Istrimu Adalah Pilihanku

Istrimu Adalah Pilihanku
IAP. 126.


__ADS_3

Dio terkejut karena Dea belum juga pergi, namun ia mengabaikan wanita masalalunya itu dan mengajak Tiara untuk segera masuk ke dalam mobil.


Setelah mereka berdua berada di dalam mobil, Dea masih saja mengganggunya, ia mengetuk kaca mobil Dio karena mendapatkan gangguan dari luar, Dio pun menurunkan pelan kaca mobilnya.


" Ada apa Dea?" Tanya Dio.


"Aku yang harusnya nanya kayak gitu, kenapa kamu abaikan aku, aku udah nungguin kamu dari tadi Di, masih ada yang harus aku  bicarakan sama kamu Dio.." Dea melirik ke arah Tiara yang sedang memakai sabuk pengaman. Melihat Dea menatapnya Tiara pun mengembangkan senyuman.


" Lain kali ajalah, saat ini aku sedang sibuk." Dio pun kembali menaikkan kaca mobilnya dan menancap gas.


"Dio….!!" Dea meneriakkan namanya.


Di dalam mobil Tiara pun merasa bingung, lalu ia pun bertanya untuk menghilangkan rasa penasarannya, " kak, kenapa nggak di ajak saja mbaknya tadi, siapa tahu karena nungguin kakak dia juga lapar?" 


"Bodo amat," acuh Dio.


"Kok kakak ngomongnya gitu," 


" Kamu lupa Ra, dimana-mana kalau ada lelaki dan perempuan berduaan ketiganya adalah setan. Nah..kalau kamu nyuruh aku ngajak Dea, itu berarti kamu minta aku ngajak setan dong?"


Tiara tertawa terbahak-bahak setelah mendengar penjelasan Dio.


"Sadis ah..mantan sendiri di bilang setan," ucap Tiara.


Dio hanya tersenyum, lalu membelokkan mobilnya menuju kafe yang jaraknya sudah dekat.


"Kak Dio, apakah mantanmu tadi sudah  punya bayi?" tanya Tiara kepadanya, Dio menatap lurus ke depan " iya, kok kamu bisa tahu?" 


Dio terkejut dengan pertanyaan Tiara, kok gadis ini bisa tahu kalau Dea pernah punya bayi.


" Aku tidak sengaja memerhatikan bentuk tubuhnya tadi, di sekolah pernah di ajarkan perbedaan antara bentuk wanita yang masih virgin dan wanita yang sudah punya bayi." jelas Tiara.


Sepanjang perjalanan Tiara terus saja mengoceh, Dio hanya mengiyakan dan kadang menggeleng hingga akhirnya mobil yang mereka tumpangi telah sampai di parkiran kafe.


"Hey.. Ra, malah bengong apa kamu nggak mau masuk?" tanya Dio yang sudah keluar dari dalam mobil dan hendak menutup pintunya.


Tiara masih tercengang, sinar matahari yang menyorot wajah Dio serta hembusan angin yang menerpa rambutnya hingga membuatnya sedikit berantakan menambah kesan tampan pada lelaki pujaannya.


Jelas saja jantung Tiara berdetak kencang tak karuan, bahkan anggur merah yang selalu memabukkan di anggapnya belum seberapa dahsyatnya bila di bandingkan dengan penampilan Dio sekarang.

__ADS_1


Dan tanpa sadar, Tiara melukiskan senyuman yang manis di wajahnya yang membuat Dio mengkerutkan kening.


" Kesambet setan apa bocah ini? cengar-cengir begini sumpah rasanya ingin aku makan saja bocah satu ini gemesin banget anjir."  gumam Dio dalam hatinya, sambil terus memperhatikan Tiara.


"Ehem.." Dio berdehem, membuat Tiara tersadar akan lamunannya.


"Apa??" tanya Dio.


"Iya kakak ganteng." Tiara keceplosan.


"Nggak akan kenyang kalau cuma makan ganteng, ayo makan nggak kamu?" Dio pun berlalu masuk menuju dalam kafe, di ikuti Tiara yang berlari kecil mengejar langkah Duo yang jauh lebih panjang darinya.


malam harinya…


Tok..tok..tok..


Suara ketuk pintu yang ragu-ragu.


Tidak ada Jawaban dari dalam, Arini mengetuk kembali ruang kerja Seto.


Tok..tok..tok..


"Kenapa ruang kerja mas Seto sangat sepi, bukankah tadi dia mengatakan mau ke sini?" gumam Arini yang heran karena Seto tidak ada di dalamnya.


Kemudian Arini meraba-raba dinding mencari sakelar lampu. setelah menemukannya Arini menekannya dan ruangan seketika menjadi terang.


"Mas??" panggil Arini.


"Sepertinya mas Seto tidak ada di sini, apa dia ke kamar Alana?" gumam Arini ia mematikan lampu lagi dan berjalan keluar ruangan.


"Wah putri papa sangat hebat, harimau ini begitu takut padamu," 


"Papa..apa halimau ini yang mengigit papa?" 


"Iya." 


"Baiklah papa, aku akan memukulnya kalena halimau ini sudah nakal sama papa,"


Terdengar suara gelak tawa dari suami dan putrinya, rupanya dugaan Arini benar Seto berada di kamar putrinya, melihat Arini yang berdiri di ambang pintu, membuat Seto menoleh dan tersenyum saat melihat sosok wanita yang di cintainya berdiri di sana.

__ADS_1


"Mama??" suara cempreng Alana memanggilnya.


"Mama, halimau ini yang telah mengigit papa," Alana mengadu dengan menunjukkan boneka harimau yang di belikan Seto tempo hari.


"Kemari!" kata Seto, Arini menutup pintu kamar Alana kemudian ia melangkah masuk kedalam rasanya kegelisahannya tadi reda sudah setelah melihat Seto berada di kamar ini.


Seto mengulurkan tangan kanannya, " Ada apa? Mengapa raut wajahmu terlihat risau?" tanyanya, Arini menggeleng pelan, dia menyambut uluran tangan Seto lalu duduk di tepi ranjang di samping lelaki itu.


"Aku tadi mencari mas ke ruang kerja, ternyata tidak ada.. rupanya mas ada di sini,"  jelas Arini.


Seto mengkerutkan kening, " ada sesuatu yang ingin kau bicarakan sayang?" seolah tahu kegelisahan Arini Seto pun bertanya.


Tiba-tiba terdengar suara Galang menangis sangat keras, "ah..aku akan ke kamar, Galang sepertinya terbangun mungkin putra kita haus.." 


"Iya..aku akan segera menyusul." jawab Seto dan Arini mengecup pipi Alana sekilas sebelum meninggalkan kamar itu.


Untuk waktu yang lama, kini Seto tengah duduk di sofa setelah sekitar tiga puluh menit yang lalu keluar dari kamar Alana setelah gadis kecilnya itu tertidur, ia menyalakan sebatang rokoknya, tetapi tidak merokok hanya membiarkan rokoknya menyala.


Lalu Seto mengangkat tangannya, menghisap rokok lalu mengeluarkan asapnya. Seto memikirkan hal apa yang membuat Arini begitu cemas seperti tadi, apakah ini ada hubungannya dengan Rico? Mantan suami dari istrinya itu.


Seto terpikir kata-kata yang pernah di ucapkan almarhum ayahnya, pada waktu dulu "jangan terlalu menggenggam wanita, jika kamu sudah dewasa, jangan pernah kamu menyakiti wanita hanya karena kamu terlalu mencintainya dan membuatnya terkekang."


Ada benarnya kata yang di ucapkan mendiang ayahnya, Seto jadi kepikiran apakah dirinya selama ini tanpa sengaja mengekang Arini? dirinya juga tidak pernah bertanya apa kemauan istrinya. Yang ia tahu Arini akan bahagia dalam dekapannya.


Semakin lama, Seto malah terusik dengan pemikiran ini.


Ia beranjak dan berjalan menuju kamar, di bukanya pintu secara perlahan lalu menutupnya dengan sangat pelan ia tidak ingin membangunkan Galang yang sudah terlelap.


Sesampainya di tepi ranjang, ia mengajak Arini untuk duduk di sampingnya " jika ada sesuatu yang ingin kau katakan, jangan merasa tidak enak aku akan mendengarkanmu apapun itu. Jangan pernah menyembunyikan apapun di antara kita."


" Aku di telepon Dea, dia mengatakan mas Rico di rawat di rumah sakit dalam keadaan sekarat..em.. bolehkah aku mengajak Alana untuk menjenguk ayahnya? jika itu di perkenankan mas kalau tidak aku tidak akan melakukannya." akhirnya Arini pun mengatakan kegelisahannya.


Seto sangat tidak senang.


"Dan itu tidak ada hubungannya denganmu." suara Seto jauh lebih dalam. Dia sangat marah dan menunduk.


Lalu...


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2