
Setelah menyadari kesalahan nya Tania tak dapat berbuat apa-apa,selain istighfar berulang kali kepada Tuhan nya sambil memikirkan keberadaan Tari.
Namun Tania memilih untuk berdiam diri di kamar lalu memikirkan kembali,mengapa ia memperlakukan Tari seperti itu? tanpa harus menerima penjelasan dari nya terlebih dahulu.
Keesokan harinya.
Di kamar sang ibu Tari terus melamun,hati nya benar-benar kosong dia merindukan sosok sang ibu yang telah menjadi almarhumah 10 tahun yang lalu.
Karena ucapan Tania membuat gadis kecil itu berpikir keras,ke mana ia harus berpulang sedangkan dirinya ia tak punya siapa-siapa lagi selain sang ayah.
Sosok Ayah adalah satu-satu nya orang yang masih ia miliki di dunia ini,namun gadis kecil itu malah membenci nya karena perbuatan nya yang kejam.
Memikirkan semua itu membuat gadis kecil itu sungguh membenci ayah nya,bahkan ia tak ingin menganggap nya sebagai ayah.
Menit terus berputar gadis kecil itu masih saja memikirkan kejahatan sang ayah,hingga tetesan airmata nya tak terasa jatuh dari pipinya,sungguh malang nasib gadis itu.
Setelah puas menangis gadis kecil itu segera beranjak keluar dari kamar lalu berjalan menuju ke dapur untuk menemui sang ibu.
Sedangkan di tempat lain Tania bolak balik gigit jari di kamar sembari memikirkan,apa yang harus ia lakukan agar Tari bisa memaafkan nya.
Selang beberapa saat bunyi ketukan pintu terdengar nyaring dari luar,hingga membuat Tania tiba-tiba menghentikan langkahnya sembari berpikir" Itu pasti Tari."
Tanpa pikir panjang Tania buru-buru melangkah menuju ke pintu lalu bergegas membuka nya" T-tari ! sapa Tania gugup.
"Ibu sedang Menunggu Kakak di dapur," ujar Tari sambil berlalu.
"Tari! panggil Tania.
Sikap dingin yang di miliki oleh Tari kepada Tania,hingga mampu membuat Tania cemas" Bagaimana jika ibu tahu masalah ini? oh tidak,..aku harus melakukan sesuatu," gumam nya sambil berjalan menuju ke dapur.
Setiba nya di dapur tanpa merasa bersalah tania segera menarik sebuah kursi,lalu bergegas duduk di samping Tari" Pagi adeku sayang,pagi ibu," sapa nya ramah.
Mendengar ucapan Tania membuat Tari harus pura-pura ramah,agar terlihat baik-baik saja di hadapan sang ibu.
__ADS_1
Karena bangaimana pun juga kedua gadis cantik itu harus menjaga sikap di hadapan sang ibu,karena mereka tak ingin membuat wanita paruh baya itu cemas,apalagi sampai kepikiran soal perkara yang terjadi semalam.
Selang beberapa saat tiba-tiba saja gadis kecil itu membuat suasana menjadi hening,seketika Tari memutuskan untuk segera mencari pekerjaan.
Hal itu membuat Tania semakin merasa bersalah,karena ia berpikir jika Tari membuat keputusan seperti itu.karena ia tersinggung dengan ucapan nya semalam.
Sedangkan sang ibu,ia tak ingin melepaskan Tari begitu saja.karena ia tak ingin jika sampai Tari kembali ke dunia gelap nya.
"Apa yang engkau pikirkan Nak? sehingga kamu tiba-tiba saja mengambil keputusan seperti itu?".
Mendengar pertanyaan sang ibu membuat Tania tak berdaya,bola mata nya sudah mulai berkaca-kaca.dan sebentar lagi tetesan airmata nya akan segera terjatuh.
Namun demi menjaga hati sang ibu,Tania pura-pura menjatuhkan sebuah sendok ke lantai,lalu bergegas membungkuk agar luka hatinya tetap terjaga dari sang ibu.
"Ya Allah,apa yang harus aku lakukan?agar aku bisa menebus kesalahanku kepada Tari," gumam nya sambil buru-buru menepis airmata nya.
"Tari cuman ingin mandiri saja Bu,menabung sedikit demi sedikit demi masa depan Tari esok hari,"sahut Tari sambil menundukkan kepalanya.
Suasana kembali menjadi hening,dan mereka tak lagi melanjutkan sarapan pagi nya.
Sang ibu yang tak bisa berbuat apa-apa,hingga ia memilih untuk meninggalkan mereka begitu saja.tanpa meninggal kan kata sepatah pun untuk nya.
Hal itu membuat gadis kecil itu merasa bersalah,namun ia juga tak bisa merubah keputusan nya.walau ia jika sang ibu telah mencemaskan dirinya.
Tari dan Tania masih mematung dam membisu di meja makan,dan sementara sang ibu sudah berada di kamar milik nya.bolak balik sambil memikirkan nasib gadis itu.
Selang beberapa saat Tania yang sedari tadi merasa bersalah kepada Tari,hingga akhirnya ia telah berani membuka suara.
"Tari maafkan aku,aku tahu ini semua adalah kesalahan ku,sehingga kamu nekat mengambil keputusan itu," ujar Tania lalu menundukkan kepalanya.
"Lupakan kak!" potong Tari masih dalam posisi yang sama.
"Apa yang harus aku lakukan Tari?agar kamu bisa memaafkan kesalahan ku," tanya Tania.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Tania membuat gadis kecil itu beranjak dari kursi,lalu menatap tajam ke hadapan Tania " Cukup kak! jangan menyalahkan diri kakak sendiri.Karena aku membuat keputusan itu muthlak karena aku tak ingin merepotkan orang lain,termasuk ibu," jelas Tari dengan intonasi suara tinggi.
"Tapi Tar..!" protes Tania.
"Sekali lagi kakak berbicara maka aku akan keluar dari rumah ini,puas kamu," ancam Tari sambil berlalu.
Mendengar ancaman Tari membuat Tania bergegas bangkit dari kursi,lalu buru-buru berjalan dan menghalangi langkah Tari.
"Minggir kak!" Teriak Tari lalu menatap tajam ke hadapan Tania.
Mendengar teriakan Tari membuat jantung sang ibu berdetak kencang,lalu buru-buru keluar dari kamar untuk memastikan jika ke dua putrinya baik-baik saja.
Ke dua gadis itu saling menatap tajam satu sama lain,sehingga mereka sudah kehilangan akal sehat nya.
Baru saja beberapa menit yang lalu mereka bersikap baik di hadapan sang ibu,agar semua nya terlihat baik-baik saja.
Namun kini mereka telah di kuasai oleh nafsu syetan,sehingga mereka tak peduli lagi dengan hati sang ibu.
"Tari aku tahu jika aku salah,tapi boleh ka aku meminta agar kamu bisa menjaga sikap?".
Lagi-lagi Tania menguji kesabaran gadis kecil itu,hingga mampu membuat bola matanya berkaca-kaca,lalu mengepalkan tangannya.
Namun dengan kehadiran sang ibu di tengah-tengah mereka,membuat ke dua nya berdiam diri dan mematung.
"Ada apa Nak?" tanya sang ibu bingung sambil menatap Putri nya secara bergantian.
Ke dua Putri nya masih saja mematung dan membisu,lalu menundukkan kepalanya untuk menutupi luka nya.
Melihat sikap putri nya seperti itu,sehingga sang ibu memutuskan untuk memanggil ke dua putri nya.ke ruang keluarga untuk menyelesaikan masalah nya.
"Kalian ikut ibu," titah sang ibu sambil berlalu,Tari dan Tania segera menyusul nya.
Sepanjang langkah nya ke dua gadis itu mencari alasan yang tepat,agar masalah yang mereka hadapi tetap terjaga dari wanita paruh baya itu.
__ADS_1