
Detik dan menit terus berputar,gadis kecil yang masih terus melangkah kan kaki nya tanpa satu arah tujuan,melangkah hanya dengan modal keberanian saja.
Langkah demi langkah telah ia habiskan,keringat bercucuran telah membasahi seluruh tubuh nya,tubuh mungil yang masih membutuhkan kasih sayang,namun keras nya hati yang ia miliki hingga dia harus terjebak dalam situasi seperti ini.
Entah sampai kapan gadis kecil menyebalkan ini bertahan hidup dalam situasi yang sedang tak baik-baik saja? maksud nya hidup lontang Lantung di jalanan.
Sementara di tempat lain ke dua gadis yang telah lelah menyusuri bagian ibukota,mereka tampak nya putus asa dan rasa-rasanya ingin saja menyerah.
Lantas bagaimana agar mereka bisa mengembalikan senyuman sang ibu?apa mereka harus mengunci bibir dan telinga saja? menyelamatkan diri dari ocehan demi baktinya sebagai seorang anak.
Memikirkan semua itu membuat putri nya menghela nafas panjang,Rani yang tau persis bagaimana ketegasan yang di miliki oleh sang ibu,wanita ini benar-benar bingung harus melakukan apa sekarang.
Di sisi lain kata menyerah telah berpihak,sementara di hati nya masih tergores luka,luka hati yang di goreskan oleh ucapan sang ibu
"Apa yang harus aku lakukan Yaa Rabb," gumam nya sembari menghentikan mobil nya secara mendadak.
"Kakak baik-baik saja kan?."
"Apa benar aku emang egois,Tan?lalu siapa orang yang di maksud ibu itu?dan apakah aku ini bukanlah anak kandung dari ibu sendiri? tebak nya asal lalu mengusap wajahnya kasar.
Pertanyaan bertubi-tubi yang terlontar dari bibir Rani seketika membuat Tania menyipitkan matanya,nafasnya tak beraturan dan tubuh nya tiba-tiba saja berkeringat.
Otak dan hatinya terhubung begitu cepat"Apa yang akan terjadi jika hal itu benar?," gumam nya sembari menelan ludahnya kasar.
"Kalau benar begitu?berarti aku ini anak siapa?dan mengapa ayah tega menyembunyikan itu semua dariku,"sambung nya kembali.
Dengan mata memerah dan seluruh tubuhnya gemetaran,dan perlahan-lahan airmata bening kini terjatuh pula dari pipi mulus nya.
Menyandarkan kepalanya di atas kemudi mobil,tangisan nya meledak-ledak dan hatinya begitu hancur,wanita ini benar-benar tak tau harus bersandar kepada siapa lagi selain kepada Allah.
__ADS_1
Rasa-rasanya ingin berlari ke ujung dunia agar beban hidup nya sedikit berkurang,namun semua itu hanya sia-sia belaka,karena dia menyadari sejauh manapun ia berlari.ujian dari-Nya tidak akan pernah lepas selagi dia masih berjalan di muka bumi ini.
"Kak.." panggil Tania sambil memegang bahu sang kakak.
"Itu tidak mungkin kak,kakak tau sendiri kan bagaimana sayang nya ibu ke kakak."
Tania berusaha menenangkan hati yang sedang patah,dan tanpa terasa airmata nya pun terjatuh membasahi ke dua pipinya.
Tangisan ke dua nya semakin meledak,bibirnya tak mampu lagi untuk berkata,sementara hatinya hancur bagaikan kaca yang sedang terjatuh ke lantai.
Setelah ini entah ujian apalagi yang akan datang.
Namun sebagai manusia yang beriman,percaya jika malam akan berganti siang,tangisan akan berganti kebahagiaan,dan ujian itu pasti akan berakhir pada masanya.
Setelah merasa diri menjadi tenang,ke dua gadis ini kembali menghela napas panjang dan menghembuskan kan nya secara perlahan-lahan.
Saling menatap sejenak memberi isyarat agar saling menguatkan satu sama lain,dan setelah itu mobil kembali lagi melaju dengan kecepatan sedang.
Setelah bosan mengelilingi bagian ibukota mereka harus istirahat sejenak.memanjakan tubuh dan otak di sebuah cafe ternama di kota ini.
"Apa cafe ini tempat kamu bertemu dengan Tari?"Rani berharap semoga Tari bisa di temukan di cafe ini,hingga matanya menyisir ke seluruh bagian,namun nyatanya gadis menyebalkan itu tak jua menampakkan batang hidungnya.
Tania hanya bisa mengangguk pasrah,sang calon ibu ini benar-benar lelah dengan keadaan seperti ini.namun demi kebahagiaan sang ibu,Tania rela melakukan apa saja.
Setelah mereka berhasil duduk di sebuah kursi,badan yang lelah dan otak tak karuan serta selera makan pun tak ada.namun mereka harus memaksakan diri,memaksakan agar bisa mengisi perut yang kosong demi menguatkan tubuh yang sedang rapuh.
Menopang dagu nya di atas meja dengan ke dua tangan nya sembari melirik kanan dan kiri,ke dua wanita cantik ini benar-benar seperti kehilangan arah.
Setelah 1 jam telah berlalu mereka kembali lagi berdiskusi,langkah apa yang harus mereka tempuh.agar mereka bisa menemukan gadis menyebalkan itu.
__ADS_1
"Tan,apa kita lapor polisi aja,biar Tari secepatnya di temukan?" Rani benar-benar telah pasrah dengan kondisi seperti ini.Namun demi senyuman dan terhindar dari ocehan sang ibu,wanita ini benar-benar harus memaksakan diri.
Memaksakan diri untuk berusaha menemukan Tari nyawa sekalipun jadi taruhan nya,wanita ini akan ikhlas demi kebahagiaan sang ibu tercinta.
Lantas apakah dia masih berhak mendapatkan kutukan-kutukan dari sang ibu?
Sementara dirinya telah berbakti selama puluhan tahun sebagai seorang anak.anak yang selama ini selalu mendapat kan ucapan kasar,dan mungkin sebentar lagi kebenaran itu akan terungkap.
Sepandai-pandainya manusia menyimpan aib di masa silam,cepat atau lambat pasti akan tercium juga,karena Tuhan memiliki kuasa di atas segala-galanya.
Tania hanya menatap sang kakak begitu dalam,sorot matanya begitu tajam dan seperti nya wanita ini merasakan jika sang kakak sedang tak baik-baik saja.
Perlahan-lahan ke dua tangan nya langsung mendarat ke wajah sang kakak,mengelus nya begitu lembut dan tanpa terasa tetesan airmata dari pipinya kembali lagi terjatuh.
Menundukkan kepalanya sembari memikirkan penyakit apa yang di derita sang kakak selama ini?wanita ini benar-benar takut,takut jika sang kakak menderita penyakit yang serius.
Gadis cengeng ini yang masih dalam posisi yang sama,perlahan-lahan dia kembali mengangkat kepalanya lalu menatap sang kakak begitu dalam.
"Kak sebaiknya kita pulang sekarang,soal Tari biar aku saja yang ngurus."
Rani menggelengkan kepalanya"Enggak Tan,kita tak boleh pulang sebelum menemukan Tari."
"Ayo kita berangkat" sambung nya kembali lalu beranjak dari kursi.
Tania mendongak kan kepalanya sembari menatap sang kakak,wanita ini benar-benar tak tega jika mereka harus berjuang kembali,demi mencari keberadaan gadis ingusan itu.
Setelah menyelesaikan pembayaran di kasir,mereka segera beranjak pergi dan berjuang kembali demi senyuman sang ibu.
Sepanjang perjalanan Tania hanya berdiam diri, memikirkan banyak hal yang akan terjadi esok hari.
__ADS_1
"Tan,setelah ini kita jalan-jalan ke kantor yaa,aku kangen suasana di kantor."
Mendengar ucapan sang kakak membuat Tania membulat bola matanya" Mita," gumam nya sembari menatap ke arah sang kakak.