
Setelah Alana terlelap, Seto lebih dulu kembali ke kamar, sedangkan Arini masih di sana menunggu sampai pengasuh Alana masuk ke kamar setelah sebelumnya Seto keluar dan memberi tahu pengasuh itu.
Beberapa hari kemudian di suatu tempat. 🌹🌹🌹🌹🌹
"Aku bilang juga apa, paling enak tuh makan di tempat kayak gini." Ucap teman Tiara.
Tiara tak menggubris, ia fokus melanjutkan makannya, yang kini tinggal setengah lagi rasa laparnya pun perlahan menghilang.
"Thank, key." Ujar Tiara kemudian.
"Aku bilang juga apa, emangnya cowok ganteng bisa bikin kenyang? Makan tuh cinta." ledek Keymon.
Lelaki itu mencondongkan tubuhnya, ke arah meja, memangkas jarak di antara keduanya, membuat Tiara termangu.
"Kamu beneran Ra, suka sama om-om yg nganterin kamu naik bus itu?" Tanyanya kemudian.
Tiara mengkerutkan kening lalu menggelengkan kepalanya " ngomong apaan sih, nggak jelas." Ia berdalih.
" Nggak usah ngeles, aku udah lihat saat om itu nganterin kamu ke sekolah naik bus kemarin, kamu masih waras kan Ra?"
" Sudah 3 tahun berturut-turut aku juara kelas, tentu saja aku pintar dan waras." Tiara pamer.
"Dih, pintar-pintar sukanya kok sama om-om." Keymon meledeknya lagi.
Tiara berdecak kesal, " kamu tuh yang asumsinya berlebihan, Aku sama dia cuma temenan kok."
"Udah lah Ra, kamu tuh nggak pinter boong, ngaku aja, udah tahu umur kamu sama om itu njomplang banget, kamu udah gila Ra? seleranya sama om-om hii.." ucap keymon lalu meminum jus di hadapannya.
Kunyahan Tiara memelan, kalau di pikir omongan Keymon ada benarnya juga, setelah kejadian Dio tiba-tiba mengantarnya kemarin, lelaki yang umurnya jauh lebih tua daripada dirinya tidak ada kabarnya lagi, bahkan kemarin sore ia mengiriminya pesan namun hanya di baca saja oleh lelaki itu.
Namun saat Tiara mulai goyah, tiba-tiba Dio muncul dan duduk di samping Tiara. Wajah tampannya begitu mendominasi dengan setelan baju santai yang sudah pasti branded.
"Hai, Temannya Tiara." sapa Dio.
Keymon berpaling, Dio menoleh ke arah Tiara yang memilih menyantap sisa makannya di piring. Melihat Tiara yang masih menggunakan seragam sekolah dengan di balut jaket lelaki yang entah milik siapa, membuat Dio sedikit ada rasa tidak nyaman.
"Jaket siapa ini Ra?" tanya Dio.
Tiara mengarahkan jarinya ke arah Keymon, kedua lelaki yang berbeda usia itu saling menatap canggung.
__ADS_1
"Lepas aja Ra," pinta Dio.
"Apaan sih om , jaket udah di pake dari tadi juga, lagian itu jaket mau aku kasih buat Tiara. Mau nanti di pake atau Tiara buang itu urusan Tiara, aku nggak ngurus lagi." Keymon kekeh.
Dio hanya diam, ia memperhatikan setiap kata yang di ucapkan lelaki di hadapannya. Keymon yang merasa Dio malah menantangnya pun terlihat kesal. Lalu ia bangkit dari duduknya dan berkata " aku pulang saja kalau gitu, antar Tiara sampai rumahnya." Keymon menunjuk ke arah Tiara " awas aja Tiara di apa-apain." Ancamnya pada Dio.
Dio hanya mengeluarkan sebatang rokok kemudian membakarnya, ia menggerakkan alis matanya, mengisyaratkan agar lelaki ini segera pergi.
Tiara memesan beberapa makanan lagi, sudah beberapa kali gadis itu bolak-balik hanya untuk memesan dan mengambil makannya. Ia mengabaikan Dio tak ada sepatah katapun dari mulut Tiara yang kini berganti duduk menghadap Dio.
Dio mencondongkan tubuhnya ke meja, " kamu doyan apa laper Ra?" tanya Dio seraya memandang lekat Tiara.
Tiara menyudahi makannya, ia mengikat rambutnya tanpa ekspresi, Dio yang di hadapannya di buat bingung ia tidak pandai dalam membujuk wanita.
" Kak, kamu punya ilmu jelangkung?"
" Apa?!"
"Abisnya datang nggak di undang tiba-tiba aja nongol."
Dio tertawa terbahak, " bisa aja kamu Ra."
"Mamamu, yang minta kakak buat nyari kamu, beliau mengeluh anak gadisnya belum pulang sampai malam seperti ini."
"Ada masalah sama mama?" tanya Dio.
Tiara masih fokus menatap sekotak pizza di depannya, mendengar Dio bertanya seperti itu perhatiannya pun tersita ia segera menoleh ke wajah tampan yang sedang menyesap rokoknya itu, bibirnya hendak berkata namun ia ragu-ragu.
Dio memandang wajah Tiara dengan seksama, " ada masalah apa sama mama?"
"Sebenarnya kak, aku sedang di skors, karena tidak sengaja ketahuan membolos, lalu guru BK memanggil mama, penuturan dari pak guru membuat mama marah dan tidak berhenti mengomel untuk itu aku belum pulang sampai sekarang." Jelas Tiara.
" Sesuatu penting apa yang membuatmu sampai membolos? Apa cowok tadi pacarmu? dan dia yang ngajakin kamu bolos?"
" Aish…mana ada aku pacaran kak, Kak Dio ini," ucap Tiara.
"Ceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi." pinta Dio.
"Biasa cuma urusan anak remaja, terkadang ada salah seorang guru yang tidak di sukai murid dan untuk menghindarinya, tidak ada pilihan lain selain membolos." jelas Tiara.
__ADS_1
Dio hanya mendesah mendengar ucapan Tiara, sungguh alasan yang tidak konsisten. Merugikan diri sendiri.
" Apa kau memiliki cerita dengan guru yang kau hindari tadi?" Pertanyaan Dio membuat Tiara mendongak.
" Tidak, bukan seperti itu."
"Ya sudah. Makananmu sudah habis ayo aku antarkan pulang,"
Setelah itu, Dio mengajak Tiara keluar dari kafe itu dan masuk ke dalam mobil untuk menuju rumah Tiara.
"Pakai seatbelt nya!" titah Dio.
Tiara hanya bisa pasrah, rencananya untuk tidak pulang malam ini gagal. Asal muasal Tiara kenal Dio ya dari mamanya itu, mama Dio adalah teman dekat dari mama Tiara sejak SMA. Pada saat di luar negeri Beberapa bulan yang lalu Tiara dan Dio bertemu di acara arisan mamanya.
Kebetulan saat itu mama Dio memintanya untuk tetap tinggal, dan menyambut para tamu arisannya itu, tujuannya tak lain adalah sekaligus untuk ajang perjodohan.
Dio melajukan mobilnya perlahan. Di sepanjang jalan Tiara begitu gusar, ia tidak punya nyali untuk menghadapi siraman rohani dadakan dari mamanya.
"Ra. Belok ke kanan dulu ya?" ucap Dio.
"Kenapa kak? bukankah rumahku belok ke kiri?"
" Hanya sebentar."
Tiara hanya bisa menurut, dia menatap fokus ke depan melihat jalanan, Tiba-tiba hujan turun sangat deras. Karena memang dari tadi sore langit sudah terlihat kilatan petir dan begitu gelap.Tiara merasa aneh, dengan jalanan di depannya. Semakin sepi dan hanya ada pohon-pohon besar yang dahannya terombang-ambing terkena tiupan angin.
"Kak, kita mau kemana? Kok semakin jauh dari rumah sih."
"Bentar lagi sampai, jangan berpikir terlalu keras."
" Sebenarnya kakak mau bawa aku kemana, ngapain kita ke sini kak? Awas aja kakak berbuat macem-macem," ancam Tiara.
"Enggaklah!" ini kan masih di jalanan, gak boleh di jadiin tempat buat macem-macemin kamu. Tidak berkelas banget."
" Maksud kakak, Kak Dio ada niatan buat macem-macemin aku gitu?" Tiara menerka geram.
lalu tiba-tiba..
bersambung.....
__ADS_1
Semangatin aku dong cukup like komen rate dan vote ya ❤️