Istri Ke 2 Yang Terlupakan.

Istri Ke 2 Yang Terlupakan.
85.Kehadiran Bela.


__ADS_3

"Jangan peluk aku Tania,"pinta Bela karena ia menyadari jika dirinya adalah manusia yang menjijikkan.


Mendengar ucapan Bela membuat tangisan Tania semakin meledak,Tania dapat merasakan bagaimana rasanya berada di posisi Bela,dan tentu saja hidup nya sangat lah menderita.


Hidup terombang-ambing tanpa keluarga kerabat atau siapa pun itu,tentu nya itu akan sangat menyiksa dirinya namun karena ketegaran dirinya,ikhlas menerima ketentuan dari Nya sehingga ia masih berdiri tegap sampai detik ini.


Bela yang merasakan bagaimana ketulusan hati yang di miliki oleh Tania,wanita yang selalu ia anggap musuh selama ini,justru dia lah yang menerima keadaan Bela tanpa merasa jijik dan malu.


Kini Bela baru menyadari,menyadari bawahsanya ketika ia memiliki segalanya maka orang-orang akan selalu berada di samping nya,namun ketika ia terjatuh dalam keadaan terpuruk seperti ini,siapa yang ikhlas menerima keadaan nya seperti itu?


Memikirkan semua itu membuat Bela terisak tangis lalu memeluk erat Tania"Maafkan aku Tania,maafkan aku," pinta Bela penuh permohonan.


"Cukup Bel,lupakan apa yang pernah terjadi," ujar Tania sambil menenangkan Bela di pelukan nya.


Setelah bosan menangis Bela melepaskan diri dari Tania begitu saja,karena wanita itu harus kembali bekerja demi memenuhi kebutuhan nya malam ini dan bahkan esok.


"Terimakasih atas kehadiran kamu Tania,semoga Allah senantiasa membalas kebaikan kamu terhadap aku,aku pamit," ujar Bela sembari menyeka air mata nya.


"Kamu mau ke mana lagi Bel? ini sudah larut malam,dan sebaik nya kita pulang sekarang," pinta Tania lalu menatap wajah bela begitu dalam.


"Maaf Tan,tapi aku harus kembali lagi bekerja demi memenuhi kebutuhan aku esok hari,"jelas Bela sambil menundukkan kepalanya.


"Apa!" gerutu Tari yang masih sempat mendengar ucapan Bela setelah bosan menunggu di mobil.


"Tidak Bela! Kamu harus tinggalkan kehidupan kamu yang sekarang ini,ayo ikutlah dengan ku," pinta Tania dengan intonasi suara tinggi karena ia benar-benar tak ingin membiarkan Bela kembali lagi melakukan hal seperti itu.


Mendengar ucapan Tania membuat Tari menelan ludah nya berkali-kali,Tania benar-benar mengingat kan kembali ketika Tania menyelamatkan dirinya dari kejam nya dunia prostitusi.

__ADS_1


Hal itu membuat Tari bolak balik sembari berpikir"Hati kakak cantik terbuat dari apa si?" gumam nya masih dalam posisi yang sama.


"Maaf Tania! ini adalah kehidupan baru aku dan aku ikhlas menjalani ini semua,karena aku sadar jika ini adalah sebuah hukuman yang pantas aku dapatkan dari Allah,karena aku adalah pendosa yang hebat dan aku masih di beri kesempatan untuk bertaubat sebelum ajal menjemput ku,pulang lah Tan dan terimakasih banyak atas waktunya," jelas Bela sambil melangkah kan kaki nya.


"Plakkk


Seperti kotoran manusia yang di lemparkan ke wajah Tari setelah mendengar ucapan Bela barusan.


Tari yang menyadari dirinya manusia yang menjijikkan dan penuh dengan dosa,selama bertahun-tahun hidup di dalam dunia prostitusi dia merasa lebih hina daripada seorang pengemis seperti Bela.


Tari yang sedari tadi bolak balik seperti kambing yang sedang mencret,kini dirinya berlari untuk menghentikan langkah Bela" Ayo kita pulang kak,karena kakak tak pantas melakukan hal kotor seperti ini,"pinta Tari yang sok akrab lalu merentangkan kedua tangan nya di hadapan Bela.


Walau hatinya hancur berkeping-keping karena ucapan Bela barusan,namun gadis kecil itu berusaha tegar kan diri di hadapan mereka,agar semua nya terlihat baik-baik saja.


Melihat sikap Tari seperti itu membuat Bela dan Tania membulat kan bola mata nya "Apa maksud kamu? kamu masih bocah jadi tak sepantas nya kamu ceramah seperti itu," seru Bela kesal.


"Aku?," tanya Tania bingung sambil menunjukkan jari kepada dirinya sendiri.


Mendengar ucapan Tari membuat Bela menatap Tania begitu dalam,wanita itu benar-benar menyadari jika Tania adalah orang yang baik,dan patut untuk di jadikan contoh sebagai seorang muslimah yang baik akhlak dan agamanya.


Bela yang merasa dirinya adalah manusia yang berlumuran dosa,hingga kini ia berjanji kepada dirinya sendiri untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin,bertaubat kepada Allah dan mencari rezeki yang halal untuk keberkahan hidup yang masih tersisa.


Suasana menjadi hening karena mereka sama-sama memikirkan nasib,nasib dirinya yang menyadari manusia akan penuh dengan dosa.


Namun seketika Tania menyadari malam semakin larut,ia pun segera melangkah ke hadapan Bela"Ayo bel ikut kami sekarang juga,Please!,"pinta Tania sambil mengatupkan kedua tangan nya.


"Tapi Tania.."

__ADS_1


Bela terdiam dan terpaku karena ia takut jika Rani dan sang ibu tak dapat menerima kehadiran dirinya,karena bela menyadari betapa kejam nya perbuatan dirinya selama ini.


Tania yang mengerti perasaan Bela saat ini,hingga ia bergegas Mengenggam erat tangan Bela"Jangan takut Bel,aku akan selalu berada di samping mu,"Jelas Tania sambil menuntun langkah Bela menuju ke arah mobil.


"Silahkan masuk,"pinta Tania setelah membuka pintu mobil depan dan Tari duduk di job belakang.


"I-iya Tan," jawab Bela gugup.


Tania merasa lega begitupun dengan Tari karena mereka telah berhasil membawah Bela tanpa memikirkan resiko yang akan terjadi,yang terpenting baginya adalah menyelamatkan orang-orang yang hidup nya sengsara di luar sana.


Sepanjang perjalanan Bela hanya bisa mematung dan membisu,karena di kepala nya ada ribuan ketakutan,dan hal itu membuat Tania mencemaskan nya.


"Apa lagi yang kamu pikirkan Bel?,"tanya Tania untuk memastikan apakah ia baik-baik saja.


"E-enggak ada kok Tan," sahut Bela dusta agar semua nya terlihat baik-baik saja.


"Jangan banyak mikir kak.Hidup ini tak perlu ada yang di takuti,karena kita punya Allah yang maha kuasa,"jelas Tari demi menyemangati Bela.


"Iya ade,terimakasih banyak yaa atas kebaikan kamu," sahut Bela lalu menoleh ke arah Tari.


Gadis kecil dan sok pahlawan itu hanya bisa tersenyum manis sembari berpikir"Kasian banget nasib kamu kak."


Waktu berjalan kurang lebih 30 menit sampailah mereka di rumah mewah tersebut,terlihat halaman rumah dan lampu-lampu jalan yang berjejer sepanjang pagar rumah,hal itu membuat Bela ketakutan di sertai bibirnya bergetar.


Bela berjalan masuk mengikuti Tania dan Tari dan mereka berhenti di ruang tengah,tepat nya ruang keluarga tempat ternyaman bagi Tania dan Tari.


"Silahkan duduk Bela," ujar Tania lalu menatap ke arah Tari memberi isyarat agar Tari segera menyiapkan teh manis untuk mereka.

__ADS_1


Bela menganggukkan kepalanya lalu perlahan-lahan duduk di sofa yang kelihatan interior,dan perabotan di rumah mewah itu bukan lah kaleng-kaleng.


__ADS_2