
Sesampainya di rumah, Clara segera membanting apa saja yang di raihnya, mulutnya tidak berhenti mengutuki lelaki yang telah menghancurkan hatinya itu.
Namun sosok yang ia sumpah serapahi tiba-tiba saja sudah berada di ambang pintu kamar, ekspresi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan penyesalan sedikitpun.
"Lalu kenapa? jika kau telah mengetahui semuanya. mau minta cerai?"
Suara di ambang pintu itu membuat mata Clara bergetar, seketika cairan bening itu lolos dari tempatnya. Ia sangat terkejut dengan kata yang baru saja di lontarkan oleh Rico, "kau tidak menyesali sama sekali perbuatanmu tadi mas?"
"Lantas apa maumu sayang? Hem.." Kata Rico begitu halus namun terdengar mencekam di telinga Clara, bahkan pandangan lelaki itu sangatlah menakutkan senyum devil seolah mendominasi wajahnya. Rico sekarang meraih wajah Clara dan mengusap lelehan air mata yang mengalir di pipinya.
Rico menarik Clara dalam pelukannya, bahkan seolah tidak terjadi apapun lelaki itu menepuk-nepuk punggung Clara, yang sekarang masih sesenggukan. " jangan mencoba melawanku, ataupun bertindak sesukamu, tetaplah di sini, aku tidak ingin mendengar bantahan apapun!" bisik Rico di telinga Clara.
"Tanpa ada perlawanan?" Clara menegaskan kata yang di ucapkan Rico tadi.
"Aku tidak suka mengulangi kata-kata yang telah aku katakan, jadi tidak usah kau mempertanyakan lagi!"
"Kamu jahat mas, otakmu itu dimana? Kau pikir aku tidak sakit atas apa yang baru saja aku lihat hah?!" Clara mencoba meronta, agar ia lepas dari pelukan Rico yang menjijikkan itu baginya, namun ia tak berdaya karena sekarang Rico mempererat pelukannya.
"Terserah, yang pasti kau tidak bisa dan tidak akan ku biarkan pergi dariku Clara!"
"Dasar kau egois mas, seenaknya jidatmu sendiri kamu pikir aku mau hah.?!" Clara memukul-mukul dada Rico, namun lelaki itu tidak bergeming.
Bagaimana tidak egois, Rico ketahuan selingkuh, bahkan dengan mata dan kepala Clara sendiri ia menyaksikan saat tubuh suaminya memasuki hutan rimba wanita itu, gerakan mereka juga begitu eksotis, kalau wanita itu hanya sekedar wanita panggilan, seharusnya Rico kan bisa menjelaskannya, dan mereka tidak akan ada lagi hubungan, tapi sekarang seolah Rico tak melakukan kesalahan apapun.
Lelaki itu masih memeluk Clara dengan menepuk punggungnya, ia bahkan merelakan tubuhnya untuk di pukuli Clara yang meluapkan kekesalannya dengan cara seperti itu.
Pukulan Clara semakin melemah, ia sudah tidak kuat lagi dengan semua ini, karena kelelahan menangis akhirnya Clara pun mengantuk dan sebelum ia benar-benar terlelap ia masih dapat mendengar Rico membisikkan sesuatu di telinganya.
"Aku tidak pernah menyesali apa yang aku lakukan, tapi satu yang pasti aku masih menginginkanmu untuk di sisiku, dan tak akan ku biarkan kamu pergi!"
Kini Clara benar-benar telah terlelap, lelaki itu membopong tubuhnya untuk di rebahkan di ranjang, setelah itu ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan keringat yang sedari tadi mengucur akibat pergulatan panasnya tadi.
__ADS_1
Berbeda dengan kisah pasangan suami-istri yang sedang merasakan peliknya rumah tangga, hubungan Arini dan Seto sedang hangat-hangatnya.
Seto selalu menjadi pusat perhatian, di usianya yang terbilang masih muda ini, dirinya sudah menjadi bisnisman terkaya di kotanya. Seto adalah orang yang sangat waspada, sepertinya ia merasakan tatapan dari Arini, kemudian Seto mendongak tiba-tiba, kedua mata mereka bertemu sudah terlambat untuk Arini berpaling.
Setelah menjadi suaminya sekilas tidak ada yang berubah dari lelaki ini, namun semakin di perhatikan dan di lihat lebih lama, suaminya ini sedikit berbeda.
Tatapan Seto dalam, namun tidak menampilkan ekspresi apapun.
Sepuluh menit kemudian..
" Tambah satu detik kau menatapku, mungkin posisimu akan berubah dari sekarang." ucap Seto dengan terkekeh.
Namun Arini masih tak bergeming, ia bahkan tak menanggapi ucapan Seto yang saat ini masih menatapnya dengan dalam.
"Hei..kenapa ekspresi wajahmu, seperti menunjukkan melihat hantu di tengah malam?" kata Seto.
Mendengar ucapan Seto, awalnya Arini diam tanpa suara, sampai pada akhirnya ia terkekeh, pelan sambil menggelengkan kepalanya, tak habis pikir ia dapat memiliki suami yang tampan serta baik seperti sekarang.
"Ia hantu itu sekarang sedang berbicara padaku!"
Seto memandang wajah cantik yang ada di hadapannya, mengamatinya dengan dalam.
"Astaga sepertinya aku salah masuk ruangan." Suara seseorang yang baru saja masuk membuat keduanya menoleh ke sumber suara.
"sudah tidak pengantin baru lagi, jangan bebani para jomblo dong bos untuk melihat kemesraan kalian." ejek Bimo.
Seto terkekeh, kemudian ia menatap Bimo dengan cool-nya, memang sekretarisnya ini suka mengejeknya di tiap kesempatan.
"Sudah selesai semua laporannya?" tanya Seto menatap map coklat yang di pegang Bimo.
Bimo melangkah maju, ia menduduki kursi yang berada di hadapan Seto, "tentu saja." ucapnya kemudian.
__ADS_1
Melihat sang suami yang sedang membahas pekerjaan dengan Bimo, Arini melangkah mendekati Seto, ia memegang lengan suaminya itu dengan lembut seraya berkata, "mas, aku balik dulu ya..sekalian aku bawa rantang makannya."
"Tunggulah beberapa menit lagi, aku sudah selesai dengan pekerjaanku, nanti kita pulang bersama-sama." Seto menahan tangan istrinya itu agar tak pulang sendirian.
"Aku serahkan semuanya padamu dulu Bim, aku mau pulang dulu."
"Baik, Bos, serahkan semuanya padaku, kau jangan khawatir." ucap Bimo percaya diri.
Seto kemudian beranjak, ia memakai jas yang menggantung di sandaran kursinya tadi. Ia kemudian menepuk pundak Bimo, "aku balik dulu." pamitnya.
Bimo mengangguk kemudian ia kembali ke meja kerjanya.
Saat dalam perjalanan pulang, Arini meminta Seto agar menghentikan mobilnya di minimarket terdekat, selain ingin membeli beberapa kebutuhan kulkas, Arini juga ingin membeli susu untuk putrinya itu.
Brukk!!
tubuhnya tidak sengaja menabrak seseorang, aroma parfum dari seseorang itu begitu familiar di Indra penciuman Arini, seketika Arini menatap lurus ke depan, ingin melihat sosok yang ia tabrak saat ini.
"Mas Rico." pekik Arini.
Rico pun tidak kalah kagetnya, setelah Clara terlelap tadi, ia keluar dari rumah dan ingin membeli beberapa minuman untuk mengisi kulkasnya. beberapa Minggu yang lalu, setelah pertemuannya di pesta itu, Rico membawa Clara untuk pindah di kota ini agar lebih dekat dengan tempat kerjanya. tentu saja tujuan Rico tak lain untuk dekat juga dengan mantan istrinya juga.
Sedetik kemudian Rico tersenyum, "takdir rupanya mempertemukan kita."
Arini dengan cepat ingin pergi meninggalkan Rico, ia sangat muak jika harus mendengarkan ucapan tidak berfaedah dari mantan suaminya ini.
Namun saat ini tangannya di pegang oleh Rico, pegangannya terasa kuat, seolah tak membiarkan Arini untuk pergi begitu saja darinya.
Namun kebahagiaan Rico tak berlangsung lama, seseorang dari belakang menarik bajunya hingga ia mundur beberapa langkah dari tempatnya berdiri sekarang, bahkan pegangan tangannya pada Arini terlepas.
Bersambung...
__ADS_1
berikan aku semangat karena udah update dua chapter hari ini dengan cara like komen rate dan vote 😘