
"Astaga mas, ayo bangun..tuh, Bimo sudah nunggu di depan." ucap Arini setelah ciuman panas mereka berakhir.
"Aduh.. mendadak aku pusing, mual, dan tidak enak badan." Seto memasang muka imut ketika mengatakannya.
"Jangan banyak alasan. Ayo bangun." Arini menarik selimut yang membalut tubuh Seto hingga dada telanjang Seto terlihat.
"Oke. susah juga bikin alasan buat pura-pura sakit, biar nggak berangkat kerja gitu." gerutu Seto dan mendapatkan gelak tawa dari Arini.
Setelah selesai mandi, Seto pun mengerutkan kening, istrinya sudah tidak berada di dalam kamar, namun segala persiapan ke kantor sudah di siapkan dengan rapi di atas ranjang.
"Kemana Arini, ah.. mungkin ke kamar Alana." kemudian Seto bergegas memakai kemeja berwarna putih yang telah di pilihkan Arini untuknya.
Saat hendak memakai celana, tiba-tiba saja pintu kamar terbuka, dan dugaan Seto benar adanya, kini Arini masuk dengan menggendong Alana yang sudah wangi dan terlihat habis mandi itu.
"Papa." sapa Arini yang menirukan suara anak kecil.
Seto menyelesaikan acara memakai baju dan celana, kemudian ia berjalan mendekati Arini yang telah mendudukkan Alana di atas ranjang, satu kecupan mendarat di pipi bulat Alana, Seto begitu gemas dengan putrinya ini, tak puas mencium pipi Alana ia beralih menggendong putrinya itu dengan menggelitiknya. hingga gadis kecil itu tertawa terkikik, "Sudah ya..nanti main lagi sama papa, sekarang papa harus ke kantor dulu." ucap Seto dengan menurunkan Alana dari gendongannya.
Seto teringat akan sesuatu, kemudian " ini kartu ATM buat kamu, kodenya hari jadi pernikahan kita. Belanjalah sesukamu Rin, dan jangan lupa belikan apapun kebutuhan untuk Alana." ucap Seto dengan menyodorkan kartu ATM berwarna hitam itu.
"Nggak usah mas, masih ada tabungan aku..cukup buat kebutuhanku dan Alana." Arini mencoba menolak kartu ATM yang di sodorkan padanya.
Namun tatapan Seto seketika berubah, Arini sadar apakah ucapannya menyinggung suaminya itu sedetik kemudian Seto berkata. " Kalau kamu nolak, siapa yang akan membantuku menghabiskan uangku..haha, kau ini Rin, bagaimanapun aku ini sekarang suamimu, sudah menjadi kewajiban bagiku menafkahi kalian."
__ADS_1
Hampir saja jantung Arini meloncat karena tatapan menakutkan dari Seto, akhirnya mau tidak mau Arini menerimanya, dan segera masukkan kartu ATM pemberian Seto kedalam dompetnya, melihat Arini menerima pemberiannya, Seto tersenyum sumringah bukankah sudah selayaknya suami menafkahi istri?.
Lalu Arini mengantarkan Seto untuk menuju ke halaman rumah, di sana Bimo sudah menunggunya sedari tadi. Arini menunggu sampai mobil itu keluar dari pekarangan rumahnya dengan di akhiri lambaian tangan dari mereka berdua.
Waktu terus bergulir, tak terasa hari ini adalah akhir pekan, Seto mengajak Arini dan putrinya untuk mengunjungi rumah mamanya, yang berarti mertua Arini dan nenek Alana.
Sebelum itu, Arini telah mempersiapkan masakan terbaiknya untuk di bawa ke rumah mertua, sudah semenjak menikah mereka belum juga ada kesempatan berkunjung, dan hari ini adalah kesempatan bagi mereka untuk itu tidak mungkin di sia-siakan.
Sesampainya di kediaman Permana, Arini dan Alana di sambut hangat oleh mama mertua, wanita paruh baya itu walaupun terlihat cerewet tapi dari ucapannya selalu mengkhawatirkan mereka bertiga, sungguh Arini sangat beruntung memiliki suami dan mertua yang sayang pada dirinya dan juga menyayangi Alana tentunya.
"Bagaimana Seto nak, apa dia merepotkanmu?" tanya ibu Septi yang tak lain adalah mertua Arini.
Arini tersenyum canggung, "alhamdullilah buk, mas Seto tidak pernah menyusahkan saya, saya sangat bersyukur memiliki suami seperti mas Seto yang sangat baik kepada saya dan Alana." jawab Arini dengan menata piring di meja makan.
Arini mengangguk, sungguh mertuanya ini sangatlah baik kepadanya. tiba-tiba dari belakang sosok yang di bicarakan datang dengan menggendong Alana. " Ngomongin aku terus." seketika suara itu mengundang gelak tawa dari kedua wanita yang masih sibuk mempersiapkan makan itu.
"Rin..mah, udah selesai belum? sampai kapan aku dan Alana harus menunggu? jangan sampai kami berdua kelaparan lalu pingsan, karena menunggu obrolan kalian selesai." Arini dan Bu Septi saling pandang dan mereka tertawa bersama, sungguh benar kata mertuanya itu Seto sangatlah menyebalkan.
"Sup iga, buatan istrimu enak sekali To." Bu Septi mencicipi hasil masakan Arini dan memujinya.
"Ya jelas, aku saja sampai nambah dua kali," Seto membanggakan hasil masakan istrinya itu.
"Arini memang pandai masak mah, jangan heran kalau aku sekarang jarang pulang mah, pas aku pulang badanku menjadi gemuk," Seto semakin membanggakan istri itu membuat wanita yang di puji wajahnya memerah karena tersipu.
__ADS_1
Setelah acara makan selesai, mereka semua berpindah ke ruang keluarga untuk menonton televisi, hingga satu jam kemudian Septi memutuskan untuk tidur dengan mengajak Alana bersamanya, badan Alana yang gemuk membuat siapapun gemas untuk mengajaknya.
Setelah Alana di ajak Omanya untuk tidur di kamar, Seto masih terlihat serius menyaksikan berita di televisi, namun beberapa menit kemudian " Sayang..mandi yuk, di kamarku dulu." ajak Seto ia langsung menggandeng tangan istrinya itu.
"Gerah banget, emangnya kamu nggak gerah?" tanya Seto dengan menggandeng tangan Arini untuk menaiki anak tangga.
Tangan Seto meraih hendle pintu kamar, setelah pintu itu terbuka isi kamar itupun terlihat, begitu rapi dan kamar khas laki-laki, banyak sekali buku yang tersusun rapi di rak, begitu juga beberapa barang Seto seperti bola basket, poster dan banyak lagi lainnya yang begitu tertata rapi di dalamnya.
"Aku juga gerah sih mas, tapi aku pikir nanti mandi di rumah saja." ucap Arini setelah mereka berdua masuk ke dalam kamar.
"Ayo mandi bareng." ucap Seto dan langsung menarik Arini untuk mengikutinya masuk ke dalam kamar mandi.
Tentu saja Arini menolak, ini di rumah mertuanya, dan Alana ada bersama mamanya, bagaimana nanti jika Alana tiba-tiba menangis? setelah di berikan penjelasan oleh Arini akhirnya Seto paham, kemudian Arini menunggu Seto selesai mandi dengan merebahkan tubuhnya ke kasur yang berbalut seprei berwarna blue itu. Mungkin karena efek lelah, Arini tidak sadar dirinya terlelap hingga tak terasa hari sudah sore, Arini di bangunkan Seto saat mereka hendak pulang ke rumah.
"Maaf ya mah, udah ngerepotin malah mama jagain Alana tadi." ucap Arini saat berpamitan kepada mertuanya, sungguh Arini begitu tidak enak hati, dirinya malah tidur sedangkan Alana di asuh oleh mama mertuanya.
"Nggak apa-apa, sering-seringlah ke mari, oh ya sepertinya Alana butuh adik," ucap mama seperti dengan tersenyum penuh maksud.
"Ide bagus mah." Kata Seto dan seketika membuat Arini melongo, sungguh mama dan anak satu ini kompak sekali.
Bersambung...
author udah update dua chapter loh ayo jangan pelit like komen rate dan vote karena semua itu gratis..
__ADS_1