Istrimu Adalah Pilihanku

Istrimu Adalah Pilihanku
IAP. 24.


__ADS_3

"Menyebalkan.. gara-gara aku manggil mami Baby Se bikin aku harus bohong kalau Baby Se klien dari Jepang. Sungguh kebohongan ini menyiksaku." decak Seto seraya jarinya menekan tombol enter di keyboard laptopnya.


Seto menarik nafas panjang, jarinya dengan lincah mengetik tanpa terpeleset sedikitpun. Lelaki itu masih tak berhenti mengomel pada dirinya sendiri karena perdebatan dengan maminya tadi. "Huft … untung saja mulutku ini gerak cepat mengatakan klien dari Jepang. Kalau tidak misi merebut istri orang bisa gagal."


Setelah dirasa cukup ia menyimpan semua ketikannya tadi di folder untuk di arsipkan. Seto mengendurkan dasinya, ruangan di kantornya memang dingin bahkan AC nya menyala namun karena pikiran paniknya menjadikan semuanya terasa gerah.


🌹🌹🌹🌹🌹


Siang harinya terlihat Arini sedang keluar dari rumahnya dengan membawa beberapa tenteng plastik di tangannya. Bimo memperhatikan itu matanya tajam memperhatikan setiap gerakan yang di lakukan Arini. Lelaki suruhan Seto itu tak mau ketinggalan jejak sedikitpun tentang wanita target bosnya itu, bisa-bisa nyawanya yang menjadi taruhan nanti.


Langkah Arini terhenti di sebuah kursi panjang yang berada di taman, wanita itu terlihat gelisah menunggu seseorang sepertinya. Bimo segera memakai topinya untuk mengelabuhi Arini jika ia sedang memperhatikan wanita itu.


"Hah..ngapain aku menutup diriku serapat ini, toh Arini tak mengenaliku." decak Bimo setelah menyadari apa yang ia lakukan.


Setelah menunggu beberapa menit seseorang yang di tunggu Arini datang, Bimo memperhatikan dengan serius, beberapa anak kecil mendekati Arini dan terlihat wanita itu menyerahkan kantong plastik yang ia bawa tadi. Sepertinya kantong itu berisi makanan dan anak kecil yang saat ini sedang berbicara kepada Arini adalah anak yatim yang hidup di jalanan terlihat pakaian mereka rusak dan kotor.


Bimo memasang telinganya, samar-samar ia mendengar anak itu mengucapkan terimakasih kepada Arini. Setelah itu mereka semua pergi dan arini melepas kepergian mereka dengan senyuman.


"Oh..Arini membagikan makanan gratis." tebak Bimo dengan manggut-manggut.


Tentu saja berita ini cepat sampai ke Seto. Lelaki itu nampak tersenyum membaca pesan yang di kirimkan Bimo kepadanya, " Baby Se ku." ucap Seto bangga.


Kemudian Seto membalas pesan Bimo.


[" Kamu kesini ke kantor x ada tugas buat kamu!"]~ Seto.


[" Lalu bagaimana dengan Arini Bos?"]~ Bimo


[" Tinggalin aja, nggak bakal di makan kucing kok,"]~ Seto dengan emot datar.


Pesan Seto itu di balas stiker ok oleh Bimo, tak ingin membuang waktu, Bimo segera menuju kantor x, meninggalkan Arini yang saat ini juga terlihat sedang berjalan pulang ke rumahnya.


Mobil yang di kendarai Bimo dengan cepat sampai di gedung perkantoran x, lelaki itu masih memasang wajah polos. Dirinya tidak tahu kalau Seto sedang ingin memberikan tugas banyak untuknya.


Setelah beberapa menit ia telah sampai di ruangan bosnya, melihat kedatangan Bimo Seto menyambutnya dengan menampilkan ekspresi wajah yang membuat Bimo merinding geli, sudah pasti ini ada udang di balik rengginang.

__ADS_1


"Bos memanggilku ke kantor ini kenapa ya..?"  tanya Bimo yang berdiri di depan meja Seto.


"Kamu lihat papan nama di meja ini?" 


Bimo mengangguk, seraya menatap papan nama di meja itu.


"Apa tulisannya?" tanya Seto dengan memainkan pena di tangannya.


"Direktur - utama." jawab Bimo tegas.


Seto mengangguk, membenarkan apa yang di ucapkan Bimo, seketika Bimo merasa sesuatu yang tidak enak, sejauh ini sepertinya dia tidak melakukan kesalahan, pikir lelaki itu.


"Mau tau rasanya menjadi direktur utama


?" tanya Seto lagi, membuat Bimo semakin merasa tidak enak.


"Maksud Bos Se..?"


Seto beranjak dari duduknya, ia menatap Bimo dengan masih tersenyum, "duduklah di kursi ku. Dan kerjakan tugas yang telah aku tulis di laptop itu dengan benar! Aku pergi dulu selesaikan sesuai jadwal,"


Kemudian Seto berjalan keluar meninggalkan Bimo yang masih mematung, seperkian detik kemudian ia tersadar, " menyebalkan, dasar bucin!" umpat Bimo dan segera duduk di kursi Seto.


Di tempat lain seorang lelaki sedang menunggu kedatangan wanita yang masih berhutang padanya atas jasa yang telah lakukan sebelumnya. Sambil meneguk sampanye lelaki berperut buncit itu sudah merasa tidak sabar.


Hari ini Clara janji akan menemuinya di tempat yang telah mereka janjikan. Saat suara ketukan pintu terdengar lelaki itu segera membukanya dan seseorang yang ia tunggu telah datang.


Tanpa berbasa-basi lelaki itu segera menarik tangan Clara, mendorongnya ke kasur namun wanita itu hanya pasrah. Tiada perlawanan karena ia juga menginginkannya.


"Kau cantik sekali sayang..," ucap pria berperut buncit itu.


Lelaki itu segera menciumi tubuh Clara yang masih terbalut dress berwarna merah menyala itu, belahan di dadanya begitu lebar hingga isi di dalamnya seakan ingin keluar.


Mata lelaki itu fokus menatap dua gundukan kenyal yang menyegarkan matanya, kini kedua pasang manusia itu telah menyatukan kedua bibirnya berbagi udara dengan nafas yang sudah terengah-engah.


Kedua jari pria itu telah m*nel*sup ke b*wah dan m*suk ked*l*mnya.  gerakan itu membuat Clara mengaduh nikmat beberapa des*h*n lolos dari bibir tebalnya.

__ADS_1


Lelaki itu terus memainkan di bawah sana, hingga menciptakan g*lay*r kenikmatan yang membuat Clara menggila, hingga gerakan itu telah membuat sesuatu di bawah sana basah.


Seperkian detik kemudian, pria itu kembali m*lum*t bibir Clara, dapat ia rasakan juga g*s*kan di b*wah sana.


"Akhhh" 


Sesuatu di bawah sana men*rob*s satu kali masih belum seluruhnya, kedua kali pria itu kembali men*kannya lebih d*lam dan.. 


"Akhhh"


Terbenam sempurna.


Seketika tubuh Clara men*gang, menerima sensasi yang di berikan pria itu. 


Awal mulanya gerakan itu membuatnya tidak nyaman, namun setelah beberapa kali hent*kan gerakan itu membuat matanya terpejam menikmati permainannya.


Kedua tangan lelaki itu tak lepas dari dua gundukan kenyal yang ia r*mas sedikit kencang seolah menjadi pegangannya, sedangkan di bawah sana ia sedang bekerja keras m*mom*a darah di tubuhnya secara sempurna.


Clara memeluk tubuh pria itu, mencoba menahan gerakan dari permainan luar biasa itu. Mencengkeram erat bahu pria itu karena di bawah sana terus mendominasi. Memberikan k*nikm*tan yang tiada Tara hingga suara di kamar menggema akan desah*nnya.


Pria itu terlihat menyerah karena lelah mungkin karena efek perut buncitnya, hingga ia mengakhirinya secara mendadak membuat Clara berhenti berekspresi.


"why..?" tanya Clara tidak terima.


"Gantian baby !" 


Tak ingin banyak bicara, karena Clara belum juga tuntas akhirnya kini beralih dirinya yang memimpin walaupun dalam hatinya ia mengutuki kepayahan pria yang sedang bersamanya.


Namun dering ponselnya mengusik, hingga ia mempercepat gerakan dan ingin segera mengakhirinya.


saat ia melihat nama si pemanggil seketika aura wajahnya memucat.


Bersambung........


hayo loh Clara berulah lagi..

__ADS_1


mas Rico apa kabar kalau tau ?


yuk jangan pelit like komen dan vote ya gengs 🥳🥳❤️


__ADS_2