
Rasa mual yang di alami Seto ternyata berlanjut, sehingga Bimo yang pengertian itu segera mengantarkan bosnya untuk pulang, lagian pekerjaan di kantor bisa di tangani olehnya.
Sepertinya mual yang di alami Seto bukan semata-mata karena kehamilan Arini, melainkan lelaki itu juga sedang masuk angin, nafsu makannya yang berantakan, serta tidak ada makanan yang bertahan lama di perutnya membuat lelaki itu akhirnya mengalami sakit lambung pemicu rasa mual itu terjadi.
Arini dengan telaten merawat suaminya, untung saja Alana tidak rewel. Walaupun Alana telah ada pengasuh, tetap saja Arini sebagai orang tua tidak mau lepas tangan dari tanggung jawab merawat putrinya sendiri. Sebisa mungkin ia tetap ada untuk merawat putrinya itu.
Malam harinya, setelah Arini merawat Seto ia masuk ke kamar Alana untuk mengecek ulang putrinya itu. Kemudian tak selang berapa lama, Arini kembali ke dalam kamar.
Sepertinya Seto sudah lebih baik, kasih sayang dan cinta Arini membuatnya lebih kuat, lalu ia berkata " Sudah larut malam, kenapa belum tidur, apa sengaja menungguku untuk memangsamu?" Seto menyipitkan matanya, menatapnya dari atas ke bawah, mengamati kegelisahan Arini.
Arini cengengesan, dan malu-malu untuk berkata.
"Haish, mas Seto ini. Aku belum tidur karena aku mau ngomong, aku..mmm, anu mas. Aku..minta uang ya."
Dengan cengengesan, lalu Arini mendapatkan ide, ia sangat percaya diri suaminya itu tidak akan menolak, lalu Arini mengangkat telapak tangannya meminta " beri aku uang."
"Uang..uang apa?" Seto menatap telapak tangan Arini.
"Apakah mas Seto lupa, pagi tadi mas berkata bahwa badanku mulai gendut, lalu aku mengkode mas Seto minta baju baru, ini loh mas..bajuku sudah tidak muat, rasanya engap sekali, huhu..bahkan anak kita meronta kesempitan di dalam perut." Arini mengatakan ini dengan sangat dramatis, entah mengapa ia mendadak ingin membeli baju.
Seto mengerutkan kening lalu berkata " Sini. lihat ini !" Seto membalikkan badannya tetapi sebelum itu dia melepaskan bajunya.
Seto memang sosok yang sempurna, otot- ototnya jelas nampak saat ini lelaki itu bertelanjang atas, tidak dapat di bantah Seto memanglah sangat seksoy.
Tapi..
Untuk apa Seto tengkurap dan melepaskan bajunya?.
Apakah lelaki ini sedang ingin menunjukkan maskulinnya? Atau ada sesuatu yang di inginkan dari Arini?.
"Berapa banyak yang kamu mau mah?" Seto mengeluarkan suara, ini adalah pertama kali Arini meminta uang padanya, biasanya tanpa meminta Seto telah memberinya.
__ADS_1
Masih menatap punggungnya, Arini malah tidak mendengar kata-kata Seto baru saja. Seto memutar kepalanya, ia melihat istrinya itu sedang menatapnya, melamun, " apakah aku sangat menarik dan terlihat seksoy?"
"A-apa?" Arini terkejut mendengar ucapan Seto, ia mencoba menenangkan diri, kemudian menjelaskan, " nggak gitu mas, aku bingung saja, ngapain mas Seto buka baju dan malah tengkurap?"
"Haruskah aku menjelaskannya sayang?"
"Oh. Aku mengerti, tunggu sebentar aku akan menyiapkan minyak untuk mengurutmu."
"Istri pintar." ucap Seto dengan tersenyum.
Beberapa saat kemudian, Arini mulai memijat punggung suaminya dengan lembut, Seto menikmati setiap pijatan dari tangan Arini.
"Berapa banyak yang kamu butuhkan mah buat beli baju?" tiba-tiba Seto bertanya.
"Ah.. terserah mas aja."
"Belinya nanti saja, jangan sendiri saat berbelanja." nada bicaranya menunjukkan seperti sedang memerintah.
"Tidak ada bantahan. Aku hanya tidak ingin kau pergi sendirian, atau aku akan menyuruh seseorang saja nanti biar Bimo mengirimkan beberapa gambar baju yang mungkin nantinya kamu sukai mah."
Arini mengerutkan bibirnya, "hmm.. padahal aku sudah bayangin belanja di mall, lalu biasanya akan ada diskon di akhir bulan seperti ini. Apalagi kebutuhan Alana pasti banyak diskonnya di tanggal-tanggal begini."
Arini mengatakan kalimat itu dengan sangat rendah, Tidak mendengarkan kata-kata Arini dengan jelas, Seto berbalik menatap Arini dengan dingin lalu berkata " untuk apa kamu ngejar diskon, suamimu ini tidak merestui kamu pergi sendirian, apalagi dalam keadaan hamil seperti ini, apa kau sangat khawatir suamimu ini tidak mampu membelikamu baju, kalau tidak ada diskonan? Apa kau lupa untuk membeli tokonya saja suamimu ini mampu!"
Kata-kata Seto membuat Arini merasa tidak enak hati, sepertinya dia telah menyinggung perasaan suaminya itu.
Bagaimana dia mengatasi situasi ini?.
"M-maaf mas, bukan begitu maksud aku."
Seto menghela nafas, sepertinya tadi ia sedikit terbawa perasaan, lalu Seto duduk dan menatap rasa bersalah di mata istrinya.
__ADS_1
Arini tidak menyangka situasi ini akan terjadi, nafas Seto terlihat tidak beraturan, sepertinya ia sedang menahan amarahnya. Arini menangkap tatapan mata Seto yang dalam, tiba-tiba jantungnya berdetak sangat kencang.
Arini merasa menyesal karena telah membantah ucapan suaminya, Arini ingin menghindar tetapi Seto malah mendekat dan memeluk pinggangnya menggunakan satu tangan. Padahal Seto hanya memeluknya dengan sedikit kekuatan, namun hal itu membuat Arini sudah kesulitan untuk bergerak.
Kontak fisik, dan atmosfer yang ambigu membuat Arini sedikit panik. Arini ingin mengatakan sesuatu, namun nyalinya ciut dan rasanya pertanyaan itu tercekat di tenggorokan. Arini mencoba ingin melepaskan tangan Seto, namun tangan Seto yang satunya malah memegang tangannya dengan erat.
"Mas.. sayang, maafkan aku tadi." Mengatakan maaf dan mencoba melepaskan tangganya. suaranya ia buat lembut untuk meluluhkan hati suaminya itu.
Seto hanya diam, lalu menatapnya, tatapannya menyapu mata Arini kemudian, jatuh pada bibirnya.
Lalu..
Bibirnya yang kemerahan itu sedikit terbuka, tatapannya masih jatuh di sana, berhenti, dan tidak ia alihkan sedikitpun.
Tiba-tiba matanya menjadi dalam dan sangat berbahaya.
Lalu tanpa aba-aba, bibirnya sudah ditutupi oleh bibir Seto, walaupun Seto telah menciumnya ratusan kali, Arini tidak bisa merasa tenang, ia kewalahan dan tidak dapat mengimbangi ciuman mendadak dari Seto, ciuman yang begitu agresif dan sangat sulit untuk Arini tolak.
Sambil berciuman, telapak tangan besar Seto, secara bertahap bergerak dari pinggang menuju ke bagian tubuh atas.
Tentu saja Arini telah memahami gaya bahasa tubuh suaminya saat ini yang menginginkan lebih, tangan itu telah mendarat di dua semangka miliknya, lalu bergerak ke belakang untuk melepaskan pengait bra yang membungkus dua semangka super yang ia miliki, semangka Arini berubah drastis semenjak hamil, lebih berisi dan sangatlah seksoy.
Pada akhirnya, Arini terbawa suasana, awalnya ia hanya ingin meminta uang kepada suaminya itu, namun karena ucapannya yang ngeyel membuat Seto menjadi keki. ia tidak dapat menolak keinginan suaminya yang selalu saja dapat membuatnya melayang itu.
Arini melayang, lalu Seto bertanya dengan suara bergetar, hasratnya sudah melambung tinggi tidak dapat di tahannya lagi. Sesuatu yang di bawah sana sudah berubah ukuran, menjadi keras dan mendadak besar.
" Apakah aku boleh menjenguk anakku di dalam sana?"
Tiba-tiba..
Bersambung...
__ADS_1
hayo...wkwkwkkw jangan lupa like komen rate dan vote 🌹😘