
Clara melihat ponsel di tangannya, mendesah dan menaruhnya ke atas nakas. Sekarang ini dia hanya bisa tinggal di sini untuk menghindari lelaki bedebah itu.
Bayangan itu selalu merusak moodnya, sekilas teringat kembali saat..Clara mendorong Rico dengan keras, membuat lelaki itu terhuyung ke belakang dengan paksa.
"Hentikan! Hubungan kita benar-benar sudah berakhir sekarang." teriak Clara saat itu.
" Tutup mulutmu! Aku tidak ingin mendengar kau membantahku lagi. Selamanya kamu adalah milikku. Kalau kamu ingin mengakhiri segalanya sekarang, lebih baik kamu mati!"
Rico mengancamnya saat itu, hingga akhirnya nafasnya tersengal-sengal saat lehernya di cekik oleh Rico.
Clara sangat marah dan kesal, ia merasa terhina sekali di perlakukan Rico seperti kemarin, Clara juga mentertawakan dirinya yang tak berdaya untuk melaporkan tindakan Rico ke kantor polisi, itu semua karena masih ada sisa cinta di hatinya. Memang orang akan selalu lemah saat berhadapan dengan cinta.
🌹🌹🌹🌹🌹
Setelah mendapatkan penjelasan dari dokter, hati Arini begitu bahagia, kabar ini nantinya akan ia jadikan kejutan untuk Seto, tetapi sebelum itu, ia harus memastikannya terlebih dahulu dengan membeli alat tespack untuk mengecek apakah benar dia hamil atau tidak.
Mengingat memang jadwal menstruasinya yang tidak pernah teratur, Arini takut ini hanyalah sebuah prank, tetapi diagnosa dokter kemungkinan besar tidak pernah salah.
Rasa lemas yang ia derita tadi mendadak lenyap, kini ia memutuskan untuk pergi ke apotik sebentar, untuk membeli alat tes kehamilan, ia mengotak-atik ponselnya untuk memesan taksi online.
Tak selang beberapa lama, taksi online yang ia pesan pun telah sampai, setelah berpamitan kepada salah seorang pelayan, dan menitipkan Alana sebentar Arini pun bergegas masuk ke dalam taksi itu.
"Kemana tujuan kita Bu?"
"Apotik pak." Jawab Arini saat dirinya berhasil mendudukkan diri di jok mobil.
Sesampainya di apotek Arini pun segera membeli apa yang ia butuhkan tadi, namun saat hendak memasuki taksi yang ia tumpangi tadi, mendadak sopir taksi meminta maaf, karena tidak bisa mengantarkan Arini kembali pulang, dengan alasan istrinya yang sedang hamil mengalami kecelakaan dan saat ini kritis di rumah sakit.
Sopir itu memelas, agar Arini mau memahami keadaannya, tentu saja Arini tidak akan tega, ia dengan murah hati mengijinkan sopir itu untuk mengurus musibah yang menimpa istrinya itu.
Kini setelah kepergian sopir itu Arini kembali menunggu, tak lama kemudian ada taksi yang lewat Arini segera menghentikannya dan bergegas masuk.
Di kantor.
Saat ini Seto masih bercakap-cakap dengan rekan bisnisnya. Seto sebenernya sedari tadi rasanya mual saat menghirup aroma parfum yang di gunakan lawan bicaranya itu.
__ADS_1
Merasa sudah tidak tahan, dengan sopan Seto meminta ijin untuk pergi terlebih dahulu dan menyerahkan segala sesuatunya kepada Bimo. Ia berpesan bahwa Bimo yang akan menyelesaikan ending dari keputusan kerja sama yang akan di rencanakan.
Setelah berhasil mendapat ijin pergi, segera Seto berlari kecil mencari toilet, ia segera memuntahkan yang berada di dalam perutnya. Lelaki itu mendadak lemas, dengan keringat dingin yang mengucur di keningnya.
"Ada apa dengan tubuhku." gumam Seto dalam hati.
Bimo yang menggantikan posisi Seto sedikit heran, ada apa dengan bosnya, wajahnya mendadak pucat, apakah bosnya itu sedang sakit?.
Akhirnya pertemuan itu di akhiri dan akan di adakan pertemuan kedua untuk menentukan akhirnya nanti.
Bimo pun mengetuk pintu toilet yang di dalamnya ada Seto, "Bos..are you ok?" tanya Bimo dari luar toilet.
"Ya." Jawab Seto dari dalam.
Beberapa saat kemudian Seto keluar, "Bim.. sepertinya aku ingin pulang awal, mendadak badanku meriang."
"Apa tidak sebaiknya kita ke dokter dulu Bos, untuk mengecek kesehatanmu?"
"Tidak. Aku hanya kurang istirahat saja mungkin, humph.." Seto mendadak mual dan segera berlari masuk lagi ke dalam toilet.
"Ini tidak bisa di biarkan Bos, kita harus memeriksakan keadaanmu ke dokter."
"Aku bilang gak pa.. hueekk."
"Nggak papa gimana, jelas-jelas Bos Se muntah-muntah begini, bahkan terlihat pucat sekali." Bimo sangat khawatir tidak biasanya bosnya seperti ini, selama Bimo mendampingi, tidak pernah ia melihat lelaki yang sedang muntah-muntah ini sakit.
"Kamu ini bawel banget, melebihi mami, hueeek."
"Aneh aja lihat bos Se muntah begini, memangnya tadi Bos Se sarapan apa di rumah?"
"Sarapan nasi lah. Apalagi..balik aja aku Bim, yok!" Ajakan Seto pun segera di turuti oleh Bimo.
"Yakin bos, nggak mau periksa?" Bimo masih menanyakan ulang.
Seto menggeleng, dan segera setelah mereka masuk ke dalam mobil, Bimo pun menyalakan mesin dan melajukan mobil menunju kediaman bosnya itu.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, Bimo melirik Seto. Bos-nya itu memejamkan mata dengan keringat dingin yang mengucur ke wajahnya. Bimo sebenarnya sangat khawatir namun sifat keras kepala Seto tidak bisa ia bantah bukan.
Tiba-tiba Seto membuka matanya, "kamu pakai parfum apaan Bim, buruk banget harumnya."
"Parfum? Seperti biasanya lah Bos."
"Bau banget, copot bajumu sekarang Bim, itu Stella yang baru pasangin, biar mobil ini bau lavender."
"Copot baju dalam mobil? Yang benar saja kamu bos, bisa-bisa kita di kira pasangan apaan, sepasang lelaki dalam mobil yang satu lemes, satunya buka baju. Hiii.." Bimo begidik ngeri membayangkan.
Mencium aroma parfum Bimo membuat Seto kembali mual, "Tepikan mobilnya!"
Bimo dengan buru-buru menepikan mobil, lagi-lagi Seto memuntahkan isi perutnya saat ini, dengan tergesa-gesa tadi dia keluar dari dalam mobil. untung saja jalanan yang di lalui mereka saat ini sepi, sehingga kejadian ini tidak menggangu penggunaan jalan yang lain.
Dengan kikuk Bimo kembali membantu Seto dengan menepuk-nepuk punggung bos-nya itu. Merasa agak baikan, Seto kembali masuk kedalam mobil. Kali ini Seto benar-benar lemas karena berulang kali muntah tadi, ia terlihat seperti lelaki yang payah dan tidak berdaya.
"Cepetan copot bajumu Bim. Terus pasang Stella yang baru itu." ucap Seto dengan menunjuk nama merek pengharum mobil itu.
"Sekarang bos?"
"Besok. Lebaran kuda!" Jawab Seto dengan kesal.
Bimo segera memasang pengharum itu, dengan ragu ia juga membuka setelan kemejanya hingga menyisakan kaos dalam yang membalut tubuh gemoynya itu.
"Anjirr..jangan sampai orang lain tau. Bisa-bisa aku di anggap pasangan pelangi nih," gumam Bimo dalam hati.
Dengan cepat Bimo melajukan mobilnya kembali, ia ingin cepat sampai di kediaman bosnya agar segera terbebas dari keadaan yang menyebalkan seperti saat ini.
Untuk pertama kalinya, Bimo menyetir dalam keadaan hanya menggunakan kaos dalam.
Lelaki itu begidik ngeri "hii Muke gile. Jangan sampai orang lihat." Doa itu tak hentinya di ucap oleh Bimo dalam hati.
Bersambung....
wkwkwkkw aku ngakak nulis part ini, yok berikan semangat mas Bimo yang sedang ngurus bos seto dengan cara like komen rate dan vote ya ❤️
__ADS_1