
"Aku terjatuh, aku terjatuh lagi di pelukanmu" 🎶🎶🎶 Suara nada dering ponsel masuk ke mimpinya, karena ponselnya sangatlah dekat dengan telinga hingga suaranya begitu mengusik. Dea membuka matanya dan rasanya sangat menyakitkan. Ia menatap nama pemanggil untuk waktu yang agak lama, pikirannya masih melayang-layang antara Seto dan Arini yang saling berpegangan tangan.
Padahal itu hanyalah mimpi dan itu sangatlah menyakitkan, apalagi kenyataan mantan karyawannya sendiri yang telah menjadi istri pujaan hatinya.
"Lama sekali, sedang apa kamu?" suara di seberang telepon terdengar, kesal karena ia lama mengangkat panggilannya.
"Bawel banget, aku lagi tidur sebentar dan kau malah mengacaukan tidurku!" Dea tak kalah kesal dengan lawan bicaranya, apalagi lelaki ini mengabaikan perintahnya tadi.
"Maaf atas yang tadi, tapi lupakan itu aku ada berita bagus."
Merasa dapat angin segar, Dea pun mendadak semangat dan antusias.
"Nona Dea?"
Dea memegang teleponnya, dan menarik nafas dalam-dalam. untuk menanggapi karena mimpinya tadi serasa nyata dan menyesakkan dada.
"Nona Dea, hallo??" Merasa Dea tidak menyahuti, Rico memanggil lagi.
"Ya, katakan. Aku mendengarkanmu."
"Sebaiknya kita bertemu, akan lebih menyenangkan jika membicarakan kabar ini secara langsung, akan aku kirimkan alamatnya"
"Ok." Dea setuju dan bergegas menuju tempat yang di share oleh Rico.
Yang moodnya sangat buruk, kini mereda sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman, namun senyuman itu hanya bertahan sesaat saat ia mengingat lagi siapa istri dari Seto, wajahnya menjadi mendung.
"Tapi aku juga tidak tahu, apakah ini cinta atau hanya ketertarikanku saja, karena Seto berbeda dari yang lainnya. Aku sadar, perasaan ini akan hilang seiring berjalannya waktu, mulai hari ini jika aku tidak mengejar Seto lagi dan berhenti mencari tahu tentangnya, aku rasa perasaan ini akan memudar dengan sendirinya."
Sebenarnya Dea hanya nyaman di dekat Seto, saat berkumpul dengan lelaki itu rasanya hatinya menjadi damai dan tenang.
Tapi apa yang terjadi di mimpinya, seolah menyadarkannya. Dea sadar bahwa ia tidak boleh merusak apa yang telah mejadi hak orang lain, dan terlebih Seto menikah atas dasar kemauannya dan mencintai istrinya. Jika ia bersikeras untuk mengejar itu akan berakhir dengan kesia-siaan dan rasa yang sangat menyakitkan.
Akhirnya Dea mengetik pesan yang di tujukan untuk Rico, bahwa ia mendadak tidak enak badan, itu hanya alasan karena di pikir-pikir ia tidak mau menjadi wanita yang berakhir menyedihkan.
__ADS_1
Sebelumnya yang Dea tahu, Seto tidak pernah mencintai wanita, dan bahkan ia sering bergonta-ganti teman kencan, namun demikian Seto tidak pernah kasar pada wanita dan selalu ramah itu yang menciptakan rasa nyaman di hati Dea saat bersamanya. Namun dengan Arini lelaki itu benar-benar berbeda.
Ini adalah, kecemasan, penyesalan, dan kesengsaraan jika Dea masih terus mencoba mengusiknya.
Tapi situasi sekarang ini, bagaimana ia merelakan perasaannya terhadap Seto, Dea merasa gelisah andai dia mengakui apakah ia masih bisa di terima sebagai teman?.
Namun saat ia mengingat ucapan Seto yang sekarang selalu kasar padanya, itu membuat hatinya begitu terluka, lelaki itu seolah telah melupakan keberadaannya.
"Jadi mulai sekarang, aku akan sebisa mungkin lenyap dari pandangan." gumam Dea dengan memejamkan mata.
Di saat Dea sedang gundah gulana, di sisi lain Rico mengumpatinya, ia sangat kesal Dea membatalkan pertemuannya, padahal selain ingin memberi tahu berita, ia juga akan memanfaatkan wanita itu untuk mengeruk keuntungan, ia akan meminta uang kepadanya, dengan dalih uang bensin.
"Sialan, dasar betina menyebalkan!" umpat Rico dengan membuang puntung rokok ke tempat sampah.
Lalu Rico memutuskan untuk bermalas-malasan di rumah, selain tidak ada pekerjaan, ia juga tidak memiliki uang untuk berfoya-foya.
Di tempat lain.. tepatnya di parkiran kafe, Bimo sedang menunggu Seto, sebenarnya tadi sudah selesai dan Seto sudah masuk kedalam mobil, namun karena Seto mendadak ingin buang air kecil, ia meminta Bimo agar menunggunya sebentar, saat ini pandangan Bimo menatap lurus ke depan melihat sosok wanita yang tengah asyik mengobrol dengan seorang pria.
" Siapa lelaki itu? sampai-sampai mendapatkan pelukan darinya..aku saja yang tampan begini tidak pernah di peluknya, Halah jangankan di peluk, ngomong sama aku aja jarang dan seolah memberi jarak. betina memang menyebalkan!" decak Bimo seraya masih menatap wanita itu.
"Ah..Bos, sudah selesai?" Bimo terkejut, karena ia yang terlalu fokus menatap yang di depan sana sampai-sampai tidak menyadari Seto telah masuk kedalam mobil.
"Kalau di tanya itu jawab! bukannya balik bertanya." ucap Seto dengan memasang sabuk pengaman.
"Maaf bos, tidak kenapa-kenapa Bos." jawab Bimo kemudian melajukan mobilnya untuk kembali ke anak cabang kantor.
"Kau cemburu?" tanya Seto saat mobil mereka melaju meninggalkan kafe.
"Apa-apaan, mana mungkin." kilah Bimo.
"Kau iri, pada cowok yang di peluk Hana?"
"Mana mungkin, aku cemburu sama cowok jelly seperti dia,"
__ADS_1
Hana adalah wanita yang telah lama di kagumi Bimo, namun Bimo tidak pernah mengungkapkan perasaannya, jika dirinya melakukan itu ia merasa Hana, akan menjadi canggung dan mendadak menjaga jarak darinya. Bimo tidak ingin merusak kenyamanan antara teman yang telah lama terjalin.
Lebih baik diam seperti ini, daripada ia mengungkapkan ujung-ujungnya akan tercipta jarak di antara dirinya dan Hana.
Dan mana mungkin seorang lelaki seperti Bimo yang telah banyak bermain cinta dengan wanita lain, akan cemburu dengan seorang pria tadi, apalagi Hana terlihat dekat hingga memeluknya layaknya seorang teman, tapi tunggu..bukankah Bimo juga temannya? Lalu mengapa dirinya tidak pernah mendapatkan pelukan dari Hana?.
Sementara itu kejadian yang sebenarnya,
"David?" Sapa Hana yang tak sengaja melihat sosok yang di kenalnya.
"Maaf siapa ya?" tanya lelaki yang baru saja di sapa Hana.
"Ini aku Hana, apa kau tidak mengingatku?"
"OMG... Hana.." lelaki itu memeluk Hana setelah mengingatnya, rupanya lelaki itu adalah tetangga Hana yang telah lama pindah ke Korea, dan Hana mengenalinya karena wajah lelaki itu tidak berubah hanya kulitnya saja yang berubah menjadi putih.
Wajar saja jika Hana langsung memeluk David, karena telah terpisah begitu lama, David adalah salah satu teman pria yang selalu di ajak ngalor-ngidul saat mereka berada di kampung.
"Lalu kamu sendiri ngapain di sini Na?"
"Aku sedang menemani Bosku, yang saat ini sedang merencanakan kerja sama dengan salah satu rekan bisnisnya."
"O.." bibir David membentuk bulat menanggapi jawaban Hana.
Sedangkan perasaan Hana terhadap Bimo sebenarnya sama, Hana juga memendam perasaannya karena ia takut akan membuat jarak antaranya dengan Bimo, tadi saja saat berhadapan dengan lelaki itu jantungnya berdegup kencang, namun ia harus profesional, ia mencoba acuh tak acuh saat berhadapan dengan Bimo. kebiasaan wanita saat dekat dengan lelaki yang di sukainya malah mendadak jaim, dan seolah tidak butuh, itu untuk menutupi rasa gugupnya.
Sedangkan bimo dan Hana, sudah lama tidak bertemu karena kesibukan mereka masing-masing.
Bimo dan Hana, dulunya teman sekelas saat SMP, namun kerena sesuatu, Hana pindah ke luar kota namun kabar mereka masih terjalin hanya melalui sosial media.
Bimo tidak tahu saja, bahwa cintanya mungkin tidak akan bertepuk sebelah kaki eh tangan.
Bersambung...
__ADS_1
seperti biasa aku cuma minta like komen rate dan vote 🥰