagi untuk membuka suara seketika sang ibu mengingat kan kembali tentang keluarganya.keluarga yang selama ini ia tinggalkan dan bahkan ia menikah tanpa sepengetahuan ke dua orang tua nya.
Lantas bagaimana Tania mampu menghadapi masalah ini sendirian?sementara orang yang selama ini bertanggungjawab atas pernikahannya telah pergi untuk selama-lamanya.
Gadis ini kembali lagi menelan ludah nya pahit,memikirkan banyak hal tentang ucapan sang ibu barusan membuat gadis ini benar-benar kebingungan.
"Bagaimana,Nak?".
"Aku setuju banget Bu jika kakak cantik berjodoh dengan pak Dion,"seru Tari tak mau ketinggalan.
"Enggak Bu! jika aku dan pak Dion di takdir kan untuk bersama,maka kami harus menikah ketika aku telah melahirkan nanti nya,"jelas Tania lalu menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Kenapa harus begitu,Nak?,"tanya sang ibu bingung sambil menatap ke dua putri nya secara bergantian.
Tania menghela napas panjang lalu menghembuskan nya secara perlahan-lahan.gadis ini benar-benar bingung,bingung bagaimana ia dapat menjelaskan tentang hukum-hukum Allah tentang menikah ketika sedang hamil,walaupun ia sudah resmi cerai dari suami yang tidak bertanggungjawab seperti pak Ammar.
Pantas saja Tania selama ini selalu menolak atas apa permintaan pak Dion.
"Apa alasan nya kak?Pak Dion kan laki-laki yang baik,dan juga bisa di andalkan untuk menjaga kakak dan juga bayi yang ada dalam kandungan kakak saat ini,"tambah Tari semakin bingung.
Tania menatap wajah sang ibu dan Tari secara bergantian.walau ia pernah menyetujui tentang persyaratan poligami itu dari sang kakak,bukan berarti ia telah siap untuk menerima tawaran itu secepat mungkin,karena ia tau persis bagaimana hukum nya menikahi wanita yang sedang hamil.
"Aku tau itu Tari,tapi dalam agama kita seorang wanita yang sedang hamil itu tidak boleh di nikahi oleh laki-laki lain,sebelum keluar dari masa Iddah nya,"jelas Tania lalu menunduk kepalanya.
Gadis ini kembali lagi meneteskan air mata. memikirkan nasib buah hatinya hingga membuat tangisan nya semakin meledak.dan siapa sangka jika nasib si gadis bunga desa ini harus berakhir seperti itu?
Namun sebagai orang yang beriman,apa yang terjadi di muka bumi ini adalah suatu ketentuan yang terbaik dari Tuhan nya,jadi tak perlu menggerutu atau bahkan mencaci maki apa yang telah terjadi hari ini.
Bisa jadi kamu membenci sesuatu padahal itu teramat baik bagi mu,dan begitupun sebaliknya.
Tari dan sang ibu baru mengerti mengapa Tania selama ini selalu saja menolak permintaan pak Dion,dan mereka berharap semoga saja laki-laki itu bisa mengerti di mana posisi dan keputusan Tania saat ini.
________
Jika hukum pernikahan ini enggak benar,maka kalian boleh protes karena Author mengambil ilmu dari salah satu ustadz ternama dan berdasarkan hadist yang shahih.
Barakallahu fiik.
__ADS_1