Istrimu Adalah Pilihanku

Istrimu Adalah Pilihanku
IAP. 105.


__ADS_3

Arini dan Seto sedang berada di dalam mobil, setelah melewati hari Minggu kemarin dengan bahagia, Seto kini akan mengajaknya untuk ke dokter kandungan memeriksakan kehamilan Arini yang kini menginjak hampir delapan bulan.


Begitu bahagianya mereka yang tidak sabar menunggu kelahiran anaknya yang tentu saja akan menambah kebahagiaan karena mereka akan memiliki dua anak nantinya.


Kedua matanya berbinar setelah beberapa saat menempuh perjalanan, kini ia telah berada di ruang USG, dan sedang berbaring melihat gerak pertumbuhan janin yang terpampang jelas di layar monitor. senyuman melengkung jelas di wajahnya kala dokter mengatakan jenis kelamin anaknya adalah laki-laki.


Setelah mengetahui janinnya tumbuh dengan sehat dan dengan kejutan bonus mengetahui jenis kelaminnya, Seto mengajak Arini untuk pulang, setelah acara memeriksakan kandungan selesai, kini mereka berada di dalam mobil untuk melakukan perjalanan ke rumah.


"Mas.." Arini memanggil, menghadapkan sedikit wajahnya ke arah Seto yang sedang fokus menyetir mobil.


"Hmm..apa mah?" 


"Aku rindu bapak."  Arini melirik berharap Seto peka akan maksud ucapannya.


" Kita akan kesana nanti, tapi untuk sekarang banyaklah istirahat, apa kau lupa saran dari dokter tadi."  


Arini sedikit kecewa, namun ia mengiyakan, ia seakan melupakan apa yang di katakan dokter tadi padanya.


 Hening tiada percakapan, hingga pada akhirnya "Mas.." Arini memanggil lagi.


"Apa lagi mah?" 


Seto melirik kearah Arini sejenak, lalu terlihat ia menghela nafas " baiklah, kita akan ke rumah bapak sore ini." 


"Kita? berarti aku dan kamu mas?"


" Lalu siapa lagi memangnya?" seru Seto. Arini terkekeh, pertanyaan yang baru saja ia lontarkan memang konyol, lalu Seto hanya menggelengkan kepalanya.


"Jangan lupa nanti bawa buah anggur hijau kesukaan bapak." kata Arini lagi.


"Baiklah, nanti aku akan membelinya untuk bapak." Mendengar ucapan Seto, Arini tersenyum ia semakin tidak sabar mengunjungi ayahnya itu.


Seto memang sengaja ke kantor siang hari ini, sementara itu Bimo tengah di sibukkan mengurus beberapa file yang akan di tanda tangani oleh Seto.

__ADS_1


Setibanya di rumah Seto merebahkan dirinya di ranjang, lalu Arini menghampirinya dengan duduk di samping lelaki itu. " Kau tidak bekerja?" tegur Arini.


"Nanti saja.." saut Seto.


"Apa hari ini mas tidak sibuk?" Arini beranjak untuk mengambil air minum yang berada di atas nakas.


"Tidak mah, sini istirahat!" ucap Seto seraya menepuk bagian kosong di sampingnya dan Arini pun menurut.


 Seto pun terlelap, mungkin karena efek kecapaian jadi suaminya itu dengan mudah langsung tidur. Setengah jam kemudian Arini membangunkannya, Seto segera duduk dan gulingnya terjatuh ke lantai. Arini berjongkok untuk mengambilnya " pergi cuci muka mas."


"Hmmm." lalu Seto menuju ke kamar mandi.


Hampir setengah jam Seto bersiap, kini ia berpamitan kepada Arini dan tak lupa ia juga memberikan kecupan singkat kepada kedua wanita yang ia sayang, selain Maminya.


Di kantor.


Bimo sedari tadi masih sibuk, lalu ponselnya tiba-tiba berkedip. Itu adalah pesan dari Hana dengan senyuman bahagia Bimo menyempatkan diri untuk membaca pesan itu.


Namun setelah membacanya, Bimo mendesah meletakkan kembali benda pipih itu ke tempat semula, entah kenapa rasanya ia sangat tidak rela hana berpamitan padanya untuk menjemput neneknya di rumah cucu angkat yang tak lain adalah Angga.


Padahal Bimo kemarin menawarkan kepada Hana untuk mengijinkannya memberi penjelasan kepada nenek wanita itu untuk tidak mendesak ataupun memaksa Hana lagi, namun Hana jelas saja menolak dan karena Hana mengatakan demikian rasanya Bimo terlalu lemah untuk menolak.


"Masa iya, aku mau jadi perebut calon istri orang." gumam Bimo pelan.


Bimo melirik jam di tangannya, sudah hampir jam setengah sebelas siang, namun Seto belum juga datang ke kantor. rencananya Bimo akan meminta ijin kepada bos-nya itu untuk pulang cepat nanti tapi angan-angannya buyar saat Hana mengabari kalau dia akan pergi menjemput neneknya.


Ia menjambak rambutnya gemas, tidak mengerti akan apa yang ia rasakan saat ini. Di tambah ia telah mengetahui Hana telah memiliki calon suami dan orang itu adalah Angga seolah-olah membuat Bimo takut, lebih-lebih jika nanti ia tidak dapat mengontrol perasaannya dan berambisi merebut Hana.


Di waktu yang bersamaan


"uuuh..kepalaku berat sekali." ucap Rico memegang kepalanya, ia baru bangun tidur kemarin saat ia pingsan ia juga terbangun sendiri dalam keadaan yang semakin mengenaskan.


Kehangatan keluarga yang dulu ia rasakan kini telah lenyap dan hanya menjadi sebuah ilusi. Bahkan di saat ia sakit seperti sekarang tidak ada satupun yang merawatnya, ia begitu menyesal telah membuang wanita seperti Arini.

__ADS_1


Dia harus berganti pakaian, hari ini ia akan bertemu dengan salah seorang teman untuk Pembahasan menjual rumahnya, Rico bangun dengan sekuat tenaga, ia bergegas berjalan pelan ke kamar mandi berniat membersihkan tubuhnya itu agar kembali fresh.


Setelah beberapa saat Rico keluar lalu dengan tergesa memakai celana, karena gerakan terburu-buru itu ia menyenggol luka di kakinya yang terbungkus kain kasa, beberapa kali dan itu rasanya sangat menyakitkan.


Pada akhirnya luka itu merembes lagi dan mengeluarkan darah segar hingga membuat kain kasa itu nampak basah ada noda darah.


Akhirnya Rico mengobati lagi luka itu, setelah beberapa saat ia akhirnya berhasil membersihkan dan kembali menutup lukanya dengan perban. Ia harus segera menemui temannya, maka dari itu Rico segera bergegas meninggalkan rumah.


Saat ia sudah berhasil membuka pintu, ia sedikit terkejut karena saat ini seseorang sedang berdiri dengan tatapan garangnya.


"Hey..ada yang ingin aku katakan padamu." 


Rico mengerutkan kening, dasar tamu tidak sopan datang bukannya mengucapkan salam malah dengan songongnya berteriak kepada sang pemilik rumah, ya. Tamu itu adalah calon suami Clara yang beberapa hari lalu memukulinya.


"Bicara yang sopan! Aku adalah pemilik rumah jadi rendahkan nada bicaramu!" kata Rico ketus.


"Orang seperti dirimu tidak layak untuk aku sopani,"


"Apa tujuanmu kesini?!" 


Lelaki itu mengangkat alisnya, "bukankah kau mengatakan kemarin bahwa Clara adalah istrimu?"


"Ya. Dia masih istri siriku."


Lelaki itu semakin melebarkan senyumnya, membuat Rico berusaha keras membaca karakter lelaki yang berada di hadapannya..


"Kemarin aku memang sempat ingin menikahinya, namun sepertinya keinginan itu aku urungkan aku berpikir Clara adalah barang rusak yang sudah banyak di pakai dan aku berniat mengembalikannya padamu !"


"Apa maksudmu?!"


" Kemarin dia mengeluh sakit, dan aku membawanya ke rumah sakit untuk periksa dan hasilnya wanita itu mengidap kanker serviks, jelas saja aku tidak akan menyia-nyiakan hidupku untuk mengurusi wanita berpenyakitan seperti itu. Aku rasa kau sudah paham kan maksud ucapanku dan selamat siang!" setelah mengatakan demikian lelaki itu segera pergi tanpa menunggu balasan dari Rico.


Rico masih berdiri mematung ia masih mencerna kata-kata yang baru saja di dengarnya "Clara?? Sakit??" 

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2