Istri Ke 2 Yang Terlupakan.

Istri Ke 2 Yang Terlupakan.
121.5 M.


__ADS_3

Setelah berhasil meninggalkan perusahaan,demi menjaga otak agar tetap waras,Rani lebih memilih menenangkan diri di sebuah pantai.


Relaksasi suara ombak bisa di percaya untuk menenangkan otak,otak yang tak waras akibat ujian yang datang silih berganti.


Gadis ini terduduk di atas butiran-butiran pasir,memeluk ke dua kakinya sambil menundukkan kepalanya.


Hatinya benar-benar hancur,sahabat yang ia anggap baik selama ini malah justru menorehkan luka yang cukup dalam.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang ya Allah?apa salah ku sehingga engkau tak henti-hentinya memberikan ujian kepadaku?,"batin nya menjerit lalu menelan ludahnya kasar.


Satu jam sudah berlalu,gadis ini masih saja betah menikmati suasana pantai.tempat ini adalah tempat ternyaman baginya.


Pemandangan yang indah cukup baik untuk memanjakan mata,dan angin sepoi-sepoi mampu mengademkan tubuh,tubuh yang lelah akibat banyak nya ujian yang datang tanpa jeda.


Rasa-rasanya ingin menghabiskan waktu di tempat ini,tak ingin kembali ke perusahaan bahkan tak ingin kembali ke istana megah itu.


Gadis ini kembali menghela napas panjang,menghembuskan nya secara kasar,otak dan hatinya terhubung begitu cepat"Aku ingin hidup di tempat sepi seperti ini."


Setelah memikirkan secara matang.gadis ini segera bangkit dari hamparan pasir,gamis nya di penuhi dengan pasir hingga penampilannya seperti gembel.


Berjalan menundukkan kepalanya,menendang apa saja yang ia temui di jalan,layak nya seperti bocah ingusan yang sedang patah hati.


Gadis ini kembali ke hotel,kembali dengan hati masih berdarah-darah, menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur,menatap langit-langit kamar sembari berpikir.


Oh Tuhan..gadis ini menepuk jidat berkali-kali,ia baru menyadari jika Tania tak lagi bersama nya.


Bangkit dari kasur lalu buru-buru berjalan keluar dari hotel,pakaian nya belum juga tergantikan.hingga menjadi tontonan sesaat penghuni hotel.


Namun gadis ini tak juga menghiraukan apa saja yang orang lain pikirkan,yang terpenting saat ini adalah sang adik tercinta.


Setiba nya di kantor,laporan keuangan menusuk kembali jantung nya.napas nya saling berburu hingga membuat gadis ini kembali kesurupan.


"Kak," panggil Tania.


Rani hanya bisa menatap nya nanar,gadis ini benar-benar murka luar biasa,mata memerah dan seluruh tubuhnya gemetaran.


"5 M" lirih nya setelah mendapatkan berita buruk dari bu Dewi.


Bugh!

__ADS_1


Gadis ini kembali lagi memukul meja begitu keras"Bu dewi! urus gaji karyawan sekarang juga,setelah itu tutup kantor."


"Lo emang nya kenapa kak?" tanya Tania bingung sambil berjalan mendekati sang kakak.


"Kita jual perusahaan ini,"jelas nya sembari duduk di kursi lalu mengusap dadanya berulangkali.


"Apa? Tania dan Bu Dewi sontak kaget"Tidak kak!tarik kembali ucapan kakak."


"Tak ada yang perlu di pikirkan lagi, keputusan ku sudah bulat.dan kamu kenapa masih berdiri di situ?".


Bu Dewi segera meninggalkan ruangan ini,berjalan tanpa berani menoleh ke arah si bos,wanita ini benar-benar ketakutan luar biasa.


"Kak,coba kakak pikirkan ulang keputusan ini.apa kakak gak akan menyesal suatu hari nanti?".


Nasihat dari sang adik membuat Rani menelan ludahnya kasar,kalau boleh jujur wanita ini berat untuk menjual perusahaan ini.


Namun ia lebih memilih untuk hidup lebih tenang,jauh dari dunia bisnis dan mengurung diri sebagai seorang wanita yang beriman.


Mendekatkan diri kepada sang semesta alam,fokus ibadah dan menghabiskan waktu bersama orang-orang tercinta.


"Tan,keputusan aku sudah bulat.aku ingin hidup tenang,fokus ibadah dan jauh dari keramaian."


"Keramaian?".


Tania hanya bisa geleng-geleng kepala,menatap wajah sang kakak begitu dalam"Apalagi yang dia rencanakan?,"gumam nya lalu menelan ludah berkali-kali.


"Ayo kita pulang,"titah nya sambil berlalu.


"Kak," panggil Tania,gadis ini masih saja ingin berlama-lama di kantor,jujur saja Tania tak rela jika perusahaan ini harus di jual.


Namun apalah daya nya,dia tak bisa berkata apa-apa lagi selain mengikuti kemauan sang kakak.


"Ayo masuk," titah sang kakak sambil memperhatikan wajah sang adik.


"Kak aku masih ingin di kantor,apa sebaiknya kakak pulang aja."


"Enggak Tan,kita harus pulang sekarang.banyak hal yang harus kita lakukan sekarang."


Tania hanya menelan ludahnya kasar,airmata yang tak bisa tertahankan lagi,kini sudah menetes dari pipinya.

__ADS_1


Gadis ini benar-benar tak rela jika perusahaan ini harus di jual,hatinya benar-benar hancur namun ia hanya bisa pasrah,pasrah dengan keputusan sang kakak.


"Tan,maafkan aku.aku tau perasaan kamu,tapi kakak lakukan ini semua juga demi kebaikan kita bersama."


Tania hanya bisa mengangguk pasrah,berharap semoga keputusan ini adalah keputusan yang terbaik bagi sang kakak.


Mereka segera meninggalkan halaman kantor menuju ke hotel,entah sampai kapan mereka bertahan di tempat ini?


"Apa rencana kakak sekarang?lalu bagaimana dengan Mita?".


"Tak masalah Tan,biarkan dia hidup menikmati harta itu.cepat atau lambat Allah pasti akan menghukum nya.tugas kita sekarang tinggal mendo'akan Mita,agar dia kembali ke jalan yang benar."


"Tapi kak...!"


Ucapan Tania terputus begitu saja.gadis ini lebih memilih berdiam diri,mengunci bibir lebih baik baginya daripada harus berbicara.


"Udah lah Tan,besok kita pulang ke rumah dan kamu harus ingat satu hal,masalah kantor jangan sampai ibu tau."


"Baiklah,lalu bagaimana dengan Tari kak?".


Lagi-lagi nama gadis kecil itu membuat Rani pusing tujuh keliling,memijat kepalanya sembari berpikir.Bagaimana mereka bisa kembali dengan tangan kosong?


Gadis ini kembali lagi menelan ludahnya kasar,pikiran nya kembali lagi tak menentu.pososi nya benar-benar serba salah.


"Kita tak Boleh pulang tanpa Tari Tan,apa pun caranya kita harus segera menemukan Tari,"jelas nya sembari bangkit dari tempat tidur lalu berjalan menuju ke kamar mandi.


Tania hanya menatap sang kakak penuh iba.melihat keadaan sang kakak seperti itu,hingga rasa bersalah kembali lagi bersarang dalam tubuhnya.


Rasa-rasanya Tania ingin berteriak sekencang-kencangnya,berteriak agar beban kehidupan nya sedikit berkurang.


"Oh Tuhan..sampai kapan semua ini akan berakhir?" lirih nya sambil menelan ludahnya susah payah.


_______


Sebagai manusia biasa,manusia yang terlahir tanpa kesempurnaan.setinggi apapun keimanan yang mereka miliki,ada masa nya mereka akan mengeluh.


Mengeluh bukan berarti tak ikhlas menerima segala ujian dari-Nya.namun mengeluh di saat sendiri itu lebih baik,mengeluarkan segala uneg-uneg kehidupan tanpa harus membeberkan kepada orang lain.


Mengapa harus seperti itu?karena mereka juga adalah insan yang lemah,insan yang tak pernah terlepas dari masalah.

__ADS_1


Boleh jadi mereka terlihat happy saja di luar sana,padahal ujian nya lebih besar daripada diri sendiri.


Keren bukan?Semoga salah satunya adalah kita.


__ADS_2