Istrimu Adalah Pilihanku

Istrimu Adalah Pilihanku
IAP. 83.


__ADS_3

Malam harinya terlihat Rico sedang berdiri di jendela kaca besar, sambil melihat pemandangan luar dari lantai dua dengan tatapan yang dingin dan serius.


Ia tak habis pikir Clara dapat lari dari cengkramannya. Mata dingin Rico menatap tajam ke luar jendela dengan milyaran rasa kesal dalam benaknya.


"Benar-benar tidak ku sangka, Clara akan membangkang seperti itu padaku."  ucap Rico dingin dengan sedikit tersenyum.


"Kalau memang wanita sialan itu sudah tidak mau menurut, jangan harap dia akan bisa hidup tenang." gumam Rico lagi.


Sepertinya lelaki ini sangat frustasi dan tertekan, dari segi asmara Clara dengan jelas meninggalkannya, lalu dari sisi ekonomi, jelas tabungannya mulai menipis apalagi saat ini dirinya belum menemukan pekerjaan sama sekali. Memikirkan ini Rico semakin frustasi, lalu ia membanting apapun yang berada di jangkauannya. " Sialan. A*j*ng,"


Malam ini perasaan di hati Rico tidak ada kedamaian sedikitpun, bahkan botol sampanye berserakan, lelaki itu mencoba menghilangkan kekesalannya dengan bermabuk-mabukan.


Keesokan harinya.


Ketika Arini terbangun di sisinya sudah tidak ada lagi Seto, dia menatap kosong pada sisi tempat lelaki itu biasa terbaring, tapi ketika ia mengulurkan tangan ke tempat itu, dia masih merasakan panas di sana, sisi tempat tidur yang meninggalkan suhu Seto di sana.


"Kemana mas Seto," tanya Arini dalam hati.


Di ruangan lain ternyata Seto sedang di periksa oleh dokter, mual sedari kemarin belum juga selesai, karena merasa tubuhnya semakin lemas ia pun memanggil dokter untuk pemeriksaan di rumah saja.


"Sejak kapan pak Seto mengalami gejala mual seperti ini?" tanya dokter itu dengan memeriksa tensi darah Seto.


"Baru kemarin dok, tepatnya setelah saya mencium aroma parfum seseorang." Jelas Seto.


"Tapi, sebelumnya pagi harinya istri saya memang kelihatan tidak sehat, lalu saya meminta kepada asisten saya, memanggil dokter untuk memeriksanya, dari kejadian itu saya belum bertanya apapun padanya, karena rasa mual ini membuat saya begitu malas hanya sekedar berbicara." jelas Seto lagi.


"Hmm..dari hasil pemeriksaan, pak Seto tidak menderita penyakit apapun, hanya kurang darah saja tetapi itu tidak mengkhawatirkan, lalu apakah mual pak Seto bisa reda jika memakan sesuatu atau mencium sesuatu mungkin?"


"Harum lavender, lalu harum aroma bedak bayi membuat saya tenang, kemarin hanya aroma tubuh Alana anak saya, yang dapat membuat perasaan saya jauh lebih baik."


"Lalu makanan apa yang bisa masuk ke dalam perut pak Seto?" 


"Belum tahu dok, saya belum makan apapun semenjak pulang dari kantor kemarin." 


Dokter itu mengangguk, ia menutup buku yang ia gunakan untuk mencatat setiap pernyataan yang di ucapkan Seto tadi, lalu detik berikutnya dokter itu tersenyum seraya berkata " sebaiknya bapak tanyakan dulu kepada istrinya, hasil pemeriksaan dokter kemarin, dari hasil pemeriksaan saya, pak Seto tidak menderita sakit apapun."

__ADS_1


"Baiklah dok, terimakasih atas penjelasannya." 


Kemudian Seto mengantarkan dokter itu untuk keluar dari rumahnya.


Karena semalam Seto terlihat malas untuk di ajak bicara, dengan kondisi suaminya yang berulang kali harus bolak balik ke kamar mandi untuk muntah itu, Arini sengaja belum memberi kabar bahagia yang saat ini masih ia simpan sendiri.


Setelah pulang dari apotek kemarin, ia lalu mencoba alat tes kehamilan itu di kamar mandi.


Dan apa yang katakan dokter kemarin benar adanya, dua garis merah terpampang jelas di alat tes kehamilan itu.


Kabar kebahagiaan itu sebenarnya ingin ia bagi tadi malam, namun kondisi Seto yang kurang sehat membuat ia menundanya.


Setelah mengantarkan dokter tadi, Seto berjalan menaiki anak tangga, untuk masuk ke kamar. Tak mendapati istrinya di sana, lelaki itu menuju kamar sang putri, dan benar saja wanita yang di carinya sedang berada di dalam sana.


Melihat tuannya masuk ke dalam kamar, pengasuh itu segera berpamitan keluar, " Mas.." sapa Arini dengan senyuman bahagia di wajahnya.


"Tadi kamu kemana saja?" 


"Tadi aku di ruangan bawah, dokter sedang memeriksaku tadi."


Seto mengambil alih Alana, lalu ia pangku gadis mungil itu, dan dengan gemas ia menciumi pipi bulat yang berwarna putih sedikit kemerahan. 


Namun sepertinya putrinya itu merasa tidak nyaman, Alana pun menangis dan membuat Seto semakin gemas untuk menghabiskan pipi bulatnya itu.


"Haish..sudah mas, Alana nangis nih," Arini menghentikan kegemasan Seto yang di rasa tak berujung itu, lalu ia menanyakan kembali hasil pemeriksaan dokter tadi.


"Nggak papa, cuma masuk angin sayang." jawab Seto kemudian.


"Syukurlah." Arini menimpali.


Arini kemudian teringat, "mas nitip Alana bentar, aku ada sesuatu buat kamu." 


Hal itu membuat Seto penasaran, ia melihat punggung Arini yang menjauh keluar dari kamar, lalu tak selang beberapa lama, Arini kembali dengan menyembunyikan tangannya ke belakang, seolah ia sedang menyembunyikan sesuatu.


"Apa yang ada di belakang punggungmu?" tanya Seto penasaran.

__ADS_1


Arini menyerahkan benda kecil yang sangat tipis itu, lalu Seto menerimanya, lelaki itu terkejut dengan tatapan meneliti, "i-ini seperti alat tes kehamilan, dan..dua garis merah?" Ia melihat ke arah Arini yang terlihat tersenyum santai sekarang.


"Ya. Kau..sayang, kamu..?" Seto menatap perut Arini, menatap wajahnya dan balik menatap perutnya lagi.


Dia beranjak dan berdiri sambil masih menggendong Alana, " kau hamil?" Mata Seto sangat berbinar, jelas sinar kebahagiaan terpancar dalam manik coklatnya.


Arini menganggukkan kepala.


" Ya Tuhan..istriku hamil, dia..hamil.."batin Seto dalam hati.


Mata Seto memerah, seperti akan banjir air mata, ia menatap Arini dengan dalam, lalu beralih menatap putrinya yang saat ini sedang menyentuh bibir Seto menggunakan jari-jari mungilnya.


"Sayang..ini beneran kan? Aku nggak mimpi?" Seto masih tidak percaya akan ini semua. 


Ia kemudian merangkul Arini, serta memberikan ciuman bertubi-tubi untuk istri dan putrinya itu, rasanya ini adalah rejeki dari Tuhan yang luar biasa. Rasa bahagianya tidak dapat ia ungkapkan dengan kata-kata lagi.


"Sayang.. terimakasih, kita harus menjaga kandunganmu ini, serta jangan mengurangi rasa sayang dan perhatian kita untuk Alana, aku mencintai kalian berdua."  Seto kembali menciumi kedua harta berharga yang ia miliki itu.


Satu jam telah berlalu, Bimo datang seperti biasa, melihat Bimo yang menunggu, dan duduk sendiri dengan malangnya. Rasanya Seto sangat menyayangkan jika berita kebahagiaan ini tidak ia pamerkan pada asistennya itu.


Kemudian tiba-tiba Bimo terkejut, dengan tespack yang baru saja Seto taruh di meja. Ia menganga tak percaya.


"Bos..jadi kemarin kamu muntah-muntah, ah..tidak mungkin.."


Seto tersenyum, lalu Bimo melanjutkan ucapannya. " Kamu hamil bos?"


Mata Seto membulat dengan ucapan Bimo barusan, " semprul..,mana ada aku hamil, yang hamil istriku, lama-lama kamu kok makin kurang Bim. Efek lama menjomblo ya gitu,ckk.." 


Bimo menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "hehehe..aku pikir bos yang hamil, kan yang mual-mual kemarin bos Seto, wah..berita besar dan spektakuler nih, akhirnya sebentar lagi aku akan bertemu dengan penerus perusahaan Permana group, semoga saja aku masih bisa bekerja sama dengannya nanti."


"Ck, di masa mendatang palamu, kalau dia udah besar...yang ada kamu udah jadi tua dan peyot Bim, jalanmu udah bawa tongkat seperti biksu yang sedang mencari kitab suci." Seketika Seto tertawa ia begitu puas meledek asistennya itu.


Tiba-tiba..


Bersambung...

__ADS_1


LIKE.KOMEN. RATE. DAN VOTE 🌹


__ADS_2