Istrimu Adalah Pilihanku

Istrimu Adalah Pilihanku
IAP. 70


__ADS_3

Setelah menerima hembusan kabar buruk itu, hati Clara di selimuti rasa cemas, benarkah apa yang di katakan Aji padanya? bisa saja kan lelaki itu membual, toh selama ini memang kebiasaan Lelaki itu suka kepo dengan urusan orang lain.


Tapi untuk apa Aji berbohong padanya? bukankah urusan dengannya sudah selesai. untuk membuktikan ucapan Aji padanya, Clara berbegas bersiap, ia memesan taksi online untuk menuju alamat yang telah di berikan padanya tadi.


Di dalam taksi, Clara tak hentinya meyakinkan diri jika suaminya tidak akan melakukan hal yang di bicarakan Aji padanya. Ia menepis kemungkinan terburuk jika Rico menyelingkuhinya. Ia sangat menyakini bahwa Rico tidak akan mungkin berpaling darinya, mengingat Rico adalah lelaki yang dulu memujanya.


Tak terasa Clara sudah sampai di tempat tujuan, kakinya terayun cepat menuju kamar yang di maksud Aji tadi, matanya menangkap Aji yang sedang berada di resepsionis hotel.


"Awas aja kalau kamu bohong, nggak mungkin juga mas Rico nginep di sini, wong tadi dia pamit ke luar kota, aku sendiri yang melihat tiket pesawatnya dan tujuannya di kota x." kata Clara sambil terengah, langsung mengatakan itu saat tubuhnya sampai di hadapan Aji.


Aji tersenyum miring, ia puas melihat ekspresi cemas wanita di hadapannya, ia tak habis pikir wanita se seksoy Clara, bisa di selingkuhi oleh Rico, padahal bisa di bilang Tubuh Clara begitu nagih saat di atas ranjang, apa kurangnya wanita ini, sungguh Aji tak habis pikir dengan teman kerjanya itu. padahal lubang menuju hutan rimba itu juga bisa di katakan masih membuat candu.


"Ngapain aku bohong, harusnya kamu berterima kasih sama aku, kalau aku nggak lihat Rico, sampai kapan kamu akan di bodohi olehnya." ucap Aji enteng dengan masih menatap Clara dengan tatapan mesumnya.


Sebenarnya Clara risih di tatap begitu oleh Aji, tapi saat ini ia tidak mementingkan itu, ia ingin membuktikan ucapan dari mantan teman ranjangnya ini. Aji kemudian menatap ke arah resepsionis tersebut.


"Mbak, lihat daftar tamu, ada nama Rico Bagaskara nggak?!" perintah Aji dengan menatap tajam ke arah resepsionis itu, mendapatkan tatapan tajam dari pria di hadapannya, resepsionis tersebut hanya mampu mengangguk patuh. Kemudian ia mengetikkan sesuatu dan mengamati layar monitor di hadapannya.


"Penginap atas nama pak Rico Bagaskara, sudah memesan kamar dan cek in di hotel ini sejak tadi pagi pak, beberapa kali juga pak Rico memesan dan menginap di hotel kami pak, Bu!" 


Penuturan dari resepsionis tadi membulatkan mata Clara, bak di sambar petir, tubuh Clara mendadak lemas, dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Aji melihat tatapan kecewa dari Clara, namun ia pura-pura tidak peka.

__ADS_1


Tapi tunggu, bisa saja Rico Bagaskara yang lain, toh nama seperti itu banyak di kota besar dan negara lain. Clara mencoba menepis rasa kecewanya itu, sekuat tenaga ia berpikiran positif untuk suaminya, ia masih jelas membaca tujuan pesawat Rico tadi pagi, tidak mungkin suaminya itu main serong.


Tapi, lelaki mana yang tahan lama menyendiri tanpa menyentuh wanita? di pikir sudah lama juga Rico tak menyentuh dirinya kan?.


Aji menjentikkan jari di depan wajah Clara, seketika wanita itu tersadar akan lamunannya," di kamar berapa pak Rico menginap mbak, boleh nggak aku pinjem kunci cadangannya, aku mau memastikan itu suami saya atau bukan." kata Clara dengan lirih, hatinya begitu sakit jika memang nama Rico itu adalah suaminya yang tadi pagi pamit keluar kota malah main gila dengan cewek lain.


Tentu saja itu menjadi privasi pelanggan, resepsionis itu menolak dengan halus permintaan Clara, memberikan penjelasan bahwa tidak bisa memberikan accses card kepada orang lain seenaknya, kecuali untuk petugas servis room.


"Maaf sekali kak, kami tidak bisa memberikan sembarang accses card kepada orang lain, ini menyangkut kenyamanan dan peraturan serta privasi yang ditetapkan di hotel kami." kata resepsionis itu saat Clara mencoba lagi memaksanya memberikan card room padanya.


Aji tersenyum miring, lalu ia mencoba meminta lagi pada resepsionis itu dengan nada suara yang begitu menakutkan.


"Berikan saja accses card itu pada nona ini, lagian dia cuma ingin memastikan saja yang di dalam kamar itu suaminya atau tidak, kalau bukan ya bakal di balikin lagi!" 


"Segini kurang nggak?" Katanya dengan menatap tajam kedua resepsionis yang saat ini menunduk tidak berani menatap Aji.


Resepsionis itu menggeleng, menolak uang sogokan dari Aji, namun bukan Aji namanya jika tidak bisa melancarkan keinginan dan tujuannya.


"Kalian kenal bu Kimora? Atasan di hotel ini? Masih pada mau kerja kan kalian di sini, jangan sampai tak pencet nomor kimora dan nyuruh dia buat mecat kalian berdua!!" ucap Aji dengan nada santai namun membuat bulu kuduk kedua resepsionis itu meremang.


Clara merasa heran, mengapa Aji begitu percaya diri saat mengatakan itu, siapa Kimora? dan mana mungkin seorang atasan hotel tertarik padanya, di bilang ganteng nggak banget, gagah tidak sama sekali, seksoy apalagi, lalu apa yang di banggakan dari lelaki ini? Saat bermain dengannya di ranjang saja ia juga amat payah, tidak begitu memuaskannya. Lalu kehebatan apa yang Lelaki ini miliki??.

__ADS_1


"Aku punya kartu as si Kimora ini dia istri sahabat aku, aku tahu dia selingkuh dengan cowok lain, kalau aku kasih tau suaminya bakal kere mendadak dia." jelas Aji dengan berbisik di telinga Clara, melihat tatapan Clara tadi seolah lelaki ini paham makanya tanpa di minta lelaki itu menjelaskan.


"Maaf pak, tidak bisa." ucap resepsionis tadi kali ini dengan nada jengkel.


Aji merogoh ponselnya di saku celana, kemudian ia menelepon seseorang dengan santainya, dan menlospicer suara itu.


"Aji.." kata seseorang di seberang telepon sana.


"Kimora.." 


"Iya Aji ada apa?" 


Mendengar suara di telepon itu mata kedua  resepsionis itu membulat, tak ingin bernasib sial ia segera memberikan card room itu pada Aji, setelah ia menemukan kartu accses itu dari dalam laci.


"Nomor A 301 pak, lantai tiga," katanya dengan gugup dan pelan, Aji tersenyum bangga melihat kedua resepsionis itu ketakutan di buatnya.


Aji mengambil kartu accses card itu, dan menyodorkannya pada Clara "nih cari tahu sendiri sana, aku nggak mau lihat drama rumah tangga kalian yang pastinya membosankan!" ucap Aji angkuh seraya memberikan card room itu.


Tak terasa Clara sampai di depan kamar itu, dengan ragu ia pun membukanya tiba-tiba..


Bersambung…

__ADS_1


berikan dukungan jika kalian suka karyaku dengan cara like komen rate dan vote 😘


__ADS_2