
Pagi harinya. Arini dan Seto sudah berada di meja makan, sedangkan Alana masih di kamar atas, gadis kecil itu masih terlelap dalam alam mimpinya, dia tak sendirian anaknya itu di temani oleh salah satu pengasuh.
Seto meletakkan sendok, dan menatap istrinya, dan bertanya dengan santai. "Jangan melupakan kata-kata ku tadi malam, karena aku sangat serius."
"Atau aku akan memberikan hukuman berat untukmu." Seto sangat dingin saat mengatakannya, sepertinya lelaki itu masih marah padanya.
Seto meliriknya, meminum kopi lalu melanjutkan lagi ucapannya, "pikirkanlah, aku hanya tidak ingin aku merubah karakter sikapku padamu."
Setelah mendengar ucapan Seto, Arini sedikit tertegun, rupanya lelaki ini masih cemburu padanya, saat kejadian di minimarket beberapa hari yang lalu ketika dirinya melerai agar Seto tidak menghajar Rico lagi, dia salah paham dengannya, bukan maksud Arini membela, hanya saja Arini tidak ingin Rico mati di tempat melihat Seto dengan brutal menghajar mantan suaminya itu hingga beberapa pengunjung juga melerai keduanya.
Ia tidak ingin reputasi suaminya menjadi jelek, hanya perihal sepele seperti ini, apalagi jika berita ini menyebar ke publik dan ke rekan bisnis Seto, bukankah bisa di katakan Seto bersifat kekanakan.
"Aku memahami maksudmu mas, tapi jangan terlalu mengekangku, aku tahu batasanku."
Wajah Seto sangat dingin, rupanya Arini menyalah artikan kecemasannya. Kemudian ia melirik istrinya itu, "kau tidak memiliki kata-kata istimewa untuk mencairkan rasa resahku?
Arini sedikit terkejut, pertanyaan Seto terdengar ringan namun makna yang terkandung begitu menuntut. "Tidak ada," ucap Arini kemudian.
Dalam hati Seto ia pun berkata, "sangat tidak peka."
Seto masih mengingat dengan jelas kemarin, saat tangan itu menyentuh tangan mulus istrinya, bahkan kata-kata yang di ucapkan lelaki itu sangat merindukan Arini, bagaimana hatinya tidak terbakar.
Arini saat itu pun terkejut melihat sosok yang menarik tubuh Rico secara kasar, rupanya saat itu Seto berada tak jauh dari Rico, entah sejak kapan itu Arini tidak menyadarinya, Seto pun saat itu terlihat memegang rokok dan menghimpit di kedua jarinya. Seto terlihat sangat dingin dan sombong dalam asap rokok.
Mendadak Arini sangat panik, saat tangan itu dengan paksa menarik Rico hingga mantan suaminya itu terpelanting ke belakang. Ia menyeret Rico hingga keluar dan berada di gang di antara minimarket dan bangunan lainnya.
Dia mematikan rokok, saat tadi ia tidak memperdulikan merokok di kawasan terlarang. jika ada yang menegurnya ia akan membeli tempat itu sekalian, saat marah Seto akan sangat sombong dari biasanya.
Arini kembali tersadar saat ini ia berjalan melewati Seto untuk mengambil piring kotor dan mencucinya.
__ADS_1
Ketika Arini hendak lewat, Seto menangkap tangannya secara tiba-tiba. Dia memegangnya erat-erat seolah Seto akan menghancurkan tulang-tulangnya.
Arini terkejut, apa yang akan di lakukan Seto saat ini, apakah ia salah berkata?.
Saat ini Seto sudah tidak tahan lagi, bagaimana caranya agar Arini memahaminya, ia dengan paksa menarik tangan Arini untuk masuk ke kamar mandi yang terletak di ujung ruangan ini, tanpa ragu-ragu Seto menariknya masuk kedalam, ia tidak ingin saat ini para pelayan mengetahui amarahnya.
Seto sangat kuat, dan langkahnya panjang, dengan kaki pendeknya Arini tidak mampu mengimbangi langkah suaminya. Ia sedikit berlari untuk mengimbangi langkah Seto.
"Mas, apa yang akan kamu lakukan, ini di toilet pembantu?!" Arini meronta.
Seto menariknya dan membanting pintu secara langsung, tanpa ekspresi ia membuka keran putih di samping, mengambil sapu tangan di dalam saku kemeja putihnya, dan menggosoknya di tangan Arini yang di sentuh Rico kemarin.
Seto sedikit kasar, hingga tangan Arini memerah di buatnya. Arini merasakan tangannya sedikit panas ketika gosokan itu berakhir.
"Mas apa yang kamu lakukan?" teriak Arini dengan menatap nanar mata Seto.
Dia mengangkat dagu Arini, dengan jari-jarinya yang panjang, dan mengangkatnya dengan acuh tak acuh, lalu bibirnya melahap bibir merah Arini dengan rakus.
Ciumannya terasa berbeda dari biasanya, terkesan sombong, agresif dan menuntut. ia menghentikan ciumannya dan meraih tangan Arini yang di gosok tadi, menciuminya juga sangat lama tapi sedikit lebih halus dari tadi.
"Aku tidak suka caramu yang begini mas,"
"Apa kau tahu aku melakukannya karena aku sangat cemburu, tanganmu di sentuh olehnya, mungkin ini terdengar kekanakan, tapi aku sangat tidak suka milikku di sentuh orang lain!" mata Seto di warnai amarah, dan kemudian ia mendorong tubuh Arini menghimpitnya di dinding kamar mandi.
Apa yang ingin Seto lakukan?
Ada amarah yang masih melekat di hati Seto, dan pertanyaan dari Arini sekarang membuatnya sangat kesal. Ia menutupi bibir yang ia rasa cerewet itu dengan bibirnya, ya. Dia mencium Arini lagi hingga wanita itu tidak dapat mengatakan apapun lagi.
Arini mencoba menjauhkan tubuhnya dari Seto, merasakan itu Seto semakin di buat marah, ia tidak pernah merasakan kecemburuan sebelumnya, dirinya sudah terbiasa mengendalikan semuanya, ia tidak akan membiarkan Arini bebas dari penaklukannya.
__ADS_1
Ia mencium dalam dan lebih dalam, meluapkan kekesalannya dalam ciuman itu, tangannya juga sangat sibuk.
Arini sangat ketakutan, tidak pernah Seto semarah ini, bahkan bisa dikatakan ia tidak pernah marah padanya.
"Jangan seperti ini.." bujuk Arini setelah ciuman itu terlepas.
"Jangan apa, kau baru saja tadi membantahku, aku hanya memintamu bersikap waspada, dan menjauhkan dirimu dari lelaki lain, tetapi kau malah membantahnya!"
Arini mengelengkan kepalanya, ia patuh sekarang, dan saat ini seseorang sedang berada di luar mengetuk pintu kamar mandi itu.
"Maaf apakah ada seseorang di dalam aku sedang ingin buang air kecil," ucap salah seorang pelayan.
"Mas..ada orang di luar, kita berada di kamar mandi para asisten, kasian mereka, pasti tidak mengetahui kalau yang di dalam adalah kita." ucap Arini memberi tahu.
"Memangnya kenapa? ini rumahku!" ucap Seto dengan arogan.
Sebenarnya lelaki itu sedang sekuat tenaga menahan senyum, ia bisa terlihat konyol jika eksepsi dingin yang ia tunjukkan mendadak buyar karena ketahuan tertawa.
Setelah ciumannya yang seolah terkesan arogan tadi, kulit Seto berubah menjadi merah muda, bak bunga sakura yang sedang bermekaran.
Sebenarnya Seto tidak ingin membawa Arini ke kamar kecil ini, dia hanya ingin memberikan Arini sedikit pelajaran, walaupun ia sekarang menyadari ia sedikit berlebihan ketika melakukannya.
"Arini, jangan sekali-kali lagi membantahku, atau aku akan menghukumu lebih dari ini."
Arini mengangguk patuh, Seto merapikan kemejanya dengan santai, setelah itu ia keluar dari kamar mandi dengan elegan, pelayanan yang tadi menggedor pintu pun menjadi kikuk, ternyata tuan rumah yang ia ganggu, akankah setelah ini dirinya di pecat? Karena telah mengganggu keintiman antara majikannya itu. entahlah hanya doa yang mampu ia panjatkan sekarang.
Bersambung..
like komen rate dan vote menuju tamat nih 😁 tapi...boong 🤣
__ADS_1