
Sebagai orang beriman,ujian yang datang silih berganti akan mendewasakan diri,pahala berlipat ganda sebagai ganjarannya,dan tentu nya mereka tak akan pernah mengeluh sedikit pun.
Mengeluh hanya menambah beban kehidupan,sabar dan Tawakal adalah solusi nya.
Memikir kan semua itu,kedua wanita hebat yang masih berdiam diri di sebuah kamar hotel,kini saat nya bangkit dan siap-siap untuk berjuang kembali.
Sementara di tempat lain,pak Dion yang sedang sibuk mencari keberadaan gadis menyebalkan itu,kini malah di pertemukan kembali dengan seorang pria di sebuah cafe,pria yang tak pernah bertanggung jawab selama ini sebagai seorang suami.
"Sedang apa kamu di sini?apa kamu bersama selingkuhan kamu?," tuduh pak Dion sementara pak Ammar hanya bisa tersenyum licik sambil menikmati segelas jus.
"Kamu tak pantas menjadi suami bagi Tania,ceraikan dia atau Tania akan tau semua kelakuan kamu selama ini,"sambung nya kembali.
Pria ini benar-benar murka,mata memerah,darah mendidih dan tangan terkepal begitu kuat.
"Cukup pak!"potong pak Ammar sambil bangkit dari kursi.
Bugh!
Pukulan keras langsung mendarat ke wajah pak ammar"Dasar pria brengsek!sekali lagi kamu temui Tania,maka kamu akan tau akibat nya,"ancam pak Dion sambil berlalu.
Tinggallah pak Ammar seorang diri,mengelus-elus wajah nya sambil menatap ke arah pak Dion.
Bugh!
Bugh!
Pak Dion masih melampiaskan amarahnya di dalam mobil,memukul kemudi mobil begitu kuat"Seharus nya aku yang berada di posisi nya,bukan pria gila itu," lirih nya penuh kekesalan.
Pria ini merasa dunia ini tak adil,di saat dia menginginkan seorang wanita yang begitu sangat ia cintai,justru dia menderita karena Takdir telah mempertemukan mereka dengan seorang pria yang tak bertanggung jawab seperti pak Ammar.
Demi langit dan bumi pak Dion tak akan rela,jika Tania di campakkan begitu saja.
"Sadar lah Tan,sudah saat nya kamu membuka hati mu untuk ku," lirih nya sambil menelan ludahnya kasar lalu melajukan mobil nya.
Sepanjang perjalanan pria ini terus saja memikirkan nasib Tania,nasib yang tak seberuntung dengan wanita lain,pria ini benar-benar tak akan rela Tania mendapatkan perlakuan tak adil seperti itu.
__ADS_1
Melihat sisi kanan dan kiri siapa tau keajaiban berpihak padanya,segera menemukan Tari dan menyeretnya nya kembali ke kandangnya.
Pria ini seolah-olah ingin menjadi pahlawan bagi wanita-wanita yang sangat berarti baginya saat ini, terlebih lagi kepada Tania,pria ini berjanji akan selalu melindungi nya.
Malam pun tiba.
Tubuh yang lelah serta otak tak karuan dan perut keroncongan,Tania dan Rani sepakat untuk bersantai sejenak di sebuah restauran terkenal di kota ini.
"Kak,apa sebaik nya kita menyerah saja,soal ibu biar aku yang jelaskan semua nya,"usul Tania.
"Enggak Tan!aku gak akan pulang sebelum menemukan Tari,sekarang kita tunggu pak Dion," jelas nya lalu melanjutkan kembali makanannya.
Tania langsung tersenyum lebar"Cie kakak,tumben banget akur ma pak Dion," goda Tania sambil menatap ke arah sang kakak.
"Kak sudah saat nya kakak menikah,memiliki anak yang lucu dan cantik seperti ibu nya,tentu ibu pasti akan bahagia deh," sambung nya kembali,entah mengapa Tania sangat setuju jika pak Dion dan Rani akan berjodoh.
Rani hanya tersenyum lebar sembari geleng-geleng kepala,gadis ini tau persis apa maksud dari ucapan sang adik barusan.
"Jangan banyak ngomong,ayo makan sekarang dan tak boleh menyisakan makanan sedikit pun."
"Iya deh."
Tak selang berapa lama,pak Dion akhirnya menampakkan juga batang hidung nya.tampak nya dia kelihatan sangat lelah,berjuang seharian demi si gadis menyebalkan itu.
"Assalamu'alaikum," sapa pak Dion.
"Wa'alaikumussalam pak,silahkan duduk," sahut Tania sambil memperhatikan wajah pak Dion"Kenapa tu muka?."
"Tan jaga sikap kamu," tegur Rani.
"Enggak papa kok Ran,lagian kami sudah sahabatan kok,"jelas pak Dion sambil menghempaskan tubuhnya di kursi.
"Sahabat?sejak kapan pak?"tanya Rani bingung sambil menatap mereka secara bergantian.
"Udah lah kak,pak Dion itu sudah seperti kakak buat aku,benar begitu kan,Pak?".
__ADS_1
"Iya benar Ran,udah lah enggak usah di pikirin," ujar pak Dion sambil menatap ke arah meja"Wow rupanya kalian sudah makan ya?."
"Iya pak,maaf pak kami tak bisa menunggu bapak soal nya perut sudah tak bisa lagi atur damai"jelas Rani.
Pak Dion tersenyum lebar"Enggak papa,lagian aku gak ada selera makan."
"Diet? tanya Tania.
"Enggak lah Tan,cuma malas aja.oh ya Tan tadi aku ketemu ma pak Ammar di cafe."
"Pak Ammar?".
"Iya Ran,dan kamu Tan sebaiknya kamu tak perlu ketemu dia lagi,"usul Pak Dion,pria ini benar-benar tak ingin jika Tania tau kelakuan pak Ammar selama ini.
Tania tak mampu lagi untuk berkata apa-apa,gadis ini hanya bisa menundukkan kepalanya sembari merenungi nasib nya,nasib sebagai seorang istri yang tak pernah di anggap ada.
Sementara Rani,gadis ini hanya bisa menatap ke arah Tania,rasa penasaran begitu besar setelah melihat sikap Tania seperti ini,hingga membuat Rani mengepalkan tangannya.
Gadis ini benar-benar tak ingin jika Tania harus di perlakukan secara tak hormat sebagai seorang isteri,terlebih lagi saat ini Tania telah mengandung anak dari pak Ammar sendiri.
Lantas sampai kapan hubungan mereka akan membaik?sementara dunia ini telah menolak nya secara kasar,maksudnya tak ada satupun yang berada di pihak pak Ammar.
"Tan,apa pak Ammar menyakiti kamu lagi?."
Lagi-lagi pertanyaan Rani membuat Tania ketakutan,gadis ini benar-benar tak mampu lagi untuk membuka mulut,bibir nya gemetaran dan seluruh tubuhnya keringat dingin.
"Tan ayo jawab pertanyaan aku,"desak Rani gadis ini benar-benar murka"Apa bapak tau di mana tempat tinggal pak Ammar saat ini?".
Pak Dion hanya menggelengkan kepalanya lalu menelan ludahnya kasar"Ran,sebaiknya kamu tenangkan diri dulu."
Rani hanya bisa menelan ludahnya kasar,istighfar berulang kali agar bisa menenangkan diri"Sampai kapan dia akan menjadi suami yang baik bagi Tania?."
Pak Dion hanya bisa menatap ke arah ke dua wanita cantik ini secara bergantian,pria ini benar-benar tak bisa membayangkan,bagaimana perasaan mereka jika tau kebenaran yang sesungguhnya?
Kebenaran jika pak Ammar selama ini telah berani berselingkuh dengan sahabat nya sendiri,sahabat yang selama ini telah di beri kepercayaan sepenuhnya.
__ADS_1
Lantas apakah Mita masih pantas di sebut sahabat?sedangkan dirinya telah banyak melakukan kesalahan,selain sebagai perusak rumah tangga,dia bahkan berani mengambil harta yang bukan menjadi miliknya.
Memikirkan semua itu membuat pria ini mengedipkan bahunya berulang kali,lalu geleng-geleng kepala tanpa jeda.