Istrimu Adalah Pilihanku

Istrimu Adalah Pilihanku
IAP. 75.


__ADS_3

Setelah Seto keluar, di susul Arini dengan tampilan yang begitu berantakan, Ia berjalan sedikit malu saat pelayan itu masih berdiri tak jauh dari pintu kamar mandi. kini ia mengikuti langkah Seto yang ingin menuju ke pintu depan.


"mungkin tadi terlihat kasar, tapi kau harus menemukan kelembutan disisi lain." kata Seto sebelum masuk ke dalam mobilnya.


Arini mengangguk patuh, setelah Seto pergi Arini masih berpikir, apa yang dia lakukan salah? dan bagaimana dia memprovokasi Seto. Membuat suaminya sangat seram, Arini masuk ke dalam rumah, namun ia tidak memiliki mood sama sekali untuk bersantai di ruang keluarga seperti biasanya.


Hingga seiring berjalannya waktu, lebih dari jam lima sore, Seto meminta Bimo, untuk menolak jadwal pertemuan dengan klien dari kota b. ia ingin kembali lebih awal ke rumahnya.


"Tuan apakah anda ingin makan sekarang? semua telah siap." tanya salah seorang pelayan saat Seto telah sampai di rumahnya dan duduk di ruang tamu.


Seto membuka kancing atas kemeja, lalu ia melirik jam tangannya, dia bertanya dengan dingin. " Dimana Arini?" 


"Nyonya ada di kamarnya Tuan."


"Kalau begitu biar nanti Arini saja yang menyiapkan." pelayan itu kemudian mengangguk.


Arini turun bersama Alana yang saat ini mengenakan baju piyama dan sandal berbulu kecil, Arini melirik suaminya yang saat ini masih duduk sambil mengendurkan dasinya, wanita itu menyadari suasana hati Seto masih buruk saat ini.


"Papa," kata Arini seolah Alana yang menyapa.


"Putri papa yang cantik," Matanya beralih melirik ke arah Alana.


"Papa, apakah papa menunggu mama untuk menyiapkan makan malam?" Arini masih menirukan suara anak kecil, seolah Alana lah yang berbicara.


"Tidak," Seto menyangkal dengan wajah dingin.


"Benarkah, hmm sepertinya papa sudah makan malam nak," ucap Arini lagi mengadu pada Alana.


"Alana, mamamu sangat cerewet." ucap Seto juga mengadu pada Alana.


Seto kemudian meraih anaknya itu dalam gendongan, "mbak siapkan piring." Perintahnya pada pelayan.


🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


Clara masih merenung, dalam hatinya di penuhi pertanyaan, "apakah aku tidak seberharga itu, hingga orang yang sudah aku jatuhi hati tega mengkhianatiku? seburuk inikah diriku hingga mas Rico bertindak sesuka hatinya?"


Baru saja perasaan itu menghangat lagi, namun dengan seketika dijatuhkan lagi, luka yang di torehkan lebih sakit dari sebelumnya, sungguh Clara tidak mampu menerima kenyataan pahit ini.


Fase ini membuat pikiran Clara menjadi suram, ia memikirkan apakah sebaiknya ia kembali menjadi Clara yang tidak memakai hati, Clara yang selalu mengedepankan uang dan materi? itu jauh lebih baik bukan.. setidaknya kalau banyak uang patah hati tidak begitu terasa.


Clara sampai pada suatu titik dimana ia menyakini cinta itu hanya fatamorgana, semu, dan selalu berakhir dengan kesia-siaan. Ia mencoba untuk berdamai dengan keadaan, hanya keadaan! tidak untuk benar-benar memaafkan apa yang telah Rico lakukan padanya.


Persetan dengan cinta !


Clara memutuskan untuk bangkit dari keterpurukan, Ia harus bisa melupakan ini semua dan bangkit menjadi Clara yang seperti sediakala.


Ia bergegas menuju salon langganannya, tak butuh waktu lama ia telah sampai dan kedatangannya di sambut hangat oleh owner salon itu. setelah berbincang-bincang, Clara akhirnya melakukan perawatan yang ia inginkan. di mulai dari, hair mask untuk perawatan rambutnya, di lanjut perawatan wajah yaitu facial dan masker tak lupa ia mengompres wajahnya menggunakan air hangat.


Ia ingin kembali menjadi Clara yang mengedepankan kualitas dan tubuh seksoynya, terlalu fokus pada perawatan tubuh Clara sampai lupa jam sudah menunjukkan sore hari, ia dengan segera mengakhiri perawatan itu, tujuannya sekarang adalah ke butik langganannya juga.


Sementara itu Rico telah sampai di rumahnya dengan keadaan babak belur, walaupun semalam ia tak pulang untuk menghindari pertanyaan dari Clara tetap saja, bekas pukulan Seto masih sangat membekas jelas di kulitnya.


Sementara itu suasana hati Seto masih saja kurang baik, bukannya bertingkah kekanakan, ia hanya ingin tahu seberapa usaha Arini untuk melunakkan hatinya. saat ini ia sedang berada di ruangan yang sangat gelap merasa bosan Seto pun kembali ke kamar, hingga ia melihat sosok wanita yang membuatnya kesal sudah terbaring di ranjang.


Sebenarnya Seto ingin mengakhiri drama sikap dinginnya, namun Arini di rasa belum bisa membuatnya tenang. hingga pada saat Seto ikut merebahkan tubuhnya di ranjang, Arini pun menoleh rupanya wanita itu belum tidur, namun mereka hanya diam tak satupun dari mereka memulai percakapan, dari inisiatif mereka sendiri.


Suasana di kamar itu terasa canggung, Seto merebahkan tubuhnya dengan tenang, namun berbeda dengan Arini ia ingin sekali meminta maaf, ia sadar sikapnya sangat menyinggung perasaan suaminya itu.


"Sudah larut malam, tapi kau masih belum tidur apa kau tidak takut aku memangsamu?"  Seto menyipitkan matanya, mengamati manik mata yang ingin menyampaikan sesuatu itu, yang di penuhi dengan kegelisahan.


Seketika Arini merasa malu, ia telah tertangkap sedang ingin menyampaikan sesuatu.


"Aku…aku hanya ingin meminta maaf padamu mas."


Tiba-tiba Arini mendapatkan inspirasi, dia ada ide bagus, ia mencoba percaya diri, kemudian ia mengulurkan tangannya seraya berkata "ayo kita berjabat tangan dan mengakhiri drama es ini."


"Drama es?" Seto menatap telapak tangan itu.

__ADS_1


Arini mengangguk, kemudian Seto berkata "ikut aku."


Seto melepaskan baju atasannya, hingga memperlihatkan tubuh putih nan sempurna bahkan otot-ototnya terlihat sangat seksoy. sungguh terlihat sangat maskulin.


Masih menatap punggungnya, Arini masih tertegun, mau di ajak kemana dirinya? Melihat Arini tak bergeming dan masih menatapnya kemudian Seto menyipitkan matanya, "apakah aku sangat menarik?"


Arini terperanjat, " apa?" ia menyangkal pikiran nakalnya, kemudian ia menjelaskan "jangan salah paham, aku hanya melihat kulitmu sedikit kotor."


"Kalau begitu bersihkan kulitku."


Arini akhirnya mau tidak mau membersihkannya, walaupun sebenarnya kulit itu tidak kotor sama sekali, tapi tunggu tadi Seto ingin mengajaknya kemana?.


"Apa Rico masih mengganggumu? Menelfonmu?" Seto tiba-tiba menanyakan itu.


"Tidak "


"Menjauhlah darinya, karena aku tidak menyakukai itu." Seto melanjutkan kalimatnya dengan tenang.


Mata Seto sangat tajam menatapnya, seolah sangat tajam hingga dapat membakar Arini menjadi abu. 


Pikiran Arini kemudian tersadar, ia akhirnya mengangguk patuh dan tidak ingin mengulanginya lagi, sangat menakutkan melihat sikap Seto yang begini. 


Arini begitu tegang, jantungnya berdebar-debar, dia menyadari sikap Seto akibat sikapnya yang menyinggung lelaki ini.


Arini mengigit bibirnya, dengan sangat pelan ia mengusap kulit putih itu, gerakannya begitu lembut hingga membuat sesuatu yang sedang berada dalam kurungan mendadak bangun, Arini tidak menyadari bahwa gerakan tangannya membuat piton di bawah sana ingin segera memangsanya.


"Apa tubuhku terlihat seksi hingga kau sangat betah menggosoknya?" ucapan Seto kali ini menyadarkan Arini bahwa ia sedang di beri kode tidak aman berlama-lama dalam posisinya.


Bersambung….


terimakasih atas dukungannya terhadap karya saya yang recehan ini..


disini aku ingin sedikit menjelaskan, sebelumnya Seto itu tidak pernah merasakan cemburu sama sekali, karena sebelumnya dia tidak pernah mencintai wanita dengan serius, jadi untuk kasus Arini namanya juga orang cemburu selalu memiliki cara sendiri untuk mengekpresikannya..

__ADS_1


aku cinta kalian semua jadi berikan dukungan dengan cara like komen rate dan vote, serta yang belum jadiin kisah ini vavorit ayo jangan sungkan tekan gambar love ❤️


__ADS_2