
"Alhamdulillah kalian sudah pulang,Nak,"ujar sang ibu sambil memeluk Rani,sementara gadis ini tak merespon nya sama sekali.
"Kak..!" tegur Tania agar Rani bisa mengontrol diri begitu pun dengan yang lain.
"Kalian istirahat ya,Nak.manjakan tubuh mu karena pernikahan kamu hanya tinggal 2 hari lagi,benar begitu kan Nak,Dion?."
Pak Dion hanya bisa berdiam diri,tak mampu mengucapkan kata sepatah pun.bahkan ia tak berani menoleh ke arah ibu Tuti,sementara Rani gadis ini hanya bisa menelan ludah nya kasar sembari memijat kepalanya yang tiba-tiba saja pusing.
Rasa-rasanya Rani ingin berteriak sekencang-kencangnya,agar ia bisa meluapkan segala emosinya,emosi yang sedari tadi meluap-luap.
"Kenapa kalian diam saja,apa sebenarnya yang kalian pikirkan?,"tanya wanita paruh baya ini sambil menatap satu-satu ke arah mereka.
Lagi-lagi pertanyaan dari wanita ini tak ada satupun yang berani menjawab"Tari,tolong jelaskan apa sebenarnya yang terjadi."
Gadis ingusan ini segera mengangkat kepalanya,bibir nya gemetaran dan tubuh nya keringat dingin lalu menatap ke arah sang ibu begitu ketakutan"A-a-a-anu Bu," sahut nya gugup lalu beranjak dari sofa.
"Anu apa?tolong jelaskan secara detail,"pinta sang ibu sambil memegang ke dua pundak gadis kecil ini.
Rani yang tak bisa lagi mengontrol diri tiba-tiba saja ia bangkit lalu menatap tajam ke arah sang ibu,mata memerah dan seluruh tubuhnya gemetaran.sementara Tania gadis ini segera beranjak dari sofa lalu menggenggam tangan sang kakak begitu erat.
"Jaga emosi kamu kak."
"Tidak Tan,sudah saat nya ibu tau semua ini,"ujar nya sembari mengepalkan tangan"Bu,pernikahan ini akan kami tunda untuk sementara waktu,jadi ibu Tuti tak perlu lagi repot-repot mengurus pernikahan ini."
__ADS_1
Mendengar ucapan Rani membuat wanita paruh baya ini langsung mengepalkan tangan,merasa tak di hargai karena Rani telah berani menyebut nama nya secara langsung.
Sang ibu segera melangkah lalu menatap wajah putrinya begitu tajam"Siapa yang ajarin kamu jadi anak kurang ajar seperti ini?,hah,"tanya sang ibu lalu menuding ke arah putrinya.
"Anak?" tanya Rani balik lalu menelan ludahnya pahit"Aku bukan lah anak ibu! dan darah yang mengalir di tubuh ku ini adalah darah dari seorang ibu yang miskin,sehingga ayahku pergi meninggalkan nya begitu saja.benar begitu kan ibu Tuti yang terhormat?."
Plak!
Tamparan keras telah mendarat cantik di wajah putrinya,tamparan dari seorang ibu yang tega memisahkan anak dan ibu selama puluhan tahun,dan tamparan dari seorang ibu yang membesarkan Rani selama puluhan tahun.
Lantas apakah hubungan di antara mereka masih bisa seperti dulu lagi? sementara mereka tak bisa mengontrol diri masing masing bahkan Rani telah berjanji untuk tinggal selama nya bersama ibu kandungnya.
"Ya itu benar! dan kamu memang bukan lah anak yang terlahir dari rahim ku,tapi aku menyayangimu seperti anak kandung ku sendiri,"jelas sang ibu lalu menelan ludah nya berkali-kali.
Sang ibu benar-benar tak bisa lagi mengontrol diri,dan sudah saat nya kebenaran itu akan terungkap.walau kenyataan nya bibir nya sungguh sulit untuk mengungkap kebenaran,namun baginya sudah saat nya Rani tau semua ini.
"Kakak..!".panggil Tania dan Tari lalu mereka bergegas berlari menyusul Rani dari arah belakang, sementara Rani gadis ini tak menghiraukan mereka yang sedang kejar-kejaran.
"Jangan pergi kak,"teriak Tari begitu nyaring hingga membuat Rani tiba-tiba saja menghemat langkah nya.
"Kakak...!"gadis kecil ini langsung memeluk tubuh sang kakak,memeluk nya begitu erat dan tak ingin membiarkan Rani pergi begitu saja"Kakak jangan tinggalkan Tari ya kak,"pinta nya sembari meneteskan air mata.
Keduanya saling berpelukan sembari meneteskan air mata,Tak ingin berpisah satu sama lain namun Rani tak punya pilihan lain,selain meninggalkan istana ini dengan luka yang cukup dalam.
__ADS_1
"Kak..!," panggil Tania sambil bercucuran air mata"Jangan pergi kak,"pinta nya lalu bergegas memeluk sang kakak dari arah belakang.
Ke tiga gadis malang ini berpelukan,menangis terisak-isak karena tak ingin berpisah satu sama lain,tangisan mereka di saksikan oleh pak Dion,hingga tetesan air mata nya tak terasa jatuh dari pelupuk mata nya.
Hatinya benar-benar teriris,menatap ke tiga wanita malang itu penuh iba,dan tiba-tiba saja ingatan nya terlempar di masa lalu.namun sebagai seorang laki-laki,laki-laki di tuntut untuk tidak mengeluh, bukan?atau bahkan sampai meneteskan air mata karena masa lalu nya begitu pahit.
Walau nasib pak Dion sama saja seperti mereka,namun laki-laki ini tak ingin lemah seperti mereka"Kamu tak boleh lemah Dion,ayo tunjukkan siapa dirimu, yang sebenarnya," lirih nya menguatkan diri sendiri.
Pria ini perlahan-lahan melangkahkan kakinya,berjalan menuju ke hadapan mereka sambil menyeka air mata yang masih tersisa.
"Ran bangkit lah," pinta nya sembari mengulurkan tangan"Kamu tak boleh lemah seperti ini,berikan contoh yang baik pada adik-adik mu ini,agar mereka kuat menghadapi dunia ini,"sambungnya kembali masih dalam posisi yang sama.
Ke tiga wanita malang ini bukan nya bangkit lalu menata hati masing-masing,justru malah membuat tangisan mereka semakin meledak.
Ingatan nya kembali lagi terlempar di masa lalu.di mana mereka telah di pertemukan dengan tangisan dan ribuan ujian yang menerpanya,dan kini mereka kembali lagi terurai air mata karena perpisahan.
Allah begitu baik sehingga gadis-gadis yang malang ini bisa di kumpulkan dalam satu keluarga.walau tak ada hubungan darah atau apa pun di antara mereka,namun mereka di titipkan kasih sayang satu sama lain sehingga ikatan mereka terjalin begitu kuat.
________
Sayangi dan hargailah orang-orang yang berada di sekeliling kita,tak perlu memandang seperti apa masa lalunya dan tak perlu memandang apa pun dari mereka.Karena kita tak pernah tau siapa yang berada di samping kita ketika kita terpuruk,dan siapa yang rela meneteskan air mata nya demi melihat kita untuk bangkit.
Kalian yang masih setia bersama author pemula di sini,kalian adalah orang-orang hebat.
__ADS_1
Author doakan yaa,semoga kalian sehat selalu,di limpahkan rezekinya,dan di pertemukan dengan orang-orang yang baik di muka bumi ini.
Salam cinta dariku anak pedalaman Sulawesi Selatan.