
"Masa depan tidak bisa kita skenario kan,dan masa lalu tidak bisa kita rubah.
Lantas mengapa harus menyiksa diri dengan setumpuk penyesalan?atas sesuatu yang tidak bisa untuk di rubah kembali.
Serius lah dan konsentrasi,untuk berbuat yang terbaik pada apa yang sedang kalian jalani saat ini.
Jangan menjadikan masa lalu yang salah selalu menghantui,dan jangan terlalu mengkhawatirkan masa depan yang belum pasti.
Berusaha lah sebaik mungkin saat ini,Tawakal dan serahkan hasil nya kepada Allah".
Setelah mengingat kembali kata-kata bijak,yang pernah ia baca di salah satu buku Mo***si Ke**n Is***mi.
Setiap kalimat-kalimat yang tertera di dalam nya seakan-akan membangun kan dirinya,dari keterpurukan nya selama ini.
Tanpa aba-aba Tania segera bangkit dari sofa,lalu berjalan menuju ke kamar Bela dan meninggalkan Tari begitu saja.
Hal itu membuat Tari membulat bola matanya"Kenapa dia?" gumam nya lalu bangkit dari sofa.
Tak selang berapa lama,gadis kecil itu merasa ter'abaikan di rumah itu,Tari pun segera melangkah menuju ke kamar sang ibu.
Langkah demi langkah telah ia habiskan,namun tiba-tiba saja langkah nya berhenti seketika ia melihat sosok seorang wanita yang begitu asing baginya.
"Siapa dia?" gumam nya sambil memutar balikkan tubuhnya,lalu berjalan menghampiri wanita itu.
"Assalamu'alaikum ibu," sapa Tari dari arah belakang.
"W-walaikumussalam,Non," sahut wanita itu gugup,karena ia terkejut dengan kedatangan Tari begitu saja.
"Mohon maaf ibu,ibu siapa yaa?"tanya Tari bingung karena wanita itu masih saja membelakangi Tari.
Mendengar ucapan Tari membuat wanita itu tiba-tiba saja membalikkan tubuhnya"I-ibu asisten baru di sini,Non," sahut wanita itu gugup sambil menundukkan kepalanya.
Gadis kecil itu menghela nafas panjang karena ia merasa lega,lega karena kehadiran wanita itu atas ijin sang ibu.
Namun seketika Tari melihat sikap wanita itu menundukkan kepalanya di hadapan nya,gadis kecil itu merasa iba.karena menurut nya posisinya sama saja seperti wanita itu.
"Bu,boleh kah aku meminta agar ibu tidak menundukkan kepala untuk ku?".
Mendengar ucapan Tari membuat bola mata wanita itu berkaca-kaca,karena menurut nya itu aneh saja.
__ADS_1
Maksudnya nya semenjak wanita itu bekerja sebagai asisten rumah tangga,baru kali ini ia menemukan anak majikan nya begitu baik dan sopan.
Melihat kondisi wanita itu sedang tak baik-baik saja,hingga membuat Tari serba salah.lalu gadis kecil itu bergegas untuk mendekati nya
"Ibu kenapa?" tanya Tari bingung sambil memegang tangan wanita itu.
"E-enggak papa kok,Non," sahut wanita itu gugup.
"Ibu tidak usah sungkan sama aku yaa,kita ini sama saja posisinya di rumah ini,Nama aku Tari Bu."
Mendengar ucapan Tari membuat wanita itu bergegas mengangkat kepalanya"Maksud nya apa,Non?"tanya wanita itu bingung sambil menatap wajah Tari begitu dalam.
Tari hanya bisa tersenyum"Lupakan saja Bu," ujar Tari karena ia tak ingin membuka identitas nya di hadapan orang yang masih asing baginya.
"Iya,Non,kalau begitu ibu kembali bekerja yaa."
"Silahkan ibu," sahut Tari lalu bergegas menuju ke kamar sang ibu.
Setibanya di kamar sang ibu,gadis kecil itu tak menemukan wanita paruh baya itu"Ibu ke mana si?,"gumam nya lalu menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur.
Sedangkan di tempat lain,Tania dan Bela saling bertukar pikiran demi memikirkan usaha apa yang bisa mereka kembangkan,agar mereka bisa membuat wanita paruh baya itu bangga kepada nya.
Begitupun dengan Bela,wanita cantik tersebut guling-guling di tempat tidur sambil memeluk bantal dan berpikir.
Ceklek!
Pintu terbuka,di sana telah berdiri Tari sambil tersenyum manis kehadapan mereka.
"Kakak," sapa Tari lalu berjalan menuju ke tempat tidur.
"Tari! kunci pintunya," titah Tania.
"Ah kakak," rengek Tari sambil menggaruk-garuk kepala nya yang tidak gatal.
"Kenapa?mau protes lagi," tanya Tania lalu menatap gadis kecil itu.
"Iya de,galak amat si," gerutu Tari lalu berjalan.
Tania dan Bela saling menatap sejenak"Kamu kenapa si Tan? tak baik ibu hamil sering marah-marah Lo,"Bela mengingat kan.
__ADS_1
Tania hanya tersenyum kepada Bela, lalu menatap ke arah Tari yang berwajah malas" Kenapa tu muka?"ejek Tania.
Tari tak merespon sama sekali,malah ia lebih memilih untuk naik ke tempat tidur lalu berbaring di samping Bela.
Tak selang berapa lama,Tari pun memejamkan matanya,dan hal itu membuat Tania begitu cemas.
"Tari kenapa?" gumam nya lalu berjalan menghampiri gadis kecil itu.
"Tari kamu baik-baik saja kan?" tanya Tania bingung sambil memeriksa tubuh gadis kecil itu.
"Kakak apa-apa an si?".
"Ih..!bukan Terimakasih malah protes kayak gitu,dasar bocil,"seru Tania.
"Sudah lah Tan,biarkan Tari istirahat sejenak,dan lebih baik kita pikirkan apa rencana kamu saat ini."
"He-he iya Bel, Tapi sepertinya kita butuh pendapat dari Tari juga,Dia kan paling hebat dalam menyelesaikan suatu masalah,benar kan Tari?".
"Tau ah! malas mikir dan mau nya bobo saja," seru Tari.
"Kamu kenapa si? kok tumben banget jadi cewek pemalas,kata ibu cewek pemalas itu teman nya syetan,dan mereka termasuk adalah orang-orang yang merugi," ceramah Tania.
Mendengar ucapan Tania membuat gadis kecil itu memutar balikkan bola matanya"Bodoh amat,bilang aja kalau kakak mau ngerjain aku."
Tania tak ingin merespon karena kali ini pikiran nya waras,tak ingin berdebat apalagi di hadapan Bela.
Tania segera bergegas berpindah tempat,berjalan melewati ujung tempat tidur dan segera duduk di samping Bela.
"Bagaimana Bel, apa kamu sudah menemukan Jawaban yang pas?.
Bela menggeleng-gelengkan kepalanya" Belum Tan,tapi aku punya sedikit usul.bagaimana jika kita usaha pakaian saja?karena menurut ku itu usaha yang pas untuk ibu hamil seperti mu," jelas Bela meyakinkan.
Tania langsung menyetujui hal itu"Ide bagus,dan bagaimana jika kita menjual pakaian perlengkapan muslimah saja?".
" Setuju kak,hitung-hitung kan aku bisa gratisan setiap hari," seru Tari kegirangan.
"Ha-ha," Tania dan Bela tertawa lepas, mereka tak bisa mengontrol diri hingga lupa jika mereka berada dalam genggaman sang ibu.
Tak selang berapa lama"Tari,Tania!" teriak sang ibu.
__ADS_1
Tari dan Tania bergegas keluar dari kamar Bela,sementara Bela,wanita cantik itu masih menenangkan jantung yang hampir saja copot.