
sebelum baca cuma mau ingetin jika kalian suka dengan karyaku ini berikan aku like, komen, rate dan vote biar aku makin giat update 🥳❤️
happy reading..
Clara begitu kesal saat dengan terang-terangan Rico menyuruhnya pulang, wanita itu begitu marah karena dirinya pulang tidak di antarkan oleh suaminya itu melainkan ia di paksa untuk pulang sendiri menggunakan taksi karena Rico masih ingin di rumah Arini.
Niatnya membuat Rico membenci Arini sepertinya sedikit sulit. Ternyata dirinya terlalu menganggap remeh Arini, Rico kini seolah malah perhatian pada madunya itu sungguh hal ini membuat Clara kesal setengah mati.
Wanita itu berada di dalam kamar, meraba perutnya yang masih rata. "Bahkan kehamilan palsuku belum mampu menjerat Rico seutuhnya." decak kesal Clara.
Tiba-tiba pintu kamarnya ada yang mengetuk. Membuat Clara terdiam.
Tok..tok..tok..
"Sayang..apa kau berada di dalam?" tanya Rico dari luar.
"Ya. Masuklah!" kata Clara sambil berpura-pura sedang menyisir rambutnya di depan cermin. Melihat istrinya yang masih bernada ketus Rico pun mencoba meredam dengan menampilkan senyuman serta memeluknya dari belakang.
"Sayangku..maafkan aku tadi yang mungkin kasar padamu. Aku begitu kaget bangun tidur kalian sudah ribut, itu membuatku pusing dan tersulut emosi padamu." ucap Rico lirih. Clara pun membalikkan tubuhnya menghadap rico.
"Aku masih kesal denganmu..jangan mencoba merayuku." kata Clara dengan wajah cemberut.
"Hari ini aku berangkat siang..jadi kita bisa menghabiskan waktu untuk.." ucap Rico menggantung dan membuat Clara mengerutkan kening.
"Dan apa?"
Bibir Rico sudah mendarat di bibir Clara, wanita itu membuka bola matanya secara perlahan, dengan gerakan lembut dia membalas tautan bibir Rico, lelaki itu menyentuh lembut tengkuk istri mudanya.
"Kau ingin lebih?"
Goda Rico saat melepaskan tautan nya.
Tentu hal ini yang paling di sukai Clara, dirinya wanita yang selalu haus akan hal demikian. Clara memasang wajah kalem seolah semua terserah Rico mau melakukan apa padanya.
"Mana ada aku begitu,"
Rico terkekeh.
Lantas dengan gerakan cepat Rico mulai kembali Menautkan bi..bir mereka. Menyentuh lembut tengkuk Clara untuk waktu yang cukup lama, Li..dah Rico melesat masuk dan bermain di dalam sana. Saling memutar membelit dengan sempurna bermain-main dengan lincah. Clara begitu pandai membuat Rico terbakar gelora, sesapan Indah yang memenuhi telinga membuat keduanya semakin melayang.
Rico melepaskan pagutannya, bi..birnya turun ke leher jenjang Milik Clara, menyesapnya dan mencoba membuat tanda merah disana. Clara mengeluarkan suara indah yang memabukkan pendengaran Rico, semakin suara itu menggema semakin laki-laki itu menyesapnya dalam membuat yang di bawah sana hidup.
"Mas..ayank.."
Leguh nya dengan suara bergetar.
__ADS_1
Jari Rico menelusup meraba kain penutup bawah Clara, hingga pada akhirnya kain itu telah terlepas dari tempatnya. Tak mau kalah Clara juga membantu Rico melepaskan pakaiannya.
Clara menjerit pelan saat lidah itu tahu-tahu masuk ke dalam sana. Bermain dengan nakal keluar masuk dengan gerakan lincah, Clara menge..rang pelan seraya menarik rambut Rico pelan.
Seperkian detik kemudian, Rico melesat naik ke atas tubuh clara, secara refleks menautkan kembali bi..bir mereka menye... sapnya dengan gerakan memburu. sedangkan di bawah sana siap melesat masuk tanpa aba-aba.
"Akkhh,"
Clara terpekik pelan saat di bawah sana sudah benar-benar mulai membenamkan dirinya dengan beberapa kali gerakan. hingga akhirnya penyempurnaan tiba dan melesat sampai ke ujung sana.
"Men..desahlah aku suka mendengarnya!"
"Akhhh."
"Oh..sayang."
Rico berbisik, memompa dirinya dengan gerakan cepat, membuat Clara mele..guh nikmat. Hinga akhirnya mereka sampai di puncak dan melepaskannya bersama.
Nafas Clara masih tersengal-sengal, " kau curang merayuku dalam kenikmatan."
"Hanya itu yang mampu meluluhkan dirimu." kata Rico sambil mengatur nafasnya juga.
Mereka terbaring di ranjang, dengan tubuh polos bak bayi yang baru lahir.
"Ku pikir kau akan menyuguhiku sampanye." ledek Bimo.
"Woh..mas Bimo yang terhormat, ini kantor bukan kafe milik mas Seto. mana mampu aku menyuguhkannya," balas Dio dengan tertawa.
Seto hanya menggelengkan kepalanya, kedua sahabatnya itu sungguh konyol.
"Apa yang kau maksud bisnis lain itu Se..?" tanya Dio yang penasaran akan ucapan Seto tadi.
"Kau pernah ada keinginan membangun mol bukan?" kata Seto dengan menyilangkan kaki.
Dio nampak berpikir sebentar, selanjutnya laki-laki itu mengangguk. " Iya..tapi itu sudah lama sekali, kendala biaya tentunya."
"Bukan masalah!" kata Seto
"Bim.. jelaskan!"
"Di kota B masih jarang adanya mol, padahal kepadatan penduduk dan gaya manusianya sungguh mendukung. Jadi jika kau mendirikan mol sudah pasti itu akan jadi mol pertama dan akan di minati banyak orang, melihat jauhnya pusat perbelanjaan aku rasa pilihan bisnis membangun mol adalah langkah yang tepat." jelas Bimo.
Dio tampak berpikir.
"Soal di bidang kuliner, itu membutuhkan ciri khas jika hanya meniru aku rasa itu sudah tidak menjadi hal yang wow lagi." jelas Bimo lagi.
__ADS_1
"Lahan kosongku di kota B memang sudah lama terbengkalai, memang benar kebiasaan masyarakat di sana hobi berbelanja. Aku hidup di sana sudah semenjak aku kecil jadi aku tahu seluk beluk kota B." sambung Dio.
Dio tampak diam sejenak.
"Pikirkan saran dariku. Jangan sampai ide bisnis kulinermu menghambat peluang usaha yang lebih menjanjikan." Sahut Seto.
"Tuan Seto akan mengatasi masalah tanpa masalah untuk itu jangan risau pak Dio," Kata Bimo dengan menahan senyum.
Sedangkan Seto melototi Bimo " kamu pikir aku pegadaian." sungut Seto.
Dio dan Bimo tertawa bersama membuat Seto hanya bisa menahan untuk menjitak kepala asistennya itu.
"Aku rasa kau sudah cukup mengerti, aku harus pergi sekarang."
Dio mengangguk, "kita bahas lagi nanti kelanjutannya. Hati-hati di jalan." Sambil menepuk pundak Bimo dan Seto setelahnya mereka bersalaman.
Setelah sampai di dalam mobil Bimo hendak menjalankan mesinnya, " kita kemana bos Se?"
"Menemui pacarku!" kata Seto enteng.
"Dasar bucin akut." ucap Bimo dan melajukan mobilnya.
Seto terlihat tidak fokus saat Bimo mengajaknya bicara, matanya melihat posel dengan raut wajah tidak sabar. pikiran Seto melanglang buana entah kemana, bimo yang melihat Seto gundah akhirnya menyenggol siku bosnya itu.
"Bos Se..kau jadi akan membuat Rico untuk menangani proyek yang akan kau sepakati dengan Dio nanti?" tanya Bimo namun Seto hanya terdiam.
"Bos Se!!"
Akhirnya Seto menoleh, lalu ia mengangkat alisnya seolah bertanya apa yang kau ucapkan tadi.
"Apa yang membuat bos Se gundah?"
"Arini dia tak membalas teleponku. Padahal mau ku pastikan bisa nggak keluar hari ini sebelum besok kita ke luar kota."
Bimo memutar bola mata malas, " ya elah, bos. Aku kira ada apa ternyata mikirin istri orang toh."
"Telepon aja lagi bos." saran Bimo.
"Benar juga." jawab Seto.
Belum sempat Seto mendial Nomor Arini. Panggilan dari Dea membuatnya menunda niatnya tadi.
"Ada apa Dea menghubungiku?" tanya Seto dalam batin.
Bersambung....
__ADS_1