
Dea sedang menyendiri di kamar, selepas Dio mengantarnya pulang entah mengapa kata-katanya masih saja terngiang-ngiang di benaknya.
"Aku sudah melupakannya,"
Dea menghela nafas, apakah benar ungkapan Dio benar? Tapi memang tidak salah kan jika Dio melupakan sesuatu yang menyakiti hatinya?.
"Jadi di masa mendatang, kita bisa menjadi teman seperti sebelumnya."
"Tidak ada perasaan yang mengikat satu sama lain."
Kata-kata itu selalu melekat di benaknya, Dea menatap kosong ke lantai, dengan matanya yang tampak redup dan kosong.
Dio tidak salah, mengetahui tidak ada masa depan dengannya, ungkapannya adalah naluri seorang manusia untuk melindungi diri. agar seseorang tidak menyakitinya dan ia tidak terjebak lagi ke lubang yang sama.
Di sisi lain...
Dio tidak pulang hari ini, tetapi dia tidur di kamar Bimo. setelah mengantarkan Dea, ia memilih untuk menginap di tempat sahabatnya itu.
Pada jam dua pagi, ia masih menyibukkan diri dengan membaca dokumen kerja yang disajikan kepadanya.
Sambil membaca, perhatiannya tidak fokus. Dia telah meminta bantuan Bimo untuk mengecek sebagian pada siang hari tadi. namun ia rasa ada sesuatu yang menggangu pikirannya hingga membuatnya bekerja sangat lamban.
Sekilas ia mengingat saat Dea menghabiskan malamnya kala itu di hotel bersama Rico.
"Apakah mereka menghabiskan malam itu mereka benar-benar menghabiskan malam panjang bersama? Apakah mereka melakukannya?"
Bersandar pada suasana hati yang gelisah, Dio mematikan lampu. Menaruh dokumen -dokumen di meja dan beranjak menuju jendela dengan cemas, ia menyalakan sebatang rokok dan menyesapnya dua kali, meskipun ia telah berusaha untuk tidak peduli, tetapi kesuraman di pikirannya masih melekat.
🌹🌹🌹🌹🌹
Sedangkan Arini, setelah pergulatan panasnya tadi, kini ia terbangun lagi, Arini mematikan lampu di atas nakas dengan hati-hati. Takut itu akan mengganggu tidurnya, mematikan AC dan membuka tirai.
Arini menatap ketampanan Seto sejenak, lalu bergegas untuk turun ke lantai bawah menyiapkan sarapan.
__ADS_1
Setelah selesai memasak, Arini meninggalkan dapur dan sisanya di serahkan kepada pelayanan untuk menghidangkannya di meja makan, lalu tiba-tiba suara ketukan pintu dari luar rumah membuatnya harus memutar arah dari tujuannya kembali ke kamar mengalihkannya menuju ke pintu.
Setelah pintu berhasil di buka, rupanya Bimo yang berada di baliknya dengan setelan jas yang sudah lengkap.
" Selamat pagi Bu Arini?" Bimo menyapanya, dengan senyuman yang tak lupa ia tampilkan.
"Pagi Bim, silahkan masuk." balas Arini.
Setelah mempersilahkan Bimo masuk dan memintanya menunggu di ruang tamu, saat hendak melangkah Bimo kembali bertanya setelah beberapa saat ia melihat ke atas, tepatnya di kamar Seto. " Maaf Bu, apakah Bos Seto sudah bangun ya? saya tadi subuh menelfonnya, dan tidak ada jawaban, apakah Bos Seto, tidak bangun awal pagi ini?"
Arini masih berdiri, lalu sekilas ia mengingat rupanya pagi tadi saat selesai dirinya dan Seto berolahraga pagi, suara bising dari ponsel Seto adalah panggilan dari Bimo? Lalu Arini menjawab " pagi tadi mas Seto memang sudah bangun, tetapi aku pikir mas Seto sangat sibuk dan kelelahan akhir-akhir ini, jadi aku menyuruhnya untuk tidur kembali, apakah aku harus membangunkannya sekarang?".
Bimo menatap jam di pergelangan tangannya, " ada pertemuan dengan klien penting sekitar satu jam lagi,"
Arini langsung memahami apa yang di katakan Bimo " baiklah, aku akan membangunkannya."
Bimo mengangguk, " Terimakasih Bu Arini."
Arini membalasnya dengan mengangguk juga, lalu dia naik ke atas, Ketika Arini membuka pintu dan masuk, Seto masih terlelap nyaman dengan bertelanjang dada. Arini merasa kasian membangunkan Seto, tetapi tidak mungkin juga ia tidak membangunkannya.
Seto mendongak, dengan masih mengantuk tetapi saat melihat itu adalah Arini hatinya menjadi damai, Seto kemudian berbaring malas kemudian meletakkan satu tangan di belakang kepalanya. "Jam berapa sekarang mah?"
"08: 01 mas," Arini mengambil remote control dan bertanya, " haruskah aku tutup tirainya lagi? mas Seto terlihat masih mengantuk sekali."
Seto menjawab " Tidak, aku sudah bangun." Seto berusaha duduk lagi, walaupun sebenarnya ia masih sangat mengantuk tetapi ia harus melawannya, apalagi sinar matahari yang masuk lewat jendela menyilaukan mata dan memaksa untuk membuka matanya dan kemudian ia berhasil membuka matanya dengan malas.
"Alana sudah bangun?" tanya Seto tanpa menatap Arini, ia sibuk mengusap matanya agar lebih terang saat melihat.
"Belum mas," lalu Arini berkata lagi " di bawah ada Bimo yang sudah menunggumu, dia meminta tolong padaku untuk membangunkanmu, katanya hari ini ada pertemuan penting dengan klien sekitar satu jam lagi dan itu tidak dapat di tunda."
Seto bersandar, sambil memejamkan matanya, dia masih saja mengantuk.
"Mas Seto..?" panggil Arini dengan lembut dan sedikit mengguncangkan tubuh suaminya itu, masa ia Seto tidur lagi, Arini harus membangunkannya karena suaminya sudah ditunggu. Ia pun mencium pipi Seto.
__ADS_1
Seto langsung membuka matanya, membuka selimut dan beranjak dari tempat tidur, ia lebih bersemangat saat Arini mencium pipinya barusan.
"A-aku akan menunggumu di bawah untuk sarapan, hehe." Arini merasa malu, segera ia keluar dari kamar. Atau lebih tepatnya ia sedang menyelamatkan diri dari Seto.
Namun saat Seto selesai dan hendak turun ke lantai bawah ia mendengar keributan di sana, bahkan suara Arini yang melengking membuat Seto segera mempercepat langkahnya menuju suara keributan itu.
"Kau pikir, setelah kau berhasil kawin dengan b*j*ngan itu, dan memilikinya untuk mendukungmu lantas aku tidak berani untuk kekeh meminta hak untuk membawa putriku? Sebelumnya kau telah tidur denganku yang kau anggap aku ini adalah seorang b*j*ngan, kau bahkan merayu seorang pria dan membawanya ke rumah saat masih menjadi istriku bukankah kau sama bejadnya denganku?"
"A*j*ng, siapa yang berani menggonggong di tempatku?"
Suara dingin Tiba-tiba terdengar.
Mereka semua berbalik dan melihat Seto datang dengan di ikuti Bimo.
Seto berjalan di depan, dan wajahnya tampak buruk. Setelah melirik Arini, dia menatap Rico.
Matanya suram dan dingin, terlihat guratan kemarahan mendominasi wajahnya.
Rico berusaha terlihat santai dan acuh tak acuh, kemudian amarahnya mereda " Se.. Seto?"
Arini merasa lega, hatinya menjadi tenang saat melihat kemunculan Seto, kata-kata kasar yang keluar dari mulut Rico membuatnya marah, sehingga ingin sekali ia menampar wajah lelaki itu, namun saat melihat Seto datang ia mengurungkan niatnya.
"Bimo!!" Seto berteriak.
"Di sini!" Bimo maju selangkah.
Seto menarik tangan Arini, lalu meraih pinggangnya dan memeluknya erat, bertanya kepada Bimo. " Apakah kamu tahu selain mencabut gigi anjing agar tidak mengigit secara acak, cara apa yang dapat di lakukan untuk membuatnya diam?"
Bimo mengangguk dan menjawab " dengan cara membunuhnya, agar anjing itu tidak mengigit dan secara alami akan berhenti menggonggong."
Lalu..
Bersambung....
__ADS_1
seperti biasa cuma minta like komen rate dan vote 🥰