
Sesampainya di rumah. Seto mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu, ia menggerakkan tangan mengisyaratkan agar semua pelayan yang ada di sana meninggalkan tempat itu, Arini berjalan lebih dulu masuk kamar saat ini ia sama sekali tidak berani untuk bertanya pada suaminya itu.
Arini menatap dari lantai atas merasa sangat putus asa.
Setelah mempertimbangkan dengan cermat, ia berjalan kembali ke bawah dengan sangat pelan, hingga tidak menimbulkan suara, dan menuju ke dapur.
"Minum ini mas."
Suara lembut masuk ke telinga Seto, lalu perlahan-lahan ia membuka matanya yang terpejam, saat ini kepalanya masih bersandar di sofa. wajah cantik yang di selimuti perasaan bersalah terlihat jelas di Indra penglihatan Seto.
Dia meraih gelas yang berisikan air hangat itu dari tangan istrinya, seketika kehangatan dari air itu menyebar dari telapak tangannya ke dalam hati.
"Minumlah obatmu mas,"
"Ya."
"Apakah ini terasa sakit?" Arini menatap bagian yang terluka, wajahnya sangat khawatir saat menelisik luka itu.
Seto sedikit mengangguk sebagai jawaban.
Seto meminum air. Arini berpikir sejenak dan berkata, "bukan maksud hati ingin membela mas Rico, aku hanya tidak ingin kau bertindak gegabah hingga menyusahkan dirimu di kemudian hari."
Seto memandangnya dari atas sampai ke bawah "ya..tidak apa-apa, aku memahaminya."
Seto ingin berbicara lagi, namun tiba-tiba ponsel di saku bajunya berbunyi. Dia mengambilnya dan melihatnya dengan terkejut.
Ternyata dari Bimo.
"Aku harus menjawab telepon dulu." setelah mengatakan itu Seto berjalan sedikit menjauh dan meletakkan ponsel di telinganya.
"Mengapa kau menelepon?"
"Sudah aku bereskan si Rico bos, sisanya mau di apakan manusia satu ini?" ucap Bimo terlihat serius.
Seto mendadak menggebu, " terserah kau saja, yang penting dia tidak melebihi batasannya lagi!"
__ADS_1
Seto terkejut setelah beberapa detik, ternyata Arini sudah berdiri tepat di belakangnya.
Seto kecewa entah bagaimana, masih saja terlihat guratan tidak rela di manik mata Arini saat dirinya memerintahkan kepada Bimo untuk memberikan pelajaran kepada Rico.
"Lanjut nanti Bim." setelah mengatakan itu Seto mengakhiri panggilan dengan Bimo.
Setelah mengakhiri panggilannya, Seto menoleh ke belakang, ia kemudian melihat Arini yang hendak mengatakan sesuatu kepadanya.
Dia menatapnya dengan serius, terlihat guratan otot di keningnya yang mengkerut, Seto berjalan ke arah sofa tadi, mengambil air hangat, setelah meminumnya, ia meletakkan kembali gelas itu di meja, membuat suara keras yang terdengar sangat tajam di keheningan ruangan itu. sepertinya Arini belum sama sekali memahaminya mengapa Seto demikian.
Arini sangat terkejut, tidak pernah ia melihat sisi dingin dari Seto seperti sekarang.
Seto berjalan naik ke lantai atas, sementara punggungnya terlihat kaku, dan acuh tak acuh, tampaknya seluruh tubuhnya di lapisi lapisan es.
Arini sedikit kebingungan, apakah ia menyinggung perasaan suaminya, mengapa wajahnya.terlihat sangat serius tadi, bukankah Arini tidak mengatakan apapun pada Seto.
Arini tidak berani bertanya, karena sikap Seto yang saat ini berbeda dari biasanya. Ia menyadari sikap dingin suaminya itu. akhirnya Arini memutuskan untuk mengikuti Seto naik ke lantai atas.
Dia dengan ragu melangkah naik ke tangga, langkahnya di perlambatan agar tidak cepat sampai di kamarnya. Ia menatap punggung Seto yang telah memasuki kamar dan seketika lenyap saat tubuh itu masuk ke dalamnya. Arini menginjak berat dan lebih berat saat menaiki anak tangga.
Arini berhenti di ambang pintu kamarnya, menatap tubuh Seto yang telah terbaring sempurna di atas ranjang, ia sedikit ragu, tanpa mengatakan apa-apa, ia akhirnya masuki kamar itu.
Seto tiba-tiba beranjak dari tidurnya dan duduk setelah itu memanggil namanya, Seto berkata melalui gigi yang terkatup seolah dia mengigitnya. tatapannya yang berat ia jatuhkan pada istrinya itu.
Kali ini Arini sangat yakin, ia telah menyinggung perasaan suaminya itu, sebelumnya tidak pernah ia merasakan panggilan untuknya sedingin ini.
Arini tanpa sadar berdiri tegak, seraya menatap Seto sedikit ketakutan, dan merasa bingung. "Iya mas, ada apa?" sangat tidak peka sekali decak Seto dalam hati.
Kini jaraknya dengan Seto tersisa satu langkah, tatapannya sangatlah suram, tidak ada lagi keceriaan di wajah tampan itu, sungguh sikap Seto yang seperti sekarang membuatnya sedikit ketakutan.
"Bagaimana bisa kau masih saja membelanya, saat aku hanya sedang tidak ingin milikku di sentuh orang lain?" Seto bertanya.
"Ah..bukan itu maksudku mas." Arini bingung menjelaskan.
Seto melangkah mendekatinya hingga jarak satu langkah tadi kini telah terkikis, badan Seto yang lebih tinggi dari Arini membuat wanita itu mendongak untuk menatap wajah dingin itu.
__ADS_1
Sebelum Arini berkata, Seto mengangkat dagunya.
Mata mereka bertemu, jelas terpampang di bola mata lelaki itu tersimpan rasa kekecewaan, ada rasa tak kuasa untuk mendiamkan istrinya saat ini, ia marah tapi dirinya tidak mampu menahan agar tak berbicara dengan Arini.
"Kau masih saja melindunginya, apa kau masih mencintainya? Apa karena dia ayah biologis Alana hingga membuatmu selalu saja tidak rela jika tanganku menghajarnya? sama sekali kau tak memikirkan perasaanku mengapa aku demikian?"
Suaranya berat dan sarkasme, sangat jelas menggambarkan seolah pedang tajam yang menusuk di gendang telinganya.
Dia menatap Seto dengan sedikit mendongak, "bukan seperti itu, kau menghajarnya terlalu berlebihan, bisa saja dia mati di tempat, aku tidak menginginkan sesuatu yang buruk akan merusak reputasimu nanti."
Seto tersenyum lemah, wajahnya yang suram membuat Arini tertekan.
"Apa kau tahu, aku sangat beruntung memiliki suami sepertimu, Alana memiliki ayah sambung yang baik dan perhatian, bahkan aku telah memilih bercerai darinya karena aku paham karakter sifatnya tidak akan pernah berubah, aku hanya berusaha mengingatkanmu saja tadi mas, agar tidak berlebihan. aku sebagai istri wajib mengingatkan."
Seto terdiam, ia menahan amarahnya, menunggu Arini melanjutkan ucapannya.
Dia menghirup nafas dalam-dalam, senyum di matanya benar-benar menyakitkan untuknya.
"Seharusnya tidak ada yang perlu di debatkan dalam hal ini mas, aku paham kecemasanmu, namun aku wajib mengingatkanmu agar tidak bertindak melebihi batas."
Setelah menyelesaikan kalimatnya, Seto menatap dalam-dalam matanya.
Seto diam untuk waktu yang lama, menahan suaranya agar tidak salah dalam berbicara, ia menahan nafasnya sejenak hingga di rasa cukup ia menghembuskan nafas lagi. ia seolah bertanya dalam hati, apakah Arini tahu saat ini dirinya sedang merasakan cemburu?.
Arini tidak mengatakan apa-apa lagi, ia juga tidak ada niat membahas ini terlebih jauh, dia menutup pintu kamar dan hendak menguncinya.
Arini tertegun.
Dia berbalik dan tiba-tiba jantungnya berdetak kencang, tangannya masih memegang gagang pintu di belakang punggungnya.
"Arini dengarkan! jangan membuatku ambigu," Seto berkata dengan sikap menuntut, Arini dapat merasakan nafasnya yang agresif dengan kuat, "kau harus berada sejauh mungkin dari lelaki lain, terutama mantan suamimu! jika tidak aku akan menghukummu.dan aku selalu memiliki cara untuk mencegahmu dari kebersamaan!"
Arini berkedip, ia masih mencerna kata-kata yang diucapkan Seto baru saja. setelah mengatakan itu Seto menyingkirkan tubuh Arini dengan lembut kemudian ia melangkah dan mengunci pintu itu dari luar kamar, meninggalkan Arini dalam rasa bertanya-tanya.
Bersambung…
__ADS_1
hari Senin nih jangan lupa berikan dukungan untukku dengan cara like komen rate dan vote.
banyakin ya biar aku makin semangat update 🌹❤️